Kompas.com - 08/06/2016, 16:32 WIB
Pemandangan kincir angin di desa Kinderdijk, Belanda, Senin (9/5/2016). Kinderdijk merupakan desa wisata yang memiliki belasan kincir angin yang saat ini digunakan sebagai pompa air. Kinderdijk masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage pada 1997. KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESPemandangan kincir angin di desa Kinderdijk, Belanda, Senin (9/5/2016). Kinderdijk merupakan desa wisata yang memiliki belasan kincir angin yang saat ini digunakan sebagai pompa air. Kinderdijk masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage pada 1997.
|
EditorLatief

JAKARTA, KOMPAS.com — Minat mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan di Belanda cukup tinggi. Saat ini, ada ribuan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana.

"Saat ini Indonesia menempati urutan lima besar sebagai negara penyumbang mahasiswa terbanyak di Belanda," ujar Indy Hardono, Koordinator Beasiswa di Netherlands Education Support Office (Nuffic Neso Indonesia), di hadapan penerima beasiswa StuNed 2016 pada Welcoming Session di Jakarta, Sabtu (4/6/2016).

Salah satu penerima beasiswa, Riski Gusri Utami (23), mengaku memilih Belanda sebagai negara tujuan studi karena ketersediaan ilmu yang hendak didalaminya. Ami, begitu ia disapa, mengambil jurusan Plant Bio Technology di Wageningen University.

"Saat program sarjana saya mengambil jurusan agroteknologi. Kebetulan saya ambil bahasan bioteknologi tanaman sebagai bahan skripsi. Sayangnya, bidang ilmu sama dengan jenjang yang lebih tinggi tak tersedia di Indonesia," ujar perempuan asal Payakumbuh ini.

Sebenarnya, saat dia melakukan riset kecil, kampus-kampus luar negeri yang menyediakan bidang ilmu tersebut tak hanya berada di Belanda. Namun, menurut dia, Wageningen University di Belanda inilah yang bisa mengakomodasi cita-citanya sebagai periset yang sadar lingkungan.

"Saya sudah cari perbandingan kampus-kampus yang menyediakan jurusan tersebut. Tapi, riset-riset yang dihasilkan oleh Wageningen selalu ada kaitan dengan kesehatan manusia. Karena itu saya tertarik," imbuhnya.

M Latief/KOMPAS.com Selama periode 2000-2014 alumni beasiswa StuNed tercatat mencapai 1.746 mahasiswa. Sementara untuk beasiswa short course sebanyak 1.455.

Menurut Indy, bukan hanya ketersediaan bidang ilmu yang membuat mahasiswa Indonesia terpincut dengan Negeri Kincir Angin tersebut, tetapi juga ketersediaan kuliner asal Indonesia.

"Di Belanda ada banyak sekali restoran Indonesia yang bisa mengobati home sick. Ini adalah satu nilai tambah bagi mahasiswa Indonesia," ujarnya kembali.

Pada dasarnya, kata Indy, kuliah di luar negeri masih jadi cita-cita banyak orang Indonesia. Bukan hanya soal gengsi, melainkan kesempatan berkuliah di luar negeri bisa menjadi bekal penting untuk menghadapi persaingan global.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X