Material, Ilmu Futuristik yang Terlupakan di Indonesia

Kompas.com - 05/03/2018, 20:50 WIB
Pekerja menekan tungku pembakaran timah untuk mengeluarkan timah cair pada proses produksi timah di pabrik Unit Metalurgi Muntok PT Timah (Tbk) di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung, Minggu (9/5/2010). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 45.086 metrik ton pada tahun 2009. KOMPAS/RIZA FATHONIPekerja menekan tungku pembakaran timah untuk mengeluarkan timah cair pada proses produksi timah di pabrik Unit Metalurgi Muntok PT Timah (Tbk) di Muntok, Bangka Barat, Bangka Belitung, Minggu (9/5/2010). Pabrik ini memiliki kapasitas produksi 45.086 metrik ton pada tahun 2009.

Adapun pembagian material sendiri ada yang berupa logam dan non logam, yang lebih spesifik lagi ada juga cabang sub-ilmu yang mempelajari material non logam padat (non metal element solids/NMESs) dan non-padat (gas/cairan), serta gabungan paduan logam dan non logam (komposit, beton, dll), juga bahan unik yang baru beberapa dekade ke belakang dikembangkan secara masif: polimer.

Ironisnya meski telah banyak program studi yang menawarkan fokusan di bidang teknik material (dan metalurgi), ternyata tak membuat Indonesia menjadi salah satu pioneer di bidang tersebut. Bahkan masih saja ada yang belum mengenal apa itu teknik material secara spesifik.

Padahal jika kita menengok sejenak dan keluar dari zona nyaman negeri Zamrud Khatulistiwa, perkembangan bidang material sangat amat pesat.

Bahkan di Asia saja pengembangan lanjutan dari bidang Materials Science and Engineering telah sampai pada tahap advance nano-materials. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Realitanya, para mahasiswa dan peneliti di bidang ini masih mengalami banyak kesulitan untuk menjangkau area nano, terutama jika sudah masuk ke ranah pengujian dan karakterisasi.

"Di kantor saya saja masih susah jika penelitian pengembangan materialnya harus melibatkan alat pengujian modern dan skala nano. Alhasil, ya mentok paling pakai SEM (scanning electron microscope) yang jangkauannya di skala mikro. Mau TEM (transmission electron microscopy) saja susah karena preparasinya mahal dan enggak semua lembaga punya alatnya," ujar salah satu peneliti muda di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang penulis temui beberapa waktu lalu.

Tentunya fakta ini harus menjadi lecutan dan tamparan keras bagi para pemangku kebijakan serta peneliti praktis dan akademis Indonesia. Karena, mau tak mau, kemajuan pembangunan infrastruktur masa depan memerlukan pengembangan ilmu bahan (material) yang signifikan.

Bukan hanya ilmu sipil dan arsitektur yang menjadi pijakan pembangunan infrastruktur karena metode pembangunan dan desain bangunan pun memerlukan bahan yang berkualitas untuk bisa menghasilkan infrastruktur yang tahan lama.

Apalagi ketika kita tengok ke para raksasa teknologi Asia, seperti Jepang, India, Korea, China, Taiwan, di mana pengembangan material telah sampai pada electronic device advancement yang secara otomatis juga mengobok-obok bidang ilmu elektronik dan robotika.

Terakhir untuk para materials/metallurgical engineer, sudahkah kalian siap menopang beban berat memajukan industri material dan metalurgi Indonesia jika jalannya telah terbuka lebar nanti?

Ini adalah tantangan yang harus kita pikirkan dan lalui bersama demi masa depan Indonesia yang benar-benar berdikari teknologi.

Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Mahasiswa S2 di Materials Science and Engineering, National Central University (NCU) Taiwan.
Sekretaris Jenderal PPI Taiwan (ppidunia.org)

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads X