Kompas.com - 01/12/2021, 16:30 WIB
Himpunan Mahasiswa Profesi Teknik Kimia (HMPTK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (FT Unnes) berhasil memanfaatkan limbah mangrove ternyata bisa menjadi pewarnaan batik alami.
Tangkap layar laman UnnesHimpunan Mahasiswa Profesi Teknik Kimia (HMPTK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (FT Unnes) berhasil memanfaatkan limbah mangrove ternyata bisa menjadi pewarnaan batik alami.
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Batik merupakan kain hias nusantara yang sudah ada sejak dulu. Karena keunikannya, batik juga sudah ditetapkan Unesco menjadi telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Batik dibuat dengan cara melukis kain menggunakan canting dan cairan lilin malam sehingga membentuk lukisan bernilai seni tinggi.

Hingga saat ini batik terus diproduksi. Untuk pewarnaannya, batik ada yang menggunakan pewarna alami dan pewarna sintetis. 

Pewarna batik alami biasanya menggunakan soga, indigo, kunyit, daun mangga hingga kulit manggis.

Baca juga: Anak Usaha Kimia Farma Buka Lowongan Kerja bagi Lulusan D3, Yuk Daftar

Manfaatkan limbah mangrove jadi pewarna batik

Namun Himpunan Mahasiswa Profesi Teknik Kimia (HMPTK) Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (FT Unnes) berhasil memanfaatkan limbah mangrove bisa menjadi bahan pewarna batik alami.

Temuan Himpunan Mahasiswa Profesi Teknik Kimia FT Unnes ini berhasil menerima dana hibah Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) tahun 2021 dari Kemendikbud Ristek.

Ketua HMPTK Tasya Larasati Dwi mengatakan, pemanfaatan limbah mangrove ini dilatarbelakangi banyaknya serasah dari mangrove yang berserakan.

Seperti daun dan buah yang jatuh dari pohon, tanaman mangrove yang mati, kotornya lahan penanaman khususnya di wilayah Ekowisata Mangrove Kelurahan Manginharjo, Tugu, Semarang.

"Untuk meminimalisasi sampah tersebut, kami dari HMPTK berinisiatif untuk menjadikan sampah tersebut menjadi menjadi pewarna alami yang nantinya akan digunakan dalam pewarnaan batik dari motif batik cap Mangrove UMKM Srikandi, Mangunharjo, Tugu Semarang," terang Ketua HMPTK Tasya seperti dikutip dari laman Unnes, Rabu (1/12/2021).

Baca juga: Calon Mahasiswa, Ini 10 Alasan Memilih Jurusan Desain Produk

Raih rekor dari LEPRID

Tak hanya berhasil meraih hibah dari Kemendikbud Ristek, Himpunan Mahasiswa Profesi Teknik Kimia juga berhasil meraih rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) yakni membatik cap motif alam dengan pewarna alam dari limbah mangrove.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.