Kompas.com - 01/06/2021, 11:20 WIB
Webinar digelar Tanoto Foundation bertajuk Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam Mengatasi Learning Loss yang diselenggarakan Senin 31 Mei 2021. DOK. TANOTO FOUNDATIONWebinar digelar Tanoto Foundation bertajuk Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam Mengatasi Learning Loss yang diselenggarakan Senin 31 Mei 2021.

KOMPAS.com - Learning loss atau kehilangan pembelajaran sebagai dampak masa pandemi global Covid-19 menjadi isu sentral dunia pendidikan yang perlu segera mendapatkan solusi dari berbagi pemangku kepentingan.

Data resmi UNICEF (September 2020) menunjuk angka 31 persen atau 463 juta anak sekolah di seluruh dunia tidak dapat dijangkau kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis siaran dan internet baik karena kurangnya aset teknologi yang diperlukan di rumah.

Secara global, 3 dari 4 siswa yang tidak terjangkau oleh kebijakan pembelajaran jarak jauh berasal dari daerah pedesaan dan/atau dari rumah tangga termiskin.

Di Indonesia sendiri diperkirakan 33 ribu siswa SD putus sekolah dan 1,2 juta siswa belum mendapatkan akses pendidikan yang layak karena imbas dari pembelajaran jarak jauh yang berkepanjangan.

Mendesaknya mitigasi guna mengurangi dampak learning loss ini mengemuka dalam webinar yang digelar Tanoto Foundation bertajuk "Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam Mengatasi Learning Loss" yang diselenggarakan Senin 31 Mei 2021.

Baca juga: Setahun Pembelajaran Daring, Benarkah Terjadi Learning Loss?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mendesak kebijakan mitigasi learning loss

Prof. Mahdum PhD, Dekan FKIP Universitas Riau dalam kesempatan tersebut mendefinisikan 
learning loss sebagai kondisi hilangnya atau menurunnya kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik yang diakibatkan terhentinya proses pembelajaran atau proses belajar yang tidak bermakna.

Menurut Mahdum, menurunnya kompetensi tersebut perlu diatasi dengan merevisi kurikulum yang berfokus pada kompetensi literasi dan numerasi, penilaian berbasis siswa, serta efektifitas pelaksanaan belajar dari rumah melalui peningkatan kepedulian orang tua siswa dan guru.

“Sinergitas antara dinas pendidikan, Kemenag, LPMP, PGRI, LPTK, dan lembaga filantropi serta organisasi penggerak pendidikan diyakini bisa memperkecil resiko dari penurunan learning loss,” tambahnya.

Dalam kesempatan sama, Praptono, Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru Kemendikbud Ristek menyebut pemerintah berkomitmen menyelenggarakan pembukaan sekolah tatap muka terbatas pada Juli 2021, sebagai salah satu upaya mengatasi learning loss.

Pembukaan sekolah, tegasnya, tidak akan dalam bentuk massal, melainkan bertahap, dan memaksimalkan sosialisasi.

“Pembukaan sekolah tetap melaksanakan protokol kesehatan untuk menciptakan proses pembelajaran tatap muka yang aman bagi anak,” kata Praptono.

Kebutuhan terlaksananya pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sudah tidak bisa ditunda lagi.

Survei Kemendikbudristek menunjukkan sekitar 64 persen orangtua berharap anak dapat kembali ke sekolah, dan 52 persen guru berharap pembelajaran kembali normal.

"Bahkan 85 persen negara di Asia Pasifik sudah melakukan PTM terbatas. Indonesia salah satu negara yang belum sepenuhnya melakukan PTM terbatas, jadi ini merupakan hal yang harus diutamakan," jelas Praptono.

Solusi lewat pembelajaran bermakna

Untuk mengurangi terjadinya learning loss, Golda Simatupang, spesialis pendidikan Tanoto Foundation mendorong sekolah menerapkan pembelajaran bermakna yang mendorong siswa lebih banyak mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi atau MIKiR.

Survei Tanoto Foundation pada 2.218 siswa di 454 sekolah mitra menunjukan sekitar 48,3 persen siswa senang belajar dari rumah.

Alasannnya, 41 persen siswa menyebut pembelajarannya menarik dan menyenangkan, sedangkan 31 persen siswa mengaku mendapat pengalaman belajar yang bermakna.

"Jika MIKiR sudah terlaksana dengan baik maka akan timbul kemandirian belajar sehingga siswa makin terdorong untuk belajar karena minatnya bukan karena disuruh guru. Secara tidak langsung hal tersebut dapat mengatasi masalah learning loss yang muncul selama pandemi," jelas Golda.

Tanoto Foundation juga tengah mendesain pelatihan dengan untuk menanggulangi learning loss.

“Kami menyiapkan pelatihan untuk 840 fasilitator melakukan assessmen diagnostik pada saat PTM terbatas dimulai. Mereka dilatih untuk mengetahui level kemampuan siswa atau tingkat learning loss selama pandemi dan upaya untuk mengatasinya,” kata Golda lagi.

Baca juga: PJJ Berkepanjangan, Pengamat Pendidikan UGM Khawatirkan Learning Loss

Adrison Yarnis, Kepala SMP As Shofa, Pekanbaru, Riau meyakini PJJ yang dilaksanakan secara efektif dapat mengurangi dampak learning loss. Hal itu yang dilakukan sekolahnya dalam memberikan pembelajaran bermakna kepada siswanya.

Selain memanfaatkan aplikasi WhatsApp, Google Classroom, Zoom, dan beberapa aplikasi pembelajaran, sekolahnya juga membuat portal pembelajaran berbasis learning management system. Tujuannya agar siswa dapat belajar layaknya tatap muka di sekolah.

"Adanya sistem absensi, jam belajar terjadwal mulai pukul 07.00-15.30 seperti ketika belajar tatap muka, serta pembelajaran bervariasi dan kegiatan ekstrakurikuler dari rumah yang menyenangkan dan didampingi, membuat siswa tetap termotivasi untuk belajar," kata Adrison.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.