Memberikan wawasan, menumbuhkan harapan, tanpa gangguan iklan.
Berani coba? Dapatkan Gratis

Keluh Kesah Penerima Beasiswa Dikti

Kompas.com - 10/09/2014, 08:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com
- Masalah beasiswa luar negeri belum cair, menjadi perhatian publik media sosial. Seorang warga bernama Zulfikar Akbar, menyebut skandal di tubuh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) bukanlah cerita baru.

Hal itu sudah terjadi sangat lama, dan belum ada yang menghentikan. Begitulah di antara respons para mahasiswa penerima beasiswa Dikti, menyusul tulisan yang diekspose oleh Zulfikar Akbar sebelumnya di Kompasiana.

Di antara yang turut merespons tulisan itu adalah Koordinator Overseas Indonesian Students Association Alliance (OISAA), atau PII Dunia, Pan Mohamad Faiz.

"Kandidat Ph.D di Queensland University ini, menimpali dengan me-mention akun Twitter saya, @zoelfick, bahwa ia membenarkan bahwa praktik-praktik keculasan itu sudah lama terjadi," kata Zulfikar.

Tanggapan dari Koordinator PPI Dunia tersebut datang, setelah Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indonesian Political Indicator, meneruskan obrolan via Twitter seputar tulisan berjudul Skandal Dikti: Ironi Kuliah di Luar Negeri.

Ia melakukan langkah itu, karena Burhanuddin sendiri berterus terang bukan penerima beasiswa Dikti.

"Ringkasnya, sembilan dari 10 yang menghubungi saya via Twitter, membenarkan praktik culas yang kerap dengan aman dilakukan pihak DIKTI."

Menurut dia, komentar-komentar itu pada intinya lagi-lagi mengiyakan dan juga menunjukkan berbagai keculasan yang selama ini dilakukan Dikti.

Terdapat juga pemberi tanggapan lain yang lebih beragam, mengungkapkan kekesalan memperlihatkan kecurigaannya apa yang menjadi alasan Dikti terkesan menunda jatah beasiswa tersebut. Berikut beberapa tanggapan itu.

"Saya tidak merekomendasikan lagi beasiswa dikti untuk teman2 saya yang akan kuliah di LN. Daripada menjadi pikiran, padahal beban untuk lulus saja sudah berat, kenapa si pengelola tidak paham hal seperti ini? Apa mereka tidak pernah juga kuliah di luar negeri, tidak ada empatinya sama sekali," demikian tulis @shevahiroabout.
    
"Ini benar sekali, teman saya yg lagi S3 di Prancis mengeluh beasiswa dari Dikti tidak turun-turun beberapa bulan. Kasihan kesulitan uang. Dikti cuman memberi janji-janji palsu," kata @djay_kdiabout.
    
"Beasiswa selalu telat. Sampai stres mikirin kebutuhan sehari-hari di negeri orang. Bagi dosen yang mau daftar beasiswa LN Dikti entar saja tunggu sampai ada perbaikan sistem, daripada terlantar di negeri orang. Dikti oh Dikti bikin banyak dosen yang lagi kuliha di LN menderita berkepanjangan," ucap @yumi26.
    
Dari berbagai komentar itu, Zul menyimpulkan bahwa keran untuk para mahasiswa berbicara cenderung tertutup.

"Sedikitnya, respons dari PPI Dunia via akun Twitter saya, menunjukkan "good will" bahwa mereka tidak akan diamkan tindakan semena-mena dari pihak Dikti. Paling tidak, begitulah yang sama simak dari apa yang dituliskan dalam cuit Koordinator PPI Dunia ke saya."

Zul mengaku tidak memiliki motivasi apa-apa, kecuali berharap kasus seperti ini tidak terjadi lagi. Selain juga berharap agar mereka yang sedang belajar di luar negeri--juga di dalam negeri--tidak lagi dijadikan "victim".

Menanggapi kasus di atas, Dikti berjanji secepatnya merampungkan masalah tersebut. [Baca: Dikti Janjikan Dana Pendidikan Cair Selambatnya September]

Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Supriyadi telah lama menyadari adanya kendala dalam program beasiswa di luar negeri.

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan pencairan dana untuk penerima beasiswa terlambat selama beberapa bulan. [Baca: Dikti Membenarkan Ada Kendala di Program Beasiswa Luar Negeri]

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com