Kompas.com - 20/05/2018, 21:40 WIB
Acara StuNed Awardee Welcoming Session menjadi pembekalan penerima beasiswa StuNed sebelum keberangkatan (20/5/2018) Dok. Nuffic NesoAcara StuNed Awardee Welcoming Session menjadi pembekalan penerima beasiswa StuNed sebelum keberangkatan (20/5/2018)

Berangkat dari StuNed yang telah mencetak lulusan terbaik maka para alumni StuNed sepakat untuk dapat memaksimalkan kontribusi kepada Indonesia dan juga mendorong Kerjasama bilateral yang lebih komperhensif antara Indonesia-Belanda.

Untuk mencapai tujuan tersebut, bersamaan dengan "StuNed Awardee Welcoming Session" telah diresmikan Ikatan Alumni StuNed atau I Am StuNed yang diharapkan menjadi wadah untuk menghubungkan, mengkomunikasikan, mengkolaborasikan, dan menyinergikan ide, potensi dan pemikiran alumni StuNed. 

"Hubungan Indonesia dan Belanda semakin kuat dan terus berkembang. Tidak ada lagi permasalahan masa lalu yang ada kita melihat kerjasama ke depan," jelas Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Azis Nurwahyudi yang turut hadir dalam acara ini. 

Tidak hanya pendidikan, kerjasama ekonomi antara pemerintah Indonesia dan Belanda sangat kuat. Kita memiliki banyak projek kerjasama dan sumber daya manusia juga kita saling mengembangkan, tambah Azis.

Kita juga patut berbangga karena saat ini Indonesia juga sudah tidak lagi tergantung pada banyaknya beasiswa. Ada banyak golongan menengah yang dengan biaya mereka sendiri melanjutkan studi mereka ke Belanda.

"Tidak hanya itu, Indonesia juga memberikan beasiswa kepada pemuda-pemudi Belanda melalui Kemlu, Kemenristekdikti maupun Kemendikbud. Jadi ini memang sudah saatnya Indonesia juga memberi. Tidak terus 'menengadahkan tangan'. Kita harusnya bangga," kata Azis menjelaskan hubungan bilateral Indonesia dan Belanda.

Ketua Ikatan Alumni StuNed Immanuel Hutasoit kepada Kompas.com menyampaikan penerima beasiswa ingin memberikan kontribusi untuk pembangunan di Indonesia.

"StuNed tidak pernah membuat perjanjian dan memaksa penerima beasiswa harus kembali pulang ke Indonesia. Namun dari data yang kami miliki, 95% alumni penerima beasiswa StuNed pasti kembali ke Indonesia untuk membaktikan ilmunya," ujar Immanuel.

Oleh karena itu, kami ingin bersinergi bersama untuk memberikan makna yang positif bagi kehidupan masyarakat Indonesia, tambah Immanuel.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Duta Besar Kerajaan Belanda Rob Swartbol dan Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro yang juga merupakan alumni pendidikan Belanda (Delft University of Technology) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 1993-1998. Prof. Wardiman merupakan salah satu tokoh pendidikan nasional yang mendukung program StuNed dan pernah menjabat sebagai ketua komite pemilihan beasiswa StuNed. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X