Material, Ilmu Futuristik yang Terlupakan di Indonesia

Kompas.com - 05/03/2018, 20:50 WIB
Pekerja menekan tungku pembakaran timah untuk mengeluarkan timah cair pada proses produksi timah di pabrik Unit Metalurgi Muntok PT Timah (Tbk) di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung, Minggu (9/5/2010). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 45.086 metrik ton pada tahun 2009.KOMPAS/RIZA FATHONI Pekerja menekan tungku pembakaran timah untuk mengeluarkan timah cair pada proses produksi timah di pabrik Unit Metalurgi Muntok PT Timah (Tbk) di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung, Minggu (9/5/2010). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 45.086 metrik ton pada tahun 2009.

"Mempelajari ilmu bahan adalah sebuah pengalaman yang mengasyikkan. Karena, dengan menekuni bidang teknik material dan metalurgi, kalian telah mengawinsilangkan banyak sekali cabang ilmu, mulai fisika, kimia, biologi, dan tentu saja engineering. Dan asal tahu saja, sejak zaman Ken Arok pun, bidang ilmu kita telah menjadi pijakan utama di dalam pembuatan keris oleh Mpu Gandring, ilmu perlakuan panas dalam metalurgi."

PERNYATAAN itu disampaikan oleh Dr Sungging Pintowantoro, ST, MT saat pembukaan masa orientasi mahasiswa baru teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, pada 2012.

Pengembangan program studi ilmu bahan di Indonesia telah dimulai lebih dari setengah abad lalu. Diawali oleh Universitas Indonesia (UI) yang membuka Jurusan Metalurgi (sekarang Departemen Teknik Metalurgi dan Material) pada 1965, lalu diikuti oleh KBK Teknik Produksi dan Metalurgi (cikal bakal Teknik Material) yang didirikan sejak 1970 oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).

Berikutnya ada juga Jurusan Metalurgi yang didirikan pada 1982 oleh Sekolah Tinggi Teknologi (sekarang Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa) dan terus berlanjut. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) juga menelurkan Jurusan Teknik Material dan Metalurgi (sekarang Departemen Teknik Material) pada 1999.

Proses tersebut tak berhenti di sana karena ternyata beberapa tahun berikutnya ITB mendirikan lagi program studi Teknik Metalurgi.

Ada pula Universitas Jenderal Achmad Yani dengan Jurusan Metalurgi, Institut Teknologi Sains Bandung dengan program studi Teknik Metalurgi dan Material, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung dengan Jurusan Teknik Pengecoran Logam, Universitas Teknologi Sumbawa dengan Prodi Teknik Metalurgi, serta banyak lagi program studi serupa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Sebelumnya, perlu kita ketahui bersama bahwa teknik material adalah sebuah cabang ilmu tua yang sebenarnya telah dipelajari jauh sebelum industri modern beroperasi, tepatnya pada tahun 3.000 Sebelum Masehi, saat manusia mulai mencampurkan berbagai unsur logam ke dalam tembaga untuk selanjutnya dilebur dan dibentuk sesuai kegunaannya.

Selanjutnya bidang ini dilestarikan oleh para blacksmith dan para pembuat senjata logam lewat ilmu metalurgi tradisional yang masih hanya terfokus pada pemaduan logam dan mekanisme perlakuan panas sederhana.

Hingga pada 1760–1840 (saat revolusi industri), banyak sekali ditemukan inovasi-inovasi di bidang logam (metalurgi) yang memiliki manfaat lebih besar untuk kemanusiaan.

Setelah momen tersebut, ilmu dan bidang keteknikan metalurgi di berbagai perguruan tinggi internasional mulai dikenal secara masif. Padahal, ketika kita merujuk pada definisi utuh bidang teknik material modern, metalurgi adalah cabang ilmu sempit yang hanya terfokus pada logam.

Adapun pembagian material sendiri ada yang berupa logam dan non logam, yang lebih spesifik lagi ada juga cabang sub-ilmu yang mempelajari material non logam padat (non metal element solids/NMESs) dan non-padat (gas/cairan), serta gabungan paduan logam dan non logam (komposit, beton, dll), juga bahan unik yang baru beberapa dekade ke belakang dikembangkan secara masif: polimer.

Ironisnya meski telah banyak program studi yang menawarkan fokusan di bidang teknik material (dan metalurgi), ternyata tak membuat Indonesia menjadi salah satu pioneer di bidang tersebut. Bahkan masih saja ada yang belum mengenal apa itu teknik material secara spesifik.

Padahal jika kita menengok sejenak dan keluar dari zona nyaman negeri Zamrud Khatulistiwa, perkembangan bidang material sangat amat pesat.

Bahkan di Asia saja pengembangan lanjutan dari bidang Materials Science and Engineering telah sampai pada tahap advance nano-materials. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Realitanya, para mahasiswa dan peneliti di bidang ini masih mengalami banyak kesulitan untuk menjangkau area nano, terutama jika sudah masuk ke ranah pengujian dan karakterisasi.

"Di kantor saya saja masih susah jika penelitian pengembangan materialnya harus melibatkan alat pengujian modern dan skala nano. Alhasil, ya mentok paling pakai SEM (scanning electron microscope) yang jangkauannya di skala mikro. Mau TEM (transmission electron microscopy) saja susah karena preparasinya mahal dan enggak semua lembaga punya alatnya," ujar salah satu peneliti muda di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang penulis temui beberapa waktu lalu.

Tentunya fakta ini harus menjadi lecutan dan tamparan keras bagi para pemangku kebijakan serta peneliti praktis dan akademis Indonesia. Karena, mau tak mau, kemajuan pembangunan infrastruktur masa depan memerlukan pengembangan ilmu bahan (material) yang signifikan.

Bukan hanya ilmu sipil dan arsitektur yang menjadi pijakan pembangunan infrastruktur karena metode pembangunan dan desain bangunan pun memerlukan bahan yang berkualitas untuk bisa menghasilkan infrastruktur yang tahan lama.

Apalagi ketika kita tengok ke para raksasa teknologi Asia, seperti Jepang, India, Korea, China, Taiwan, di mana pengembangan material telah sampai pada electronic device advancement yang secara otomatis juga mengobok-obok bidang ilmu elektronik dan robotika.

Terakhir untuk para materials/metallurgical engineer, sudahkah kalian siap menopang beban berat memajukan industri material dan metalurgi Indonesia jika jalannya telah terbuka lebar nanti?

Ini adalah tantangan yang harus kita pikirkan dan lalui bersama demi masa depan Indonesia yang benar-benar berdikari teknologi.

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Mahasiswa S2 di Materials Science and Engineering, National Central University (NCU) Taiwan.
Sekretaris Jenderal PPI Taiwan (ppidunia.org)


Terkini Lainnya

BNN: Sepanjang 2018, 2 Juta Mahasiswa dan 1,5 Juta Pekerja Terlibat Narkoba

BNN: Sepanjang 2018, 2 Juta Mahasiswa dan 1,5 Juta Pekerja Terlibat Narkoba

Megapolitan
Mahasiswa Universitas Timor Tewas Ditikam Temannya saat Sedang Berdiskusi

Mahasiswa Universitas Timor Tewas Ditikam Temannya saat Sedang Berdiskusi

Regional
Sisihkan Gajinya Bagi Siswa Miskin, Guru di Kenya Ini Menang Hadiah Rp 14 Miliar

Sisihkan Gajinya Bagi Siswa Miskin, Guru di Kenya Ini Menang Hadiah Rp 14 Miliar

Internasional
Datangi Polda Metro, Joko Driyono Kembali Jalani Pemeriksaan Pagi Ini

Datangi Polda Metro, Joko Driyono Kembali Jalani Pemeriksaan Pagi Ini

Megapolitan
Anies Jajal Halte Transjakarta Bundaran HI yang Terintegrasi dengan Stasiun MRT

Anies Jajal Halte Transjakarta Bundaran HI yang Terintegrasi dengan Stasiun MRT

Megapolitan
Bayi Prabowo Lebih Agresif Saat Menyusui daripada Bayi Sandiaga (2)

Bayi Prabowo Lebih Agresif Saat Menyusui daripada Bayi Sandiaga (2)

Regional
KPU Fasilitasi Kampanye Peserta Pemilu di Media Massa

KPU Fasilitasi Kampanye Peserta Pemilu di Media Massa

Nasional
BPN Prabowo-Sandiaga Luncurkan Aplikasi Kawal Suara Pemilu 2019

BPN Prabowo-Sandiaga Luncurkan Aplikasi Kawal Suara Pemilu 2019

Nasional
Begini Cara TM Ragunan Mengembangbiakkan Harimau Sumatera

Begini Cara TM Ragunan Mengembangbiakkan Harimau Sumatera

Megapolitan
KPK Lakukan Pencegahan Korupsi Terintegrasi di Provinsi Maluku

KPK Lakukan Pencegahan Korupsi Terintegrasi di Provinsi Maluku

Nasional
Peserta Pemilu Dilarang Beri Uang Transportasi untuk Kampanye Terbuka

Peserta Pemilu Dilarang Beri Uang Transportasi untuk Kampanye Terbuka

Regional
Di Gunung Tidar, Gubernur Ganjar dan Warga Gelar Slametan Puser Bumi

Di Gunung Tidar, Gubernur Ganjar dan Warga Gelar Slametan Puser Bumi

Nasional
Plt Bupati Cianjur Sarankan Kotak Suara Pemilu Dibuat Transparan

Plt Bupati Cianjur Sarankan Kotak Suara Pemilu Dibuat Transparan

Regional
Kisah Pilu Taufik, Malaikat Kecil Penyelamat Turis Malaysia yang Jadi Tulang Punggung Keluarga (1)

Kisah Pilu Taufik, Malaikat Kecil Penyelamat Turis Malaysia yang Jadi Tulang Punggung Keluarga (1)

Regional
[POPULER MEGAPOLITAN] Anies Berterima Kasih ke Sutiyoso hingga Ahok | Cerita Sutiyoso soal Mimpi MRT

[POPULER MEGAPOLITAN] Anies Berterima Kasih ke Sutiyoso hingga Ahok | Cerita Sutiyoso soal Mimpi MRT

Megapolitan


Close Ads X