Kompas.com - 01/09/2021, 10:55 WIB
Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, dalam talk shiw Radio Sonora FM bertajuk Peran Transformasi Perpustakaan Dalam Pemulihan Ekonomi?, pada Selasa, (31/09/2021). DOK. PERPUSNASKepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, dalam talk shiw Radio Sonora FM bertajuk Peran Transformasi Perpustakaan Dalam Pemulihan Ekonomi?, pada Selasa, (31/09/2021).

KOMPAS.com - Perpustakaan tidak boleh menjadi menara gading, eksklusif dan dogmatis. Sebaliknya, perpustakaan harus didorong harus mampu menjangkau masyarakat, termasuk dengan mendigitalisasi konten dan koleksinya.

Pesan ini disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, dalam talk shiw Radio Sonora FM bertajuk "Peran Transformasi Perpustakaan Dalam Pemulihan Ekonomi’, pada Selasa, (31/09/2021).

“Saat ini paradigma perpustakaan telah mengubah peran dan fungsi perpustakaan. Peran fungsi perpustakaan mengurusi koleksi hanya tertinggal 10 persen, sisanya lebih mengedepankan peran melakukan transfer klowledge ke masyarakat," ungkap Syarif Bando.

"Jadi, perpustakaan sudah lama mati kalau dia masih bersikap ekslusif. Dia harus inklusif,” tegasnya.

Alhasil, ketika perpustakaan turun ke masyarakat, mengenali segenap keseharian masyarakat, maka perpustakaan akan menemukan begitu banyak masalah. Dari situ diketahui bahwa kebutuhan masyarakat kepada akses perpustakaan sangatlah besar.

Paradigma yang kini dibawa Perpusnas adalah bagaimana masyarakat memahami literasi. Syarif Bando mengatakan literasi memiliki empat tingkatan, dimulai dari kemampuan baca, tulis, hitung dan pembangunan karakter, aksesibilitas terhadap bahan bacaan terbaru, terpercaya dan menjadi solusi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Yang kedua memahami makna tersirat dari yang tersurat. Ketiga memiliki kemampuan berinovasi atau kreativitas. Dan tingkatan akhir literasi adalah kemampuan menghasilkan barang/jasa yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Itu artinya, masyarakat membutuhkan sarana perpustakaan mengubah kualitas hidupnya. Dari barang dan jasa yang dihasilkan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidupnya,” jelas Syarif Bando.

Baca juga: Bicara Literasi Digital Buat Perempuan, Dian Sastrowardoyo Memanfaatkannya untuk Jadi Sutradara

Peran perpustakaan di masa pandemi

Apalagi di tengah kondisi pandemi, di mana kurang lebih 20 juta masyarakat Indonesia merasakan dampak langsung Covid-19. Tidak ada jalan lain. Mereka harus memiliki skill untuk melakukan sesuatu.

Itu artinya, jutaan orang membutuhkan asupan ilmu terapan, dan perpustakaan menyediakan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.