Gawat... Indonesia Kekurangan Tenaga Kerja Level Manajerial - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Indonesia International institute For Life Sciences

Gawat... Indonesia Kekurangan Tenaga Kerja Level Manajerial

Mikhael Gewati
Kompas.com - 13/02/2017, 07:15 WIB
KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES Ribuan pencari kerja mengantre di Kompas Karier Fair 2014 di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (22/8/2014). Acara yang berlangsung hingga Sabtu, 23 Agustus ini diikuti oleh 160 perusahaan yang berasal dari berbagai macam bidang mulai dari perbankan, asuransi, konstruksi, media hingga otomotif.


KOMPAS.com
– Indonesia diperkirakan akan kekurangan pasokan tenaga kerja profesional di level manajerial atau menengah ke atas. Padahal, jumlah tenaga kerja Indonesia melimpah. Apa masalahnya?

“Agak sulit mencari tenaga kerja yang memenuhi harapan perusahaan dengan keahlian khusus ataupun soft skills yang pas, yang berpotensi mengembangkan perusahaan di masa depan,” ucap Direktur Konsultan Willis Towers Watson Indonesia Lilis Halim, seperti dimuat Kompas, Kamis (21/4/2016).

Riset Wills Towers Watson tentang Talent Management and Rewards yang memotret ketimpangan antara proyeksi permintaan dan ketersediaan tenaga kerja di Indonesia tersebut digelar sejak 2014.

Lulusan perguruan tinggi, lanjut Lilis merujuk riset tersebut, susah terserap di industri karena tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan perusahaan. Misalnya, mereka ditengarai tak punya cukup kemampuan berpikir kritis. Padahal, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk bisa bekerja di jajaran manajemen perusahaan.

Hasil riset Boston Consulting Group (BCG) dan World Federation of People Management Associations (WFPMA) yang dipublikasikan pada 2013, memunculkan pula proyeksi soal ketimpangan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja tersebut, terutama di level manajerial.

bcg.com Hasil riset BCG dan WFMPA memprediksi Indonesia akan kekurangan tenaga kerja di level menejerial pada 2020.

Menurut riset tersebut, industri di Indonesia akan kekurangan hingga 56 persen tenaga kerja profesional di level manajerial pada 2020. Padahal, riset yang sama memperkirakan, pada tahun itu ada lonjakan kebutuhan SDM setingkat manajer sampai 55 persen.

Menurut riset ini, industri Indonesia pada 2020 akan tumbuh pesat, terutama yang berbasis jasa. Kebutuhan tenaga kerja juga ditengarai bakal naik di semua level, termasuk di tingkat pemula yang diperkirakan tumbuh hingga 17 persen dan manajemen senior yang naik sampai 6 persen.

Dalam penjelasannya, riset ini mendapati kegagalan lembaga pendidikan menyediakan pasokan tenaga kerja profesional dan kompeten sebagai penyebab proyeksi kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja di Indonesia.

Industri berbasis sains

Kondisi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja profesional diduga akan lebih buruk di perusahaan-perusahaan berbasis sains, seperti industri farmasi dan bioteknologi. Jangankan pada level manajerial, industri tersebut bahkan sekarang sudah kesulitan mencari tenaga ahli yang siap pakai.

Hal tersebut dikatakan Direktur PT Kalbe Farma Vidjongtius. Menurut dia, mencari tenaga ahli lokal siap pakai di industri farmasi bukanlah pekerjaan mudah. “Bahkan kami kadang-kadang mengambil tenaga dari luar negeri,” kata Vidjongtius saat dihubungi Kompas.com, Rabu(1/2/2017).

Solusi lain yang diambil perusahaannya, lanjut Vidjongtius, adalah melakukan pelatihan langsung kepada pekerja yang baru direkrut agar bisa memenuhi standar yang dibutuhkan.

Meski demikian, optimisme terkait potensi tenaga kerja Indonesia tetap ada, termasuk untuk industri berbasis sains. Salah satunya datang dari Head of Master in Bio-Management International Institute for Life Science (i3L) Christina Gomez.

Menurut Gomez, yang diperlukan sekarang adalah cara untuk mengembangkan potensi ini sehingga memenuhi kebutuhan industri.

“Industri berbasis sains di dalam negeri sedang berkembang. (Pemerintah) Indonesia dan warga negaranya harus membantu industri itu terus tumbuh,” ujar Gomez, kepada Kompas.com, Senin(16/1/2017).

International Institute for Life Science (i3L) Aktivitas mahasiswa di laboratorium Indonesia International Institute for Life Science (i3L)

Kampus i3L, papar Gomez, menggelar pendidikan berbasis ilmu pengetahuan dengan kurikulum internasional yang juga memadukan sains dan bisnis. Kehadirannya merupakan jawaban atas kebutuhan tenaga ahli, terutama di level manajerial, untuk industri life sciences.

Pembukaan program Master Bio-Management, sebut Gomez, merupakan salah satu cara yang i3L tempuh untuk tujuan tersebut. Di sini, mahasiswa tak semata disiapkan menjadi tenaga ahli siap pakai, ujar dia, tetapi sekaligus menjadi peneliti atau ilmuwan yang cakap berbisnis.

Lewat program master tersebut, lanjut Gomez, para mahasiswa bisa mengetahui gambaran utuh tentang alur kerja di perusahaan berbasis sains. Mereka akan fokus belajar banyak bidang, mulai dari marketing, riset dan pengembangan, keuangan, strategi bisnis, personalia, hingga hukum.

“Semua bidang itu harus dikuasai oleh seorang manajer di perusahaan berbasis sains,” ungkap Gomez.

Nah, dengan begitu mahasiswa sudah punya kompetensi mumpuni untuk bekerja di level manajerial di perusahaan berbasis ilmu pengetahuan. Prediksi Indonesia pada 2020 akan kekurangan tenaga kerja di jenjang tersebut pun seharunya bisa ditanggulangi lewat institusi pendidikan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisMikhael Gewati
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar