Guru Terkendala Fasilitas, Pengangkatan Tenaga Honorer Dipertimbangkan

Kompas.com - 15/05/2017, 22:15 WIB
KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN Sejumlah siswa menggunakan perahu motor dari Pulau Wokam untuk bersekolah di Pulau Wamar, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, awal Mei lalu. Jarak antardua pulau itu lebih kurang 2 kilometer. Untuk menuntut ilmu, mereka kadang harus bergelut dengan gelombang tinggi. Faktor geografis menjadi alasan sejumlah guru di wilayah itu mangkir dari sekolah.

DOBO, KOMPAS — Pendidikan adalah kunci masa depan bangsa. Namun, di sejumlah daerah terpencil, ditemukan peserta didik ditelantarkan karena ketiadaan guru di sekolah. Proses belajar-mengajar tak lancar. Faktornya antara lain ketiadaan fasilitas dan distribusi guru yang tak merata.

Salah satu temuan ketidakhadiran guru yang membuat anak didik telantar ada di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Guru-guru sering meninggalkan sekolah selama berbulan-bulan karena memilih tinggal di Dobo, ibu kota kabupaten.

Persoalan ini ditemui Kompas dalam Ekspedisi Kas Keliling Bank Indonesia Provinsi Maluku pada 3-9 Mei. Persoalan serupa mengemuka saat kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang meninjau pelaksanaan ujian nasional SMA di Dobo, April lalu.

Bupati Kepulauan Aru Johan Gonga mengatakan, ada julukan guru ujian bagi guru-guru di daerah pedalaman. "Guru-guru baru hadir jika siswa sudah mau ujian. Sebab, para guru lebih senang berada di kota. Kami sulit memaksa guru tinggal di pedalaman karena rumah dinas guru tidak tersedia," ujar Johan.

Ekspedisi yang diikuti Kompas mendatangi daerah Wamar di Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kola di Kecamatan Aru Utara, dan Trangan di Kecamatan Aru Selatan Timur. Di SD Negeri Batugoyang, Kecamatan Aru Selatan Timur, guru yang mengajar didominasi peserta program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T).

"Mereka (guru yang ditempatkan pemerintah daerah) lebih banyak di Dobo. Dengan kehadiran kami, itu bisa membantu siswa," kata Dian Navi (24), guru SM3T yang ditemui dalam perjalanan dari Batugoyang ke Dobo, pekan lalu. Guru-guru resmi memilih membangun rumah di Dobo.

Pemerhati masalah pendidikan di Maluku, Stanley Ferdinandus, mengatakan, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Kepulauan Aru, tetapi juga sebagian besar kabupaten lain di Maluku. Menurut dia, penyelenggaraan pendidikan yang masih di bawah standar ada di hampir semua pulau kecil di Maluku.

Masalah yang sama ditemukan di sejumlah kawasan terpencil lainnya, seperti di Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Papua, dan bahkan Jawa Barat.

Data Dinas Pendidikan Papua, misalnya, menunjukkan sekitar 40 persen dari total 28.012 guru di provinsi itu, yakni 11.204 orang, mangkir dari tempat tugas. Kondisi ini tak hanya terjadi di kawasan pinggiran dan terpencil, tetapi juga di perkotaan.

Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengakui masih kurangnya kehadiran guru atau kepala sekolah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). "Memang kehadiran guru atau kepala sekolah masih rendah di daerah 3T," ujar Sumarna Surapranata, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, Sabtu.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorBayu Galih
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X