'Ideologi Cinta' Itu Bernama Pancasila - Kompas.com

'Ideologi Cinta' Itu Bernama Pancasila

Kompas.com - 24/05/2018, 22:09 WIB
Burung garuda Pancasila berukuran besar di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (24/12/2017). KOMPAS.com/JESSI CARINA Burung garuda Pancasila berukuran besar di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (24/12/2017).

KOMPAS.com - Kasual dan kekinian. Itulah atmosfer yang tergambar dalam acara yang digelar Universitas Tarumanegara (Untar) bekerja sama dengan Komando Resort 052/Wijayakrama Kodam Jaya dalam seminar "Implementasi Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Milenial Zaman Now", Kamis, 24 Mei 2018 di kampus Untar Jakarta.

Atmofer yang mungkin tidak akan kita temui bila mengikuti berbagai seminar 'berbau' Pancasila era 'jaman old' di mana seminar-seminar Pancasila hadir dalam nuansa kaku, resmi dan formal.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Joni Suprianto pembicara utama pun berhasil memikat peserta yang tidak hanya berasal dari Untar namun juga beberapa universitas dan SMA lain. 

"Yang menjadi titik kritis bangsa ini adalah budaya generasi milenial yang instan dan juga mudah dipengaruhi," ujar Pangdam Jaya.

Mengapa? Salah satunya Pangdam Jaya menyontohkan tentang penggunaan teknologi. Teknologi yang diharapkan membantu manusia untuk hidup sejahtera, aman dan nyaman realita justru banyak dimanfaatkan kurang baik.

"Teknologi yang diharapkan dapat mempersatukan justru banyak dimanfaatkan untuk memecah belah. Generasi milenial hidup di era komunikasi yang justru kurang komunikatif," papar Pangdam Jaya.

Baca juga: Pesan Jokowi untuk Milenial: Manfaatkan Medsos dengan Bijak

Para pembicara Seminar Implementasi Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Milenial di Zaman Now bertempat di Untar (24/5/2018).Dok. Kompas.com Para pembicara Seminar Implementasi Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Milenial di Zaman Now bertempat di Untar (24/5/2018).

Salah satu pembicara, Audrey Yu Jia Hui, penulis buku "Mencari Sila Kelima", mengajak peserta yang hadir untuk melihat Pancasila secara berbeda. Pancasila yang bukan sebagai ideologi politis semata.

"Kita bisa menggunakan Pancasila untuk saling mencintai sesama manusia, apa pun agama atau sosio-ekonomi dan suku bangsa mereka," ujar Audrey.

Cinta yang didasarkan atas persaudaraan sesama bangsa dan negara akan melahirkan harapan untuk bersatu dan tidak gampang untuk dipecah-belah. Dari situlah kita bisa maju, tambahnya.

Itu mengapa, judul asli buku yang ia buat adalah "Mencari Tong Bao". Kata "Tong Bao" berasal dari bahasa Mandarin yang artinya "dari rahim yang sama". Jadi negara itu diibaratkan sebagai ibu yang punya rahim dan melahirkan seluruh warga negara. Sehingga seluruh warga negara itu sebetulnya bersaudara, karena lahir dari rahim ibu yang sama.  

Lalu bagaimana generasi milenial mengimplementasikan Pancasila?

"Dengan cinta yang universal. Maksudnya, tidak terbatas pada kelompok kecil tertentu," jelas Audrey. 

Semakin besar kemampuan manusia untuk mencintai, semakin bahagia dirinya. Jika sudah mampu melihat manusia, terutama sewarga negara, sebagai saudara, kita bisa lebih bahagia dan lebih penuh rasa kemanusiaan, jelasnya.

"Itu mengapa saya menyebut Pancasila sebagai 'ideologi cinta'," tegasnya.

Hadir sebagai pembicara yang lain dalam kesempatan tersebut: Dr. Martin Sinaga, Budayawan Mohammad Sobary, Komedian Mongol dan prajurit berprestasi TNI.

"Melalui seminar ini diharapkan agar para mahasiswa dapat menjadi generasi penerus yang memiliki nasionalisme tinggi dan menjadikan Pancasila sebagai pegangan hidup," ujar Rektor Untar Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan.

 

 


Komentar

Terkini Lainnya

Revisi Perda Larangan Becak Dinilai Perlu Didorong Dibanding Gugat ke MA

Revisi Perda Larangan Becak Dinilai Perlu Didorong Dibanding Gugat ke MA

Megapolitan
Polri Pertanyakan Tersebarnya Video Kepala Korps Brimob sebagai Kapolda Metro Jaya

Polri Pertanyakan Tersebarnya Video Kepala Korps Brimob sebagai Kapolda Metro Jaya

Megapolitan
Sanksi untuk Pejabat Pemkot Bekasi Diberikan Setelah Sidang Majelis Kode Etik

Sanksi untuk Pejabat Pemkot Bekasi Diberikan Setelah Sidang Majelis Kode Etik

Megapolitan
Golput Bentuk Kekecewaan Publik, Parpol Didesak Berubah

Golput Bentuk Kekecewaan Publik, Parpol Didesak Berubah

Nasional
Anak Malas Belajar? Coba 5 Tips Ini untuk Membuat Rajin

Anak Malas Belajar? Coba 5 Tips Ini untuk Membuat Rajin

Edukasi
Sambut Obor Asian Games, Ada Gelaran Budaya di Taman Fatahillah

Sambut Obor Asian Games, Ada Gelaran Budaya di Taman Fatahillah

Megapolitan
Putin akan Hadiri Pernikahan Menteri Luar Negeri Austria

Putin akan Hadiri Pernikahan Menteri Luar Negeri Austria

Internasional
Biografi Tokoh Dunia: Enzo Ferrari, Pendiri Mobil Mewah Ferrari

Biografi Tokoh Dunia: Enzo Ferrari, Pendiri Mobil Mewah Ferrari

Internasional
Lantik Rektor, Binus Ajak Mahasiswa Memiliki Daya Saing

Lantik Rektor, Binus Ajak Mahasiswa Memiliki Daya Saing

Edukasi
Pembangunan Jalur Dwi Ganda dari Stasiun Manggarai Selesai Tahun 2020

Pembangunan Jalur Dwi Ganda dari Stasiun Manggarai Selesai Tahun 2020

Megapolitan
Diperiksa 9,5 Jam, Idrus Marham Ingin Urusan soal PLTU Riau-1 Tuntas

Diperiksa 9,5 Jam, Idrus Marham Ingin Urusan soal PLTU Riau-1 Tuntas

Nasional
Ibu Korban Pembunuhan di Jalan Ciherang Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Ibu Korban Pembunuhan di Jalan Ciherang Minta Pelaku Dihukum Seberat-beratnya

Megapolitan
Ditinggal Pemiliknya, Seekor Angsa Jantan 'Diadopsi' Kampus di China

Ditinggal Pemiliknya, Seekor Angsa Jantan "Diadopsi" Kampus di China

Internasional
Ombudsman Minta Pj Wali Kota Bekasi Beri Sanksi ke Inspektorat, Kepala BKKPD, dan Kabag Humas  Bekasi

Ombudsman Minta Pj Wali Kota Bekasi Beri Sanksi ke Inspektorat, Kepala BKKPD, dan Kabag Humas Bekasi

Megapolitan
Ramai-ramai Wartawan Maju sebagai Caleg Partai Nasdem

Ramai-ramai Wartawan Maju sebagai Caleg Partai Nasdem

Nasional
Close Ads X