Kompas.com - 27/04/2022, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Mahasiswa jurusan pendidikan matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Maghfiroh Izza Maulani menceritakan pengalamannya saat mengajar di SDN Bringin 1 Srumbung, Magelang, Jawa Tengah.

Kegiatan mengajarnya tersebut merupakan bagian dari program Kampus Mengajar yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Kampus Mengajar merupakan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa belajar dan mengembangkan diri melalui aktivitas di luar kelas perkuliahan.

Program ini merupakan transformasi dari Program Kampus Mengajar Perintis yang bertujuan untuk memberikan solusi bagi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terdampak pandemi dengan memberdayakan para mahasiswa untuk membantu para guru dan kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Ikut Kampus Mengajar Angkatan 2, Mahasiswa Dapat Rp 1,2 Juta Per Bulan

Izza bercerita bahwa bertemu dan dapat merasakan belajar sekaligus bermain bersama anak anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Baginya, mengajar merupakan panggilan hati.

“Bertemu dan dapat merasakan belajar sekaligus bermain bersama anak anak adalah kegiatan yang menyenangkan dan memiliki rasa greget yang berbeda,” tuturnya seperti dilansir dari laman UNY.

Bertemu dengan beragam kepribadian, beragam kemampuan membuat Izza merasa belajar banyak hal.

Gampang-gampang susah

Sesuai dengan pendidikannya yaitu matematika, Izza mengaku bahwa mengajarkan matematika untuk anak sekolah dasar itu gampang-gampang susah, karena menurutnya, walaupun materinya tergolong sederhana namun salah konsep sedikit saja akan berimbas bagi pendidikan setelahnya.

Baca juga: BCA Buka Magang Bakti 1 Tahun Lulusan SMA-SMK dan D1-S1, Segera Daftar

Warga Tersan Gede, Salam, Magelang itu berkisah bahwa dia ditugaskan mengajar AKM Numerasi pada siswa kelas IV SD, yaitu mengenalkan apa yang dimaksud dengan bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif yang merupakan hal baru untuk siswa.

“Sebenarnya cukup sulit. Melihat peserta didik yang hanya melongo saja atau tidak paham membuat saya memutar otak,” ungkapnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.