Gerakan Sekolah Menyenangkan: Banyak Inovasi Pendidikan tapi Minim Dampak Belajar

Kompas.com - 08/04/2021, 16:18 WIB
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Mohammad Nur Rizal saat menjadi narasumber webinar Inovasi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa yang digelar Pusat Inovasi Administrasi Negara pada Kamis, 8 April 2021.

DOK. INOVASIPendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan, Mohammad Nur Rizal saat menjadi narasumber webinar Inovasi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa yang digelar Pusat Inovasi Administrasi Negara pada Kamis, 8 April 2021.

KOMPAS.com - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas Muhammad Nur Rizal menegaskan meski telah banyak dilakukan inovasi pendidikan namun hal ini belum memberikan dampak signifikan dalam pembelajaran siswa.

Pernyataan ini disampaikan Rizal saat menjadi narasumber webinar "Inovasi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa" yang digelar Pusat Inovasi Administrasi Negara pada Kamis, 8 April 2021.

Ada berbagai sebab inovasi pendidikan tersebut kurang berdampak, antara lain disebabkan karena kebijakan yang masih bersifat top down dan berbasis problematik, peta jalan pendidikan yang belum menjawab subtansi pendidikan, serta belum terjadinya perubahan mindset dan paradigma pendidikan.

Kebijakan top-down

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, mengungkapkan inisiatif yang selama ini berasal dari atas (top down) ternyata tidak optimal.

"Seperti yang dapat dilihat bahwa selama ini banyak upaya perbaikan pendidikan dari kebijakan pusat seperti Kurikulum 13, insentif guru, profesi guru, Sekolah Ramah Anak, Sekolah Adiwiyata, yang kita lihat hasilnya ternyata tidak menghasilkan efek langsung dalam solusi menghadapi era disrupsi," tegasnya.

Baca juga: BPIP Minta Kemendikbud Masukan Pancasila dalam Kurikulum

Selain itu Rizal juga mengungkapkan data di mana Indonesia masih masuk sebagai salah satu negara dengan peringkat hasil PISA terendah dengan skor PISA yang stagnan dalam 10-15 tahun terakhir.

"Perundungan masih banyak terjadi sekitar 41 persen siswa dibandingkan dengan negara-negara OECD hanya sebesar 23 persen," ungkapnya.

Ia menambahkan, "pola pikir siswa Indonesia untuk berkembang terbilang cukup rendah sebesar 29% dibandingkan dengan negara-negara OECD sebesar 63 persen."

Ditambah pula, lanjutnya, angka ICOR Indonesia berada di angka paling tinggi di negara ASEAN, yaitu 6,5, yang menandakan biaya investasi Indonesia yang boros.

"Data ini menunjukkan ketidakefektifan inisiatif kebijakan yang dihasilkan selama ini dalam menjawab permasalahan, tantangan dan ancaman yang terjadi di masa depan, bahkan masa kini," kata Rizal lebih lanjut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X