“Berbeda” Bukan Berarti Harus Disingkirkan

Kompas.com - 02/04/2018, 07:00 WIB
Membuat topeng kertas, salah satu kegiatan dalam acara Perempuan Disabilitas Mengubah Dunia di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/3/2018). Dalam acara yang digelar bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional tersebut, para penyandang disabilitas bukan hanya mempersiapkan dan menjalankan acara namun juga melakukan lomba-lomba dan aktivitas lain seperti workshop tata rias, membuat topeng, melukis, dan lainnya.KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA Membuat topeng kertas, salah satu kegiatan dalam acara Perempuan Disabilitas Mengubah Dunia di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/3/2018). Dalam acara yang digelar bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional tersebut, para penyandang disabilitas bukan hanya mempersiapkan dan menjalankan acara namun juga melakukan lomba-lomba dan aktivitas lain seperti workshop tata rias, membuat topeng, melukis, dan lainnya.

The child that is hungry must be food. The child that is sick must be nursed. The child that is physically and mentally handicaped must be helped. The maladjusted child must be reeducated. The orphan and the waif must be sheltered and secured. (Deklarasi Hak Anak)

Pada saat Adolf Hitler berkuasa di Jerman, kaum Nazi Jerman mengembangkan konsep rasisme yang mengunggulkan ras Arya (orang Jerman) sebagai ras paling unggul di muka bumi.

Oleh karena itu salah satu tugas mereka adalah menyingkirkan musuh, orang-orang yang “berbeda” dianggap sebagai manusia yang tidak berguna, dengan demikian masyarakat akan steril dan berdaya guna. Tindak lanjutnya adalah pembersihan etnis dan menyingkirkan mereka yang membebani masyarakat, termasuk orang Jerman sendiri.

Akhir tahun 1938, Dr.Karl Brandt, dokter pribadi Hitler, memberikan sebuah surat kepada Hitler. Surat itu berisi tentang permintaan izin seorang ayah untuk membunuh anaknya yang cacat. Hitler setuju.

Anak itu kemudian dibunuh pada bulan Juli 1939. Lebih jauh lagi Melalui memo rahasia tanggal 1 September 1939, Hitler memerintahkan orang-orangnya untuk menghabisi semua anak cacat di seluruh Jerman karena mereka hanya akan membebani keuangan masyarakat dan negara.

Hitler kemudian membuat program Aktion-T yang dipimpin Philip Bouhler untuk menyeleksi dan membunuh anak-anak cacat dalam hitungan hari setelah mereka lahir. Bouhler memerintahkan untuk mencari anak-anak yang diduga cacat, kemudian menuliskan biodata dan ciri-ciri anak itu di selembar formulir.

Formulir itu kemudian diserahkan kepada para dokter khusus yang akan menentukan apakah anak tersebut layak untuk hidup; jika tidak, mereka akan menandai formulir itu dengan tanda “X”. Setelah itu, mereka akan ditugaskan untuk menjemput anak yang dianggap “tak layak hidup” untuk kemudian dikumpulkan dan dibunuh.

Sampai dengan Oktober 1941 program Aktion-T telah “berhasil” membantai 200.000 anak cacat melalui berbagai metode keji, misalnya dengan menyuntikkan luminal atau morfin dengan dosis yang mematikan ke dalam tubuh, dilaparkan hingga meninggal, atau dimasukkan ke dalam ruang gas beracun.

Sejarah juga menunjukkan bahwa individu yang dianggap “berbeda” dengan orang kebanyakan lebih sering ditolak keberadaannya dalam masyarakat. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa anggota kelompok yang terlalu lemah (penyandang cacat) tidak mungkin dapat berkontribusi terhadap kelompoknya.

Mereka yang berbeda karena menyandang kecacatan, disingkirkan, tidak memperoleh sentuhan kasih sayang dan kontak sosial yang bermakna. Keberadaan penyandang cacat tidak diakui oleh masyarakat. Lebih jauh lagi, ketidaktahuan orangtua dan masyarakat menyebabkan munculnya kepercayaan dan keyakinan bahwa memiliki anak cacat merupakan hukuman dari Tuhan.

Oleh sebab itu di masa lalu banyak penyandang cacat yang disembunyikan oleh orangtua atau keluarganya karena memiliki anak cacat merupakan sebuah aib. Demikian disampaikan oleh Dr. Dedy Kurniadi, dosen program studi pendidikan khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam makalahnya “Konsep Dasar Pengelolaan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus/ABK.”

Bahkan beberapa waktu yang lalu sempat diliput di berbagai media, di Bekasi masih dapat ditemukan anak yang dipasung karena mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini dialami oleh Gia Wahyuningsih yang baru berusia 5 tahun dan sudah dipasung di dinding rumah oleh ayahnya sejak usia 2 tahun. Alasannya, tidak ada yang merawat selama ayahnya mengamen.

Gia dipasangi ikat pinggang yang dililitkan kain, lalu diikat ke paku besar yang ditancapkan di dinding rumah. Sejak usia 2 tahun Gia sudah menunjukkan gejala keterbelakangan mental, tidak mampu merawat diri sendiri, dianggap hiperaktif dan tidak bisa berbicara. Akibat pemasungan ini memperparah kondisi psikologis Gia.

Halaman:


Terkini Lainnya

Hilang Dua Pekan di Hutan, Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Hilang Dua Pekan di Hutan, Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Internasional
Bambang Widjojanto Sebut soal Rezim Korup, Sandiaga: Ini Bentuk Kekhawatiran Masyarakat

Bambang Widjojanto Sebut soal Rezim Korup, Sandiaga: Ini Bentuk Kekhawatiran Masyarakat

Megapolitan
Long Bambu, Gelegar Tradisi Ramadhan di Gunungkidul yang Berusia Ratusan Tahun

Long Bambu, Gelegar Tradisi Ramadhan di Gunungkidul yang Berusia Ratusan Tahun

Regional
Pasar Tanah Abang Kembali Menggeliat Setelah Tutup karena Rusuh 22 Mei

Pasar Tanah Abang Kembali Menggeliat Setelah Tutup karena Rusuh 22 Mei

Megapolitan
Prabowo-Sandiaga Siap Hadiri Sidang Pertama Gugatan Hasil Pilpres 2019 di MK

Prabowo-Sandiaga Siap Hadiri Sidang Pertama Gugatan Hasil Pilpres 2019 di MK

Megapolitan
Digugat Ratusan Peserta Pemilu di MK, KPU Siapkan Dua Hal Ini

Digugat Ratusan Peserta Pemilu di MK, KPU Siapkan Dua Hal Ini

Nasional
Tim Kuasa Hukum KPU Sebut Tak Ada Persiapan Khusus Hadapi Gugatan Prabowo-Sandiaga

Tim Kuasa Hukum KPU Sebut Tak Ada Persiapan Khusus Hadapi Gugatan Prabowo-Sandiaga

Nasional
Sandiaga: Bambang Widjojanto Punya Rekam Jejak yang Baik Tangani Gugatan di MK

Sandiaga: Bambang Widjojanto Punya Rekam Jejak yang Baik Tangani Gugatan di MK

Megapolitan
Tiket Mahal, Hanya Lion Air dan Sriwijaya yang Punya Extra Flight, Itu Pun Sekali Sehari...

Tiket Mahal, Hanya Lion Air dan Sriwijaya yang Punya Extra Flight, Itu Pun Sekali Sehari...

Regional
Jenazah Bayi Kembar dengan Tali Pusar Ditemukan Mengambang di Kali

Jenazah Bayi Kembar dengan Tali Pusar Ditemukan Mengambang di Kali

Regional
Tradisi Weh Huweh di Demak, Bebas Bertukar Makanan Saat Ramadhan...

Tradisi Weh Huweh di Demak, Bebas Bertukar Makanan Saat Ramadhan...

Regional
Selisih 16,9 Juta Suara, Kubu Jokowi Nilai Gugatan ke MK Sulit Ubah Hasil Pilpres

Selisih 16,9 Juta Suara, Kubu Jokowi Nilai Gugatan ke MK Sulit Ubah Hasil Pilpres

Nasional
Begini Desain Masjid Karya Ridwan Kamil yang Akan Dibangun di Gaza Palestina

Begini Desain Masjid Karya Ridwan Kamil yang Akan Dibangun di Gaza Palestina

Regional
Amnesty International Minta Kekerasan 22 Mei 2019 Diusut Tuntas

Amnesty International Minta Kekerasan 22 Mei 2019 Diusut Tuntas

Nasional
Polisi Perancis Buru Pelaku Serangan Bom di Lyon

Polisi Perancis Buru Pelaku Serangan Bom di Lyon

Internasional

Close Ads X