Kompas.com - 10/03/2022, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Masyarakat yang terpapar Covid-19 mengalami gejala berbeda-beda. Ada yang tanpa gejala, tetapi ada juga yang menunjukkan gejala ringan, sedang hingga berat.

Bagi kasus tanpa gejala dan gejala ringan dianjurkan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah atau shelter yang tersedia.

Tetapi bagi yang menunjukkan gejala sedang hingga berat tentu harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Selain itu pasien juga harus mengonsumsi obat-obatan khusus bagi penderita Covid-19 agar kondisinya lekas membaik. Salah satu obat yang digunakan adalah Favipiravir.

Baca juga: BUMN Rajawali Nusindo Buka Lowongan Kerja bagi D3, Buruan Daftar

Video kuku penyintas Covid-19 yang menyala

Merangkum dari berbagai sumber, obat Favipiravir dinilai dapat membantu mengatasi infeksi virus corona atau mencegah tingkat keparahan akibat paparan virus SARS-CoV-2. Uji coba tentang keamanan dan kemanjuran Favipiravir sebagai obat potensial Covid-19 hingga saat ini terus diperbarui.

Terkait konsumsi Favipiravir, baru-baru ini jagat maya dihebohkan video terkait kuku penyintas Covid-19 yang menyala saat diberi sinar Ultraviolet (UV). Hal itu digadang-gadang karena penyintas Covid-19 mengonsumsi Favipiravir.

Menanggapi video tersebut, dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, dan Kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) dr. Anton Sony Wibowo meminta masyarakat agar tidak langsung percaya dengan postingan maupun pesan yang beredar terkait flouresensi pada kuku maupun rambut manusia karena mengonsumsi Favipiravir.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Pakar Unpad: Perlu Waspadai Mafia Pangan

Masyarakat diimbau untuk mencari dan memastikan informasi ke sumber yang resmi dan kredibel.

Belum ditemukan fenomena flouresensi

Anton menyebutkan secara klinis di rumah sakit belum pernah menemukan fenomena flouresensi atau terpancarnya sinar oleh suatu zat yang telah menyerap sinar atau radiasi elektromagnet lain pada kuku atau rambut manusia akibat mengonsumsi obat Favipiravir.

Dari hasil literatur review yang dilakukan, ditemukan ada laporan satu kali oleh Ozunal dan Guder (2021), di salah satu jurnal dalam bentuk laporan kasus (case report).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.