Kompas.com - 12/07/2013, 14:04 WIB
Lain hari, di jejaring sosial, kerap kali terlihat huruf FacebookLain hari, di jejaring sosial, kerap kali terlihat huruf "q", yang tak lain adalah pengganti kata "aku". Huruf "q" itu digunakan alih-alih mengambil dari potongan terikat "ku".
EditorLatief

Sokbleker atau sokbreker atau shockbreaker? Rasanya mirip juga ketika membaca tulisan di papan gerai ayam tepung dengan tulisan freciken atau ayam kentucky atau malah ayam chicken.

Soal "ciken-cikenan dan sokbleker", bahasanya memang tidak hanya Indonesia. Tetapi, pastinya, pengguna bahasa itu adalah orang-orang dewasa, yang dengan mudah dinilai mengesampingkan bahasa yang baik dan benar.

Yang baik dan benar? Maksudnya, yang disepakati dan terdata untuk digunakan sama-sama supaya sama-sama paham juga. Itu saja! Paham dan tidak paham juga bicara tentang cara menjabarkan ide-ide di dalam pikiran. Begitu, bukan?

Beruntungnya, anak-anak zaman sekarang sudah kenal dunia maya lebih dalam. Mereka juga lebih mudah mengakses jejaring sosial dari perangkat gadget apa pun. Blog pun mengakomodasi keinginan mereka sehingga jadi rajin menulis. Walau dengan bahasa "q seneng bnget", bahasa mereka cenderung cair, setidaknya dalam usaha menjabarkan sesuatu.

Soal si "q" yang tadi menulis "q seneng bnget ma lgu ini", di satu sisi ada keyakinan bahwa sebenarnya dia tahu cara menulis kata-kata yang sebenarnya, yakni "aku senang banget sama lagu ini". Namun, mungkin karena jadinya kaku kalau ditulis seperti aslinya, maka akan seru kalau dibikin main-main. Ya, jadilah seperti itu, dan ngetren pula!

Di sisi lain, bisa jadi, mereka memang kebablasan dan tidak tahu sehingga menjadi biasa untuk tidak tahu. Anak-anak ini mengabaikan bahasanya sendiri, yang sadar atau tidak adalah identitas bangsanya.

Gambarannya memang menjadi ironis, walau keironisan semakin menjadi biasa sekarang ini, seperti ketika membandingkan anak-anak dan penulis sokbleker juga ciken-cikenan tadi dengan warga asing yang datang ke sini, belajar bahasa di sini, bahasa Indonesia yang baik dan benar, supaya bisa bekerja di sini atau membangun usaha di sini bahkan memuluskan usaha besar di sini.

Sama-sama belajar

Terus terang, rasanya egois ketika orang-orang dewasa yang sadar bahasa lalu meminta anak-anak tadi menyamakan sudut padang dengan kita. Adilkah?

Di zaman yang apa-apanya serba-cepat ini, sesuatu yang baku menurut kita, yang diajarkan pada kita di masa lalu dan terus dipegang dan dijadikan tolok ukur hingga kini, tentu menjadi sesuatu nan menyulitkan dalam perkembangan mereka jika mereka juga harus memahaminya.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.