Kompas.com - 16/04/2021, 11:37 WIB
Ilustrasi cabai rawit. PIXABAY/CEGOHIlustrasi cabai rawit.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Alumnus Fakultas Pertanian UGM Angkatan 2014, Pulung Widi Handoko membagikan kiat sukses menjadi petani cabai dengan omzet bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Pulung merupakan petani cabai dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Baca juga: Dosen UGM: Pengguna Medsos Harus Lawan Ujaran Kebencian

Untuk membudidayakan cabai dengan baik, dia mengaku, ada beberapa hal yang harus dilakukan, khususnya bagi mahasiswa yang ingin menjadi petani cabe milenial.

Langkah pertama, yakni pemilihan lahan dan ketersediaan air.

Setelah itu, pengolahan tanah juga penting, seperti pembersihan sisa tanaman atau gulma, pembuatan bedengan, pengapuran, pemupukan dasar, dan penutupan mulsa.

Langkah selanjutnya, yakni pemilihan varietas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pemilihan varietas, pastinya yang diterima pasar, mempunyai produktivitas tinggi, sesuai kondisi lahan, mempunyai keunggulan toleran terhadap OPT tertentu," kata dia melansir laman UGM, Jumat (16/4/2021).

Kemudian, kata dia, harus memperhatikan waktu tanam cabai.

"Perhatikan juga lahan kering atau tegalan penanaman pada awal musim penghujan, lahan sawah bekas padi pada akhir musim penghujan," sebut dia.

Baca juga: Mahasiswa USK Turunkan Gula Darah Lewat Teh

Dia menegaskan, biasanya pada musim hujan, sebaiknya menanam pada jarak yang lebih lebar misalnya 40 x 45cm, atau 50cm x 60cm.

Hal itu dilakukan agar sinar matahari lebih banyak masuk dan mudah untuk melakukan penyemprotan.

"Penguatan bibit cabai juga harus diperhatikan, penanaman lebih baik dilakukan pada sore hari karena intensitas matahari tidak terlalu tinggi agar lebih survive," jelas dia.

Harus fokus pada pemeliharaan

Menurut Pulung, hal lain yang penting adalah berkaitan dengan pemeliharaan, karena semua orang bisa menanam cabai, tapi tidak semua orang bisa memelihara dengan baik.

"Pemeliharaan meliputi sanitasi atau kebersihan (jaga kebersihan lahan, air, tanaman, perkakas yang digunakan), pengamatan (perlu tidaknya pemupukan, serangan OPT, dan kebutuhan air), aksi atau tindakan dan evaluasi," tutur dia.

Pada saat cabai mahal, lanjut dia, orang cenderung untuk ikut menanam agar bisa mendapatkan harga mahal.

Hal ini harus dihindari karena beberapa bulan kemudian harganya akan mulai turun.

Oleh karena itu, sebagai petani harus bisa melihat peluang panen cabai untuk mendapat harga tinggi.

Yakni, dengan cara harus bisa melihat pertanaman cabai daerah lain (mapping), untuk sentra produksi cabai rawit berada di Jawa Timur.

Baca juga: Pakar IPB: Tumbuhan Ini Berkhasiat Anti Kanker dan Turunkan Gula Darah

"Jikalau produksi cabai di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Kita harus tahu daerah lain menanam cabai di bulan apa dan kita bisa melihat peluang untuk menanam cabai dari hal tersebut," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.