Kompas.com - 13/02/2017, 07:15 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com
– Indonesia diperkirakan akan kekurangan pasokan tenaga kerja profesional di level manajerial atau menengah ke atas. Padahal, jumlah tenaga kerja Indonesia melimpah. Apa masalahnya?

“Agak sulit mencari tenaga kerja yang memenuhi harapan perusahaan dengan keahlian khusus ataupun soft skills yang pas, yang berpotensi mengembangkan perusahaan di masa depan,” ucap Direktur Konsultan Willis Towers Watson Indonesia Lilis Halim, seperti dimuat Kompas, Kamis (21/4/2016).

Riset Wills Towers Watson tentang Talent Management and Rewards yang memotret ketimpangan antara proyeksi permintaan dan ketersediaan tenaga kerja di Indonesia tersebut digelar sejak 2014.

Lulusan perguruan tinggi, lanjut Lilis merujuk riset tersebut, susah terserap di industri karena tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan perusahaan. Misalnya, mereka ditengarai tak punya cukup kemampuan berpikir kritis. Padahal, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk bisa bekerja di jajaran manajemen perusahaan.

Hasil riset Boston Consulting Group (BCG) dan World Federation of People Management Associations (WFPMA) yang dipublikasikan pada 2013, memunculkan pula proyeksi soal ketimpangan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja tersebut, terutama di level manajerial.

bcg.com Hasil riset BCG dan WFMPA memprediksi Indonesia akan kekurangan tenaga kerja di level menejerial pada 2020.

Menurut riset tersebut, industri di Indonesia akan kekurangan hingga 56 persen tenaga kerja profesional di level manajerial pada 2020. Padahal, riset yang sama memperkirakan, pada tahun itu ada lonjakan kebutuhan SDM setingkat manajer sampai 55 persen.

Menurut riset ini, industri Indonesia pada 2020 akan tumbuh pesat, terutama yang berbasis jasa. Kebutuhan tenaga kerja juga ditengarai bakal naik di semua level, termasuk di tingkat pemula yang diperkirakan tumbuh hingga 17 persen dan manajemen senior yang naik sampai 6 persen.

Dalam penjelasannya, riset ini mendapati kegagalan lembaga pendidikan menyediakan pasokan tenaga kerja profesional dan kompeten sebagai penyebab proyeksi kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja di Indonesia.

Industri berbasis sains

Kondisi kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja profesional diduga akan lebih buruk di perusahaan-perusahaan berbasis sains, seperti industri farmasi dan bioteknologi. Jangankan pada level manajerial, industri tersebut bahkan sekarang sudah kesulitan mencari tenaga ahli yang siap pakai.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.