KPAI: Tidak Boleh Ada Kekerasan dalam MOS

Kompas.com - 27/07/2015, 11:02 WIB
Para orangtua murid menyaksikan anak mereka mengikuti upacara pembukaan masa orientasi siswa baru di SD Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (6/7). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mendorong pelibatan orangtua dalam pendidikan anak. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan pendidikan karakter dari sektor nonkurikuler yang selama ini sering dikesampingkan. KOMPAS/WAWAN H PRABOWOPara orangtua murid menyaksikan anak mereka mengikuti upacara pembukaan masa orientasi siswa baru di SD Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (6/7). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mendorong pelibatan orangtua dalam pendidikan anak. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan pendidikan karakter dari sektor nonkurikuler yang selama ini sering dikesampingkan.
EditorSandro Gatra


JAKARTA, KOMPAS.com
- Komisioner Bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan, tidak boleh ada muatan kekerasan dalam bentuk apa pun dalam masa orientasi siswa (MOS) yang dimulai secara nasional pada Senin (27/7/2015).

"Hari pertama masuk sekolah berlaku secara nasional dan MOS merupakan rangkaian kegiatan bagi siswa baru yang seringkali masih menyisakan masalah karena tidak sedikit masih membudayakan kekerasan," kata Susanto melalui siaran pers di Jakarta, Senin, seperti dikutip Antara.

Susanto mengatakan, masih ada sekolah dan sebagian siswa yang berpandangan bahwa pendekatan kekerasan dalam MOS masih diperlukan dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah beban sejarah, sehingga diperlukan saat masuk sekolah. (baca: Mendikbud Minta Laporkan Jika Ada Perpeloncoan di Sekolah)

Alasan lainnya adalah MOS menjadi momentum bagi kakak kelas untuk mengerjai siswa baru adik kelasnya. Selain itu, ada pula yang berpandangan bahwa pendekatan kekerasan diperlukan untuk membentuk mental siswa baru.

"Pandangan demikian tidak boleh terjadi. Kekerasan tidak bersenyawa dengan pendidikan, maka tidak boleh ada muatan kekerasan dalam bentuk apa pun dalam MOS," tuturnya.

Karena itu, KPAI meminta seluruh sekolah di Indonesia agar melaksanakan MOS tanpa ada muatan kekerasan, baik verbal, psikis, seksual maupun fisik. (baca: Anies Baswedan: Upacara Bendera Jangan Sekedar Kegiatan Seremonial)

Menurut Susanto, MOS harus dikembangkan dengan pendekatan dan metode yang membangkitkan karakter unggul siswa, bukan melemahkan potensi majemuk yang ada pada siswa.

"MOS juga harus dipastikan aman dan nyaman bagi semua anak. Sekolah harus memastikan tidak ada kultur senioritas yang memicu kekerasan dalam pelaksanaan MOS," katanya.

Susanto mengatakan, sekolah harus bisa memastikan kegiatan MOS tidak ada "dendam sejarah" antara kakak kelas dengan adik kelas. Menurut dia, tidak sedikit kakak kelas yang memperlakukan adik kelas sebagaimana mereka diperlakukan saat masuk sekolah. (baca: Anies Minta Orangtua Tak Hanya Hadir saat Anak Wisuda Saja)

"Sekolah juga harus memastikan kegiatan MOS tidak dilakukan di lokasi yang membahayakan keselamatan anak," ujarnya.

Selain itu, kegiatan MOS juga harus dipastikan tidak membuat orangtua merasa resah dan was-was yang bisa memicu "salah paham" antara orangtua dan sekolah. Kegiatan MOS harus bisa menenangkan orangtua sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.



Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X