Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/04/2018, 07:52 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Terlepas dari akurasi akan apa yang ia katakan, saya menangkap kesan bahwa Menteri Pendidikan kita menyadari bahwa kehidupan itu keras dan selalu hadir tak terduga. Dan, hanya manusia dewasa dan terdidik untuk berpikir kritis dalam segala situasilah yang mampu menghadapinya.

Muhadjir mungkin juga menyadari bahwa critical-thinking memiliki turunan pada dua bentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi lainnya, yaitu problem-solving dan creative-thinking. Keduanya vital bagi dunia pendidikan dan industri.

Mengingat pentingnya, berbalik dengan Indonesia dan negara-negara Muslim serta Asia kebanyakan, pendidikan kritis di negara-negara Barat telah menyatu sempurna dengan sistem pendidikannya.

Di kampus-kampus di Australia, atau kampus saya sendiri, Flinders, misalnya, hal ini sangat ditekankan.

Implikasinya, rekan-rekan saya mahasiswa dari negara-negara Asia Tenggara--kecuali Singapura dan Malaysia--penerima Australia Award Scholarship (AAS) menjalani pelatihan berbulan-bulan di Indonesia dan diperkuat lagi di Australia sebelum studi mereka bermula. Salah satu tujuan pelatihan ini adalah mengasah kemampuan berpikir kritis.

Pelatihan ini diadakan karena kesadaran Australia akan gap antarsistem pendidikan mahasiswa internasional dari negara-negara berkembang peserta AAS.

Kebanyakan siswa dari negara-negara dunia ketiga di Asia itu tidak mengenal bentuk formal dari struktur tulisan serta bagaimana pengaruh pilihan kata terhadap intensi dari pesan yang terungkap bagi pembaca. Mereka juga kurang memiliki tendensi untuk menemukan kekurangan dari literatur.

Kekurangan akan kemampuan dan sikap kritis ini menyebabkan mereka "secara alami" gagal menganalisis dan menunjukkan kekuatan serta kelemahan dari suatu argumen, sehingga terkesan melumat mentah-mentah pendapat ahli dari suatu tulisan.

Mengingat bahwa menulis juga diartikan sebagai proses untuk menawarkan inovasi, maka tulisan yang tidak kritis akan menyumbang nihil bagi pengetahuan. Di Barat, cara menulis seperti ini diganjar dengan skor minimal.

Tentu, pengalaman itu menjelaskan mengapa pada awalnya saya kesulitan karena saya termasuk mahasiswa yang jarang terpapar dengan tugas kuliah yang memberi ruang berpikir untuk menemukan suatu gagasan baru.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+