Kompas.com - 28/11/2012, 09:47 WIB
Penulis Tri Harijono
|
EditorCaroline Damanik

Ciri khas yang melekat pada WNI pendatang itu adalah kemiskinan yang sangat parah. Sebagian besar buruh perkebunan nanas, pemetik kelapa, dan nelayan itu berpendapatan hanya 1.000-1.500 peso atau Rp 200.000-Rp 300.000 per bulan. Jumlah itu jauh dari upah minimum kabupaten di Indonesia yang umumnya sudah di atas Rp 1,5 juta per bulan.

Minimnya pendapatan mereka, padahal harus hidup dengan beberapa anak, menyebabkan mereka terlilit dalam kemiskinan yang sangat parah.

Hampir semua rumah WNI pendatang itu terbuat dari bambu, beratap daun kelapa, dan berlantai tanah. Makan pun seadanya, hanya nasi campur garam atau nasi dan buah pepaya muda yang dimasak seadanya menggunakan tungku kayu.

”Sudah bertahun-tahun kami hidup seperti ini,” kata John Jorr (22), buruh pemetik kelapa di Tupi, Provinsi South Cotabato, Pulau Mindanao.

Mereka tidak bisa ke Indonesia, bahkan ke pulau terdekat sekalipun, seperti Sangihe, karena biayanya mahal dan butuh waktu perjalanan laut sekitar seminggu. Padahal, untuk biaya hidup sehari-hari mereka sangat sulit.

Sebaliknya, meski tidak memiliki tanda pengenal, apalagi paspor, mereka tak mau melepaskan kewarganegaraan Indonesia. Di mata mereka, status WNI jauh lebih baik dibandingkan pindah kewarganegaraan.

Untungnya, Pemerintah Filipina bersikap sangat ramah terhadap pendatang Indonesia. Anak-anak Indonesia boleh bersekolah di sekolah Filipina. Ini berbeda dengan Malaysia yang melarang anak-anak TKI bersekolah di sekolah Malaysia.

Terobosan pendidikan

Untuk mengatasi kemiskinan WNI ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Luar Negeri RI membangun beberapa pusat pembelajaran (learning center) di beberapa kawasan permukiman WNI, seperti di Tupi, Laensasi, Isulan, Magdub, Kuilantang, dan Balunto, Pulau Mindanao. Umumnya permukiman itu terpencil di tengah perkebunan kelapa atau nanas yang sangat luas. Usia peserta didik tidak dibatasi, siapa pun bisa ikut sekolah ini.

Selain diberikan materi pelajaran Bahasa Indonesia agar mereka bisa berbahasa Indonesia, pengetahuan dasar tentang keindonesiaan juga diberikan kepada mereka.

”Bagaimanapun, mereka warga negara Indonesia. Kita ingin menyentuh mereka yang selama ini tidak tersentuh. Menyapa mereka yang selama ini tidak disapa,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh ketika meresmikan pusat pembelajaran di Tupi.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Luar Negeri RI Paristiyanti Nurwardani mengatakan, selain diberikan pelajaran kebangsaan, mereka juga diberikan pelajaran formal lainnya dan akan mendapat ijazah. Dengan demikian, setelah lulus, mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, peserta didik juga diberikan keterampilan yang bisa memperbaiki perekonomian mereka, seperti membuat nata de coco dari air buah kelapa, membuat kecap ikan, dan bakso ikan bagi anak-anak nelayan.

Mendapat pendidikan gratis seperti ini, tentu saja peserta didik senang bukan kepalang. Seperti dikatakan Bon Oliver B Domis (10), Quennly Love Agamu (8), Aiza S Lengkongdorong (12), dan peserta didik lainnya, mereka selama ini hanya mengenal Indonesia dari pembicaraan lisan.

”Katanya, Indonesia itu negeri yang sangat indah. Mudah-mudahan suatu saat, sebelum tua dan meninggal, saya bisa melihat tanah leluhur saya, Indonesia,” kata Samsudin Makasaehe (15), penuh harap....

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.