Kompas.com - 16/09/2021, 13:24 WIB
Nadiem Makarim dalam sambutan Pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 yang telah berjalan sejak Oktober 2021 dan selesai pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021. Dok. Kemendikbud RistekNadiem Makarim dalam sambutan Pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 yang telah berjalan sejak Oktober 2021 dan selesai pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021.

KOMPAS.com - Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Iwan Syahril mengatakan sebanyak 2.395 guru dinyatakan lulus Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1. Kini, Indonesia resmi memiliki guru penggerak yang diharapkan mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang semakin merdeka.

Iwan menjelaskan, Calon Guru Penggerak tersebut lulus dengan beragam predikat. Sebesar 94,84 persen lulus dengan predikat amat baik, predikat baik sebesar 4,33 persen, predikat cukup sebesar 0,58 persen, predikat sedang sebesar 0,12 persen, dan predikat kurang sebesar 0,12 persen.

“Calon Guru Penggerak yang lulus dengan berbagai predikat tersebut berjumlah 2.395 dan yang tidak lulus berjumlah 6 orang CGP. Selamat kepada yang telah lulus dari pendidikan Guru Penggerak,” katanya seperti dirangkum dari laman Kemendikbud Ristek, Kamis (16/9/2021).

Baca juga: 5 Negara Paling Santai di Dunia, Indonesia Peringkat Pertama

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim secara resmi menutup Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1.

Dalam sambutannya, Menteri Nadiem menyampaikan bahwa hari ini adalah momentum bersejarah bagi dunia pendidikan karena kini Indonesia sudah memiliki Guru Penggerak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Harapannya, ke depan, para guru tidak pernah ragu menggerakkan perubahan dan menghadirkan terobosan untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang merdeka.

“Saya ucapkan selamat kepada Ibu dan Bapak atas keberhasilannya menjadi Guru Penggerak. Dengan ini secara resmi saya tutup program pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1. Mari kita semua terus semangat menjadi pemimpin dan penggerak Merdeka Belajar,” ucapnya dalam sambutan Pelaksanaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1 yang telah berjalan sejak Oktober 2021 dan selesai pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021.

Lebih lanjut, Nadiem menyampaikan bahwa setiap bertemu dengan Guru Penggerak di berbagai wilayah Indonesia, selalu ada benang merah yang sama.

Baca juga: Nadiem Tinjau PTM Terbatas, Siswa: Lebih Asyik Belajar di Sekolah

Kesimpulannya, ada keresahan dan keinginan besar dalam diri para guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi peserta didik. Ia merasakan setiap kali berdiskusi dengan Guru Penggerak, ada naluri perubahan yang begitu besar dan telah tumbuh sejak lama.

“Sekarang mereka diberi kemampuan dan kewenangan untuk melakukan perubahan sebagai pemimpin pendidikan. Semangat itulah yang harus kita bangun bersama,” katanya.

Nadiem berharap para Guru Penggerak Angkatan 1 dapat membentuk komunitas di daerahnya masing-masing.

“Kuncinya ada di komunitas. Anda akan menemukan kekuatan dalam kelompok, gotong-royong, kolaborasi, dan koneksi dengan guru-guru penggerak lainnya. Komunitas ini yang menjadi rumah bagi Guru Penggerak untuk saling berdiskusi dan belajar dan berbagi inspirasi satu sama lain. Dengan begitu, para Guru Penggerak di Indonesia akan menjadi satu keluarga dengan satu tekad bersama, dalam mewujudkan cita-cita Merdeka Belajar,” jelasnya.

Testimoni Guru Penggerak Angkatan 1

Luh Muniarsih, guru asal Kota Malang mengungkapkan rasa haru dan takjubnya karena berhasil melewati perjalanan panjang selama 9 bulan mengikuti PGP. Begitupun dengan Erniwati, guru asal Kabupaten Polewali Mandar.

“Kesan saya dengan program Guru Penggerak ini luar biasa, ini program yang berbeda, terkonsep, ada kurikulum, modul, pendamping, LMS, lokakarya, semua benar-benar direncanakan dan dijalankan secara matang dan terstruktur,” katanya.

Jessica Hostiadi, guru dari Kabupaten Bogor mengatakan bahwa dampak yang paling terasa baginya adalah munculnya harapan bahwa pendidikan Indonesia akan berubah lebih baik dengan tidak memaksakan anak tetapi menemukan bakat dan minat yang terbaik bagi anak didik.

Hal serupa juga dikatakan Wiji Utomo asal Kabupaten Cilacap.

“(Metode pembelajaran yang ditawarkan) Lebih menarik dan bervariasi, saya jadi bisa mengombinasikan kecanggihan teknologi untuk pembelajaran, saya ingin sekali mengaplikasikan apa yang saya peroleh,” ucapnya bersemangat.

Antusias yang sama turut dirasakan I Ketut Budiarsa, guru asal Kota Denpasar.

“Perubahan yang akan saya lakukan yaitu perubahan mulai dari diri dan lingkungan tempat bertugas, memberi pelayanan yang berpihak pada murid, menjalin kolaborasi dengan berbagai praktisi untuk menciptakan ekosistem yang baik serta menjadi guru penggerak yang selalu belajar dan berbagi, bergerak bersama,” tekadnya.

“Saya akan mengajak teman-teman untuk mengikuti pendidikan Guru Penggerak ini, karena banyak ilmu yang didapatkan dan apa yang sudah didapatkan akan saya berikan yang terbaik kepada murid saya,” tutur Bahriah, guru asal Kabupaten Penajam Paser Utara penuh keyakinan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.