Indy Hardono
Pemerhati pendidikan

Saat ini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta. Sebelumnya, penulis pernah menjadi Programme Coordinator di ASEAN Foundation. 

Belajar Berpikir Kecil...

Kompas.com - 02/12/2016, 17:04 WIB
Banyak pemimpin yang dikategorikan sebagar pemimpin besar, bahkan diagungkan bak raja atau panglima perang hanya karena memiliki massa besar, didukung kekuatan besar, berbicara paling besar www.shutterstock.comBanyak pemimpin yang dikategorikan sebagar pemimpin besar, bahkan diagungkan bak raja atau panglima perang hanya karena memiliki massa besar, didukung kekuatan besar, berbicara paling besar
EditorLatief

Inilah era atau momentum manusia bukan lagi berbicara tentang cara membuat pesawat berbadan lebar dengan kapasitas 400 penumpang atau lebih, tapi berangan membuat sebuah mesin yang dapat ditanamkan di pembuluh darah seseorang untuk membantu mengefektifkan pengobatan penderita tumor.

Berpikir kecil

Segala yang besar dibangun dari partikel dan komponen-komponen kecil. Tapi, kadang kita lupa, kita ingin langsung mendapat hasil langsung besar. Kita bahkan terbiasa menghargai  pencapaian yang terlihat besar tanpa perduli kalau hasil besar adalah buah dari bibit-bibit kecil.

Kalau kita berenang di kolam kecil, maka kita merasa besar. Padahal, jika kita berenang di tengah lautan Pasifik, barulah kita merasakan betapa kita hanyalah buih kecil, sangat tak berarti.

Pun, jika kita hanya berkutat di satu lingkungan, satu organisasi, satu paham, dan merasa kita sudah berada di puncak dunia, maka hal selanjutnya yang terjadi adalah tergerusnya kita oleh zaman. Kita tidak akan kemana-mana, kita akan terborgol dengan ‘kebesaran’ itu sendiri. Itu-itu saja, dan cuma di situ-situ saja!

Maka, ketika segala persoalan bangsa ini diselesaikan dengan pendekatan makrosopik dan bukan mikroskopik, kita akan cenderung melihat hanya yang terlihat besar saja, namun tidak akan dapat mendeteksi inti permasalahannya, yang bak motor nano, yang hanya berbentuk serpihan bubuk tidak kasat mata.

Tak syak, jika kita menyelesaikan dengan cara makro, masif, akbar, teriakan, cercaan, hujatan dan bukan dengan pendekatan nano seperti nilai-nilai, dan kearifan lokal, maka sudah dapat kita tebak seperti apa hasilnya. Kita hanya berhenti pada hal-hal yang sifatnya kasat mata. Kita lupa, kalau kita tidak akan jadi besar dengan membesarkan ego.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seni dari bangunan kecil

Jawaban dari kemajuan teknologi kedokteran, dirgantara, energi terbarukan, teknologi pangan tidak didapat dari batu meteor raksasa yang jatuh ke bumi atau dari tornado yang menyapu bersih sebuah benua.

Jawaban dari peradaban masa depan adalah perjalanan kita ke "dalam" atau ke inti dari  semua mahluk hidup, yaitu sel dan molekul, nukleus!

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.