KILAS

Guru Besar UPI: Perguruan Tinggi Harus Berani Ubah Pendidikan Kewirausahaan Jadi Digitalpreneur

Kompas.com - 08/06/2021, 10:59 WIB
Potret Guru Besar Pendidikan Kewirausahaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Hari Mulyadi, M.Si Dok. Humas Universitas Pendidikan IndonesiaPotret Guru Besar Pendidikan Kewirausahaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Hari Mulyadi, M.Si

KOMPAS.com – Guru Besar Pendidikan Kewirausahaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Hari Mulyadi M.Si mengatakan, pendidikan kewirausahaan yang diterapkan di perguruan tinggi masih belum memanfaatkan teknologi digital.

Perguruan Tinggi harus berani mengubah pendidikan kewirausahaan untuk membentuk digital entrepreneur (digitalpreneur) di kalangan mahasiswa tanpa memandang bidang ilmu yang dipelajarinya,” tutur Hari dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (8/6/2021).

Ia menjelaskan, istilah digitalpreneur memang belum populer di kalangan masyarakat dan pebisnis.

“Digitalpreneur sendiri memiliki arti yang kurang lebih, yaitu pelaku usaha yang menggunakan alat usahanya adalah segala sesuatu yang berbau digital,” jelasnya.

Baca juga: Alumnus IPB Ini Bangun Start Up demi Sekolahkan Seribu Pelajar

Hari melanjutkan, wirausaha digital adalah individu yang menciptakan dan menyampaikan aktivitas dan fungsi bisnis utama, seperti produksi, pemasaran, distribusi, dan manajemen pemangku kepentingan, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, teknologi internet.

Menurut Guru Besar UPI itu, meskipun mahasiswa sekarang tidak termasuk golongan gagap teknologi (gaptek), tapi kepandaian yang mereka miliki di bidang teknologi belum dimanfaatkan untuk menjadi enterpreneur atau wirausahawan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, kata dia, wirausaha memiliki peran untuk menentukan kemajuan suatu bangsa.

Ia menyebutkan, kewirausahaan merupakan faktor penting yang berkontribusi pada kemakmuran negara, yakni mendorong munculnya usaha baru dan membatu memperluas lapangan kerja.

Baca juga: Alumni LPDP Bikin Start Up Berbagi Listrik di Daerah Terpencil

“Ketentuan ideal jumlah wirausaha yang dibutuhkan oleh negara mencapai kemakmuran menurut McClelland (1961) adalah sebanyak 2 persen dari jumlah populasi penduduknya,” tutur Hari.

Ia mengatakan, pada 2014 rasio entrepreneurship di Tanah Air baru 1,55 persen, kemudian meningkat menjadi 1,65 pada 2016, lalu hingga akhir 2017 mencapai lebih dari 3,1 persen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.