"Eureka" Kebangkitan Nasional, antara Ki Hajar, Hatta, Habibie, dan Gus Dur...

Kompas.com - 21/05/2014, 17:14 WIB
EditorLatief

Di negeri asing itu Hatta menemukan "jati diri" sebenarnya. Pembelajaran dan pencerahan yang didapatkannya selama di Belanda itulah yang membantunya untuk mampu meninggalkan legacy luar biasa. Dari negeri asing inilah, Hatta secara perlahan dan pasti mengirimkan sinyal kepada negeri untuk bangkit.

Habibie juga menemukan "jati diri" dan cinta sejatinya kepada Tanah Air pada saat bersekolah di Jerman. Di kota Achen, Habibie terpuruk menangis, memanggil nama Tanah Air dan bersumpah akan memberikan darmanya kelak setelah kembali.

Bahkan, Gus Dur juga memerlukan waktu cukup lama untuk "bertafakur" dan melakukan perjalanan intelektualnya ke beberapa negara. Ia bahkan sempat mengalami beberapa kegalauan sebelum akhirnya menemukan "eureka"-nya, yaitu pemahaman tentang Islam yang sifatnya universal, yang kelak menjadi milestone dari penerapan paham pluralisme yang menjadi legacy pada masa kepemimpinannya dan menjadi salah satu milestone kebangkitan Indonesia.

Zona nyaman

Sangat mudah diamati bahwa banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang hanya sibuk terpesona dengan keilmuan yang dimiliki bangsa asing. Terpesona di awal tidaklah salah. Namun, hendaknya kekaguman itu dijadikan pintu masuk untuk lebih berkontemplasi kepada diri sendiri dan permasalahan bangsa.

Ya, Habibie tidak berhenti hanya sampai titik kagum betapa bangsa Jerman sangat maju dalam bidang rekayasa engineering. Namun, Habibie masuk "ke dalam" penalaran lebih dalam bagaimana keadidayaan tersebut bisa membangkitkan Indonesia.

Konsep persatuan kesatuan bangsa melalui pengembangan commuter aircraft  yang akan menjadi jembatan udara Nusantara bukanlah konsep yang dilahirkan dalam semalam. Itulah "tafakur" Habibie selama hampir 20 tahun di Eropa. Itulah "eureka" seorang Habibie!

Satu kali, ada hal yang menggetarkan saat berkunjung ke Erasmus University pada Maret lalu, yaitu pada saat ditunjukkan sebuah gedung megah terbaru di kampus modern tersebut. Itulah satu-satunya gedung di kompleks kampus Erasmus yang diberi nama khusus, sedangkan gedung-gedung lain dinamakan hanya berdasarkan alfabet: gedung A, gedung B, dan seterusnya. Ya, gedung megah itu dinamai dengan Hatta!

Bayangkan, betapa luar biasanya pemuda asal Bukittinggi itu! Bahkan, negeri yang pernah menjajah pun masih mau memberikan salut sempurna dan penghormatan sangat tinggi karena bangga bahwa di kampus inilah seorang Hatta menemukan mutiara pemikiran ekonomi Indonesia, yang akhirnya menjadi sebuah legacy

Memang, proses penemuan hakikat ilmu itu sering kali terjadi justru pada saat seseorang jauh dari "zona kenyamanan", jauh dari kampung halaman, atau keluarga. Di situlah, daya juang yang lebih dibutuhkan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.