Jalan Sebuah Buku Indonesia Mencari Penerbit Asing - Kompas.com

Jalan Sebuah Buku Indonesia Mencari Penerbit Asing

Imelda Bachtiar
Kompas.com - 14/11/2016, 18:54 WIB
Tonggie Theodora Siregar Area Island of Image di paviliun Indonesia, tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015, Frankfurt, Jerman.

Kabar gembira datang dari Frankfurt-Jerman, siang 12 November 2016. Ibu Nani Nurrachman Sutojo yang bukunya saya sunting, Kenangan Tak Terucap: Saya, Ayah dan Tragedi 1965 (Penerbit Buku Kompas, 2013), mengirim pesan tentang bagaimana antusiasnya peserta sebuah konferensi di Goethe University menyimak isi buku itu dan mengajak berdiskusi.

Konferensi yang bertajuk “Reconciling Indonesian History with 1965: Facts, Rumours and Stigma”, memang menampilkan Ibu Nani sebagai salah satu narasumbernya.

Kabar ini lalu mendorong saya untuk berbagi lagi pengalaman kami (saya dan Bu Nani) ketika satu tahun yang lalu kami membawa dan mempromosikan buku itu di ajang Frankfurt Book Fair (FBF) 2015.

Tujuan ketika itu sudah pasti untuk meluaskan sebaran buku ini dan pesannya, tidak hanya untuk pembaca Indonesia. Kami ingin menerbitkannya dalam bahasa lain selain Bahasa Indonesia, untuk pembaca berbahasa asing.

Dalam sebuah diskusi Penulis Penerbit Buku Kompas tak lama setelah FBF 2015 berakhir, tulisan ini dalam bentuk yang sedikit berbeda, juga pernah saya bawakan.

Apa yang harus dipersiapkan penulis dan penerbit Indonesianya?

Kenangan tak Terucap: Saya, Ayah dan Tragedi 1965 (Nani Nurrachman Sutojo, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2013) adalah sebuah memoar kehidupan yang justru sarat pesan untuk membantu menyelesaikan masalah bangsa terkait trauma 1965.

Telah 50 tahun berlalu, dan kita masih bergumul dengan trauma ini. Apa yang beberapa bulan belakangan ini ramai kembali dibicarakan lewat wacana rekonsiliasi: memaafkan dan tidak melupakan.

Ibu Nani, penulisnya yang juga seorang psikolog, menyebut tuturannya ini sebagai trauma personal yang kemudian menjadi trauma bangsa.

Masih berumur 15 tahun ketika mengalami sendiri peristiwa penculikan ayahnya, almarhum Jenderal Sutojo Siswomihardjo pada subuh 1 Oktober 1965, membuat Ibu Nani tidak saja bergumul dengan trauma pribadi selama 40 tahun lebih.

Kemudian ia juga dengan sadar memilih memperjuangkan hak mereka yang mengalami stigma, dipinggirkan, tercerabut hak asasinya, karena tragedi nasional ini.

Pertanyaan pribadinya yang selalu ditulis dalam buku ini dan sering pula disampaikannya dalam berbagai kesempatan adalah:

“Siapa lebih korban? Pertanyaan yang kurang tepat saat ini, karena sejatinya kita semua adalah korban.” 

Memoar ini ditulis lewat puluhan sesi wawancara antara saya dan penulis, dimulai awal tahun 2010, dan akhirnya terbit dan diluncurkan pada Maret 2013. Sampai saat ini telah mengalami 4 kali cetak ulang, dan masih dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia.

Berbagai email yang kami terima dari pembaca, juga membuat pesannya meluas: dari diskusi ke diskusi, dari kelompok masyarakat biasa sampai akademisi di seluruh Indonesia.

Berbagai pihak -terutama teman penulis di dalam dan luar negeri-  mendorong buku ini diterjemahkan ke bahasa lain, dan diupayakan penerbit asingnya.

Semata-mata karena buku ini dipandang menawarkan cara pandang yang berbeda (malah sangat berbeda) atas penyelesaian trauma bangsa 1965. Yaitu: penyelesaian kemanusiaan yang bukan hanya mencari siapa benar dan siapa salah, atau siapa korban dan siapa yang lebih korban.

Akhirnya, didorong oleh keinginan meluaskan pesan rekonsiliasi nasional yang digagas buku karyanya, Ibu Nani bersepakat dengan saya untuk mengupayakan buku ini diterbitkan dalam bahasa asing.

Lewat Frankfurt Book Fair 2015

Upaya kami untuk mencari penerbit berbahasa asing, berujung pada keputusan untuk ikut serta dalam ajang Frankfurt Book Fair (FBF) 14-18 Oktober 2015.

Alasan kami, karena ini pameran buku terbesar di dunia yang sudah 500 tahun terselenggara, tempat bertemu para penulis dan penerbit dari seluruh dunia, serta Indonesia tahun ini -dan mungkin tak akan terulang lagi- menjadi negara tamu (Ehrengast).

Ada satu alasan lagi. Ada beberapa bagian pengalaman penulis dalam buku ini yang terkait langsung dengan pengalaman bangsa Jerman menyelesaikan trauma nasionalnya: tragedi Nazi-Hitler. 

Permulaan tahun 2014, saya dan Bu Nani mulai berdiskusi tentang terjemahan seperti apa yang akan kami sampaikan pada FBF 2015. Kami lalu memutuskan membuat sebuah ringkasan (excerpt book) dalam dua bahasa: Inggris dan Jerman.

Buku ringkasan yang tebalnya kurang lebih 30 halaman itu berjudul Unspoken Memories, Untold Forgiveness: Indonesia 1965 (edisi bahasa Inggris) dan Unausgesprochene Erinnerungen, verschwiegene Vergebung: Indonesien 1965 (edisi bahasa Jerman).

Prolog penulis dalam kedua ringkasan adalah versi yang sama sekali baru, yaitu versi yang hanya ditujukan untuk pembaca asing yang tentu saja harus diperkenalkan lebih dalam tentang apa itu Tragedi 1965.

Penerbit Buku Kompas (PBK) juga kami ajak berdiskusi, dan meminta kami bersegera membuat buku ringkasan tersebut yang disain dan cetaknya akan dibantu oleh Penerbit Buku Kompas.

Buku ini pun masuk ke dalam katalog buku non fiksi dalam kelompok memoar-sejarah di bawah penerbit Gramedia Publishers yang memayungi tujuh penerbitan.  Katalog buku ini disebarkan kepada pengunjung FBF pada Stan Buku Nasional dan Paviliun Indonesia.              

Pertengahan tahun 2014, kami berdua mulai mencari penterjemah. Cukup sulit mencari penterjemah bahasa Jerman tetapi orang Indonesia, supaya kami bisa mudah bertemu dan memiliki kesamaan visi dengannya.

Setelah satu bulan lebih, kami memilih Arpani Harun, dosen senior Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Bahasa Jerman. Ia juga yang mengantarkan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, menemukan penerbit Jermannya. Dan kini novel itu telah dialihbahasakan ke dalam lebih dari 30 bahasa.

Saya kutip pendapat Bu Nani yang disampaikan dalam email diskusi kami soal “rasa bahasa” ketika bukunya akan diterjemahkan ke bahasa asing. Bahasa Jerman berbeda nuansa dan lebih sulit dari bahasa Inggris. 

Sejak awal  saya menyadari penerjemahan suatu tulisan ke dalam bahasa asing apapun selalu harus mempertimbangkan pola pikir, budaya baca serta corak budaya masyarakat tersebut dalam perjalanan sejarahnya, karena faktor-faktor inilah yang akhirnya akan menentukan minat pilihan bacaan apa dan yang bagaimana dari masyarakat pembacanya.

Oleh karena itu, saya tidak percaya dan tidak mengandalkan penterjemahan ‘word for word’.  Hal inipun termasuk cara penyuntingan menurut bahasa asing tersebut jika nantinya ada yang tertarik.

Saya bisa bayangkan jika ada yang tertarik untuk menerbitkan penerjemahannya, bisa didiskusikan dulu mulai dari awal lagi, sekalipun belum tentu berarti dari nol. Karena, belum tentu tulisan bahasa Indonesia yang sudah disunting sedemikian rupa dapat diterima sepenuhnya oleh penerjemah/pembaca asing tersebut.”

Lewat berkali-kali diskusi email dan pertemuan, akhirnya buku ringkasan dalam dua bahasa itu selesai. Edisi bahasa Inggris selesai lebih dulu karena dikerjakan sendiri oleh Bu Nani, dan dibaca ulang serta disunting oleh editor internal PBK.

Sedangkan edisi bahasa Jerman dibuat sendiri oleh Pak Arpani dan langsung dibuat disainnya oleh Tim PBK. Saya sangat berterimakasih atas kerjasama yang kompak ini, karena semua berlangsung hanya dalam waktu kurang satu bulan sebelum FBF.

Malah, buku edisi berbahasa Jerman naik cetak pada 25 September 2015, sementara kami harus membawanya ke FBF pada 13 Oktober 2015.

Lima Penerbit Jerman dan Satu Penerbit Inggris

Sebelum edisi Jerman naik cetak, saya berinisiatif minta bantuan seorang kerabat jauh yang juga penulis lepas, yang tinggal di Stade, Hamburg. Ia perempuan Indonesia bersuamikan orang Jerman, dan telah lebih dari 30 tahun bermukim di Jerman.

Saya mengiriminya edisi Jerman dalam bentuk PDF dan ia membacanya, serta memilihkan dari log book penerbit Jerman yang dimilikinya, penerbit mana saja yang cocok dengan buku kami dan dapat kami jumpai di FBF nanti.

Ia juga memuji terjemahan bahasa Jerman yang kami buat, karena sangat halus dan kuat nilai rasa bahasanya. Ia belum pernah membaca edisi bahasa Indonesia buku Bu Nani, tapi sangat tersentuh ketika membaca edisi bahasa Jermannya.

Ia kemudian, atas nama kami berdua, mengontak secara resmi (dalam bahasa Jerman) lima penerbit Jerman untuk kami temui nanti di Frankfurt. Pemilihan lima penerbit ini adalah dengan alasan kedekatan isu Indonesia yang pernah diterbitkan oleh kelimanya.

Mereka yang disurati adalah:  Abera Verlag – Hamburg; CH Beck Verlag – Munchen; S. Fischer Verlage – Frankfurt; Ullstein Buchverlage – Berlin (penerbit novel Amba, karya Laksmi Pamuntjak); dan Horlemann Verlag (penerbit novel Pulang, karya Leila Chudori dan karya-karya Pramudya).

Pada hari ketiga FBF, kami menemui kelimanya, ditambah Goethe Institute. Kesemuanya menjadi lancar karena komunikasi dengan penerbit di stan buku mereka dilakukan dengan bantuan penterjemah bahasa Jerman.

Kami menyerahkan  buku ringkasan berbahasa Jerman kepada penerbit yang kami temui. Sayangnya, karena habis, dua penerbit hanya dikirimi soft copy.

Goethe Institute menyarankan kami bertemu direkturnya di Jakarta, sekalian melampirkan buku edisi bahasa Indonesia dan ringkasan berbahasa Jerman. Ibu Nani dan saya berpendapat bahwa apa yang bisa dilakukan di Frankfurt sudah optimal.

Padatnya acara di stan Gramedia Publishers selama FBF berlangsung, membuat kami tidak mendapat waktu dan tempat untuk mempresentasikan buku ini.

Sangat disayangkan, mengingat Bu Nani penulisnya, banyak sekali ditemui orang yang tertarik dengan bukunya. Baik orang Jerman maupun orang asing lainnya (penulis, penerbit, maupun peneliti universitas), maupun orang Indonesia yang telah lama bermukim di Eropa.

Buku ringkasan berbahasa Jerman yang dibuat sebanyak 30 eksemplar, habis diminati pada dua hari pertama pameran.

Tema 1965, Menarik, Tetapi Tidak akan Best Seller

Saya berkenalan dengan Helene Poitevin, librarian EHESS University, Perancis, yang tinggal di Paris. Ia juga peneliti Asia, yang lebih pada studi sastra bertema sejarah. Ia adalah pengunjung stan buku Indonesia di hall 3.0 selama dua hari pertama FBF, 14-15 Oktober 2015.

Saya menegurnya dan akhirnya mengobrol cukup lama soal tema-tema Indonesia apa yang mungkin diterbitkan untuk pembaca Eropa.

Tema 1965, menurut Helene, memang akhir-akhir ini (tiga tahun terakhir) menjadi tema yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Perancis, selain Inggris. Tetapi, ia mengingatkan, hanya orang-orang tertentu yang berminat membacanya. Ceruk ini sangat sempit.

Maka, bila terlihat ada promosi besar-besaran yang dilakukan penerbit Jerman untuk buku-buku karya Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak di ajang FBF 2015, memang itulah yang biasa dilakukan penerbit Jerman untuk karya alih bahasa yang telah diterbitkannya. Apalagi, momennya tepat: Indonesia tuan rumah FBF 2015.

Diskusi dan Promosi

Refleksi akhir kami, bila nanti ada sebuah even internasional sekelas FBF 2015, penerbit Indonesia pun harus aktif mendukung para penulisnya untuk mempromosikan bukunya dalam ajang itu.

Baik bila kita bercermin dan meniru apa yang dilakukan para penerbit Jerman mempromosikan buku-buku Indonesia yang sudah dialihbahasakan ke bahasa Jerman.

Jadi, ada beberapa hal yang intens harus dilakukan. Diskusi, dengan berbagai media, tidak cuma di ajang pameran. Lalu, resensi dan ringkasan dalam bahasa asing, dan kemudian juga temu muka langsung dengan penulis.

Mereka melakukan ini semua dengan intensif. Bila tidak, agak mustahil pesan sebuah buku sampai ke pembaca yang lebih luas, khususnya pembaca berbahasa asing.

Apakah ini semua proses yang instan? Pasti tidak, tapi bukan mustahil menunjukkan hasil emas bertahun-tahun setelah buku itu diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia.

EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X