Kompas.com - 29/10/2013, 15:44 WIB
|
EditorLatief

"Di sini kami sudah menerapkannya, yaitu untuk pelajaran pengembangan kepribadian, itu di semester pertama. Kalau Etos Kerja Keras Islam belum begitu digodok. Tapi, sudah ada mentoring agama di masjid kita di sini," paparnya.

Jadilah pengusaha

Saat ini LP3I telah melebarkan sayap dengan memiliki 48 lokasi kampus di seluruh Indonesia. Target pencapaian lembaga pendidikan itu dengan mencetak 99 persen lulusan yang langsung mendapatkan tempat untuk bekerja.

Syahrial mengatakan, untuk menghadapi persaingan global, institusi pendidikan Indonesia tidak sepenuhnya siap. Sebagai Wakil Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia, ia berani menyatakan bahwa di hampir semua lini di sektor pendidikan Indonesia serba kekurangan, mulai dari dosen, kurikulum, dan sistem.

"Pendidikan kita itu tidak pernah diperhatikan pemerintah. Fakultas Ekonomi di Australia sudah ada 12 jurusan, di Universitas Gadjah Mada cuma tiga jurusan. Di Australia sudah ada jurusan Perdagangan, Ekonomi Asia Pasifik, Ekonomi Timur Tengah, dan Ekonomi Asia. Jadi, jauh sekali kalau mau dibandingkan," ujarnya.

Syahrial mengaku, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh masih lebih banyak mengulas filosofis pendidikan. Dia mengatakan, sudah seharusnya Mendikbud mengulas bagaimana pendidikan mengarah untuk pembangunan era global sehingga benar-benar lebih menggali kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk Indonesia di kancah global.

"Termasuk untuk menyambut ASEAN Free Trade 2015. Kita belum ada konsep sama sekali menghadapi ASEAN Free Trade Area. Tak ada guidance dan motivasi dari mereka (Kemendikbud). Malaysia saja sudah berulang kali menyelenggarakan Malaysia Goes to 2015. Jadi, dapat terbayang, apa yang dapat kita lakukan nanti. Kalau seperti sekarang, ya kita repot," katanya.

"Sekarang hasilnya sarjana dan profesor malah jadi koruptor. Sudah jelas profesor itu ilmunya tinggi sekali. Tapi, kalau mau jadi kaya, ya harus jadi pengusaha, bukan jadi pejabat dan terus korupsi. Sekarang kita cuma jadi pembantu di negara lain, enggak jadi tuan rumah lagi," tambahnya.

Syahrial berharap, ke depan pendidikan karakter benar-benar diperkuat sejak SD. Hal itu harus didukung kuat dengan menomorsatukan pendidikan agama.

"Tidak hanya Islam, tapi semua agama. Saat saya berkunjung ke Jepang, ada dompet jatuh di kereta, masih utuh dompetnya sampai keesokan harinya. Kenapa, karena di Jepang ditumbuhkan sebuah budaya yang baik dan diajarkan keimanan yang baik pula. Apabila mengambil yang bukan milik kita, ya berdosa. Walaupun saya enggak kaya banget, buat apa masuk neraka karena makan uang rakyat. Hidup itu bukan hanya di dunia!" ucapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.