Kompas.com - 05/06/2015, 08:00 WIB
Kaizen mirip dengan filosofi gelas setengah kosong. Dalam membangun industri, “kekosongan” perlu ada agar pelaku usaha memiliki pola pikir untuk terus mencari inovasi yang belum pernah dilakukan. Adhis AnggianyKaizen mirip dengan filosofi gelas setengah kosong. Dalam membangun industri, “kekosongan” perlu ada agar pelaku usaha memiliki pola pikir untuk terus mencari inovasi yang belum pernah dilakukan.
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Pernah Anda mengantre di restoran selama satu jam? Atau, saat terjebak macet selama berjam-jam, telepon genggam tak henti berdering dan Anda tidak mengenali nomor si penelepon. Ketika diangkat, ternyata seorang agen penjual begitu antusias menawarkan produknya kepada Anda. Pernah?

Dalam keadaan seperti itu, apakah muncul keinginan Anda untuk membeli produk? Atau, sebaliknya, Anda justeru pusing, dan kesal dibuatnya? 

Jawaban kedua pasti lebih menggambarkan isi hati Anda. Yang pasti, hal itu kini berlaku umum di masyarakat.

Tentu saja, perusahaan industri jenis apapun pernah mengalami kendala pelayanan atau pemasaran produk seperti itu. Walau konsumen terganggu, tak semua perusahaan “melihat” hal itu sebagai masalah. Kenapa begitu? 

Dalam membangun bisnis, memupuk optimisme memang sangat diperlukan. Tapi, jangan lupa, kesempurnaan tidaklah mutlak. Perusahaan beromzet miliaran rupiah pun pasti akan terbentur berbagai masalah. Jadi, perbaikan berkesinambungan atau dalam bahasa Jepang akrab disebut “Kaizen”wajib menjadi agenda tetap mereka. 

Kaizen mirip dengan filosofi gelas setengah kosong. Untuk membangun industri, “kekosongan” sangat diperlukan agar pelaku usaha memiliki pola pikir untuk terus mencari inovasi yang belum pernah dilakukan. Dalam penerapannya, pelaku industri wajib sigap mengidentifikasi masalah, jeli menganalisa penyebab, dan kreatif mencari solusinya.

Kaizen lebih bersifat lapangan dan digunakan dalam proyek perbaikan jangka pendek. Artinya, perombakan tidak dilakukan secara massif, tetapi fokus, tepat sasaran, dan membutuhkan hasil cepat. 

Sebagai salah satu metode yang sejalan dengan konsep lean production (Baca: Bangun Kualitas, Manufaktur Wajib Kerja Cerdas!), Kaizen fokus menghilangkan pemborosan-pemborosan dalam proses produksi sehingga kualitas dan nilai produk menjadi lebih baik. Karena terbukti efisien, metode asal Negeri Doraemon itu telah diterapkan di banyak sektor di beberapa negara di dunia. 

Salah satu contohnya adalah konsep Toyota Production System (TPS). TPS melekatkan Kaizen sebagai fondasinya, dan bahkan diadopsi oleh industri restoran (Baca: Belajar Kerja Sigap untuk Hasil Produksi Maksimal!).

www.shutterstock.com Perubahan kecil, jika dilakukan secara tepat dan konsisten akan menghasilkan keuntungan di luar perkiraan

Sebuah fasilitas restoran non-profit di New York mulai menerapkan TPS pada 2011 lalu. Setiap hari, restoran sebagai bagian dari ‘Food Bank for New York City’ itu memberi makanan gratis bagi warga yang membutuhkan di West Harlem, NYC.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.