Wisnubrata
Assistant Managing Editor Kompas.com.

Wartawan, penggemar olahraga, penyuka seni dan kebudayaan, pecinta keluarga

Pentingnya Mendampingi Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah

Kompas.com - 19/07/2016, 06:51 WIB
Guru bersalaman dengan murid baru kelas I saat hari pertama masuk sekolah, di SD Negeri Palmerah 07 Pagi, Palmerah Utara, Jakarta, Senin (18/7/2016). Sebanyak 65 murid baru di SDN Palmerah 07 Pagi nampak diantar oleh orangtua pada hari pertama tahun ajaran baru 2016/2017.

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESGuru bersalaman dengan murid baru kelas I saat hari pertama masuk sekolah, di SD Negeri Palmerah 07 Pagi, Palmerah Utara, Jakarta, Senin (18/7/2016). Sebanyak 65 murid baru di SDN Palmerah 07 Pagi nampak diantar oleh orangtua pada hari pertama tahun ajaran baru 2016/2017.
EditorAmir Sodikin

The most important day of a person's education is the first day of school, not Graduation Day.    

Hari pertama sekolah adalah peristiwa penting bagi anak-anak. Begitu penting sehingga banyak yang mengingatnya sampai dewasa, termasuk saya.

Saat pertama memasuki Taman Kanak-kanak puluhan tahun lalu, saya termasuk yang enggan dan gentar memasuki masa sekolah. Saya takut anak-anak lain akan nakal kepada saya, gurunya galak, atau pelajarannya sulit.

Kekhawatiran saya barangkali beralasan. Saya termasuk anak yang jarang bergaul di luar lingkungan keluarga.

Saya juga termasuk anak kesayangan kakek-nenek yang selalu ada dalam perlindungan mereka. Ditambah saya kurang bisa berbahasa Indonesia saat itu, karena di rumah selalu memakai bahasa Jawa.

Maka hari pertama sekolah adalah hari yang ingin saya hindari, atau kalau bisa ditunda.

Ketika saatnya tiba, saya berangkat diantar Bapak yang sengaja izin masuk kerja lebih siang. Kami berjalan menuju halaman sekolah tempat anak-anak lain sudah berkumpul. Tangan saya tak lepas dari gandengan Bapak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat guru-guru meminta anak-anak berbaris dan para orangtua diminta bergeser ke tepi, hati saya makin ciut. Tangisan beberapa anak lain yang tak ingin berpisah dari orangtuanya membuat ingin rasanya berlari ke gandengan Bapak dan pulang ke rumah.

Sorot ketakutan di mata saya sepertinya disadari Bapak. Hal yang kemudian membuat saya sedikit tenang adalah saat Bapak saya mendekati guru yang bertanggung jawab di kelas saya dan mengajaknya berbicara, sambil sesekali menengok ke arah saya, seolah mengatakan, “Itu anakku, tolong dijaga.”

Kehadiran Bapak di hari pertama sekolah itu seperti menegaskan bahwa telah terjadi pengertian antara pihak sekolah dengan Bapakku sehingga aku akan baik-baik saja.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.