Ada Alunan Gamelan di Penerimaan Rapor SDS Kristoforus 2 - Kompas.com

Ada Alunan Gamelan di Penerimaan Rapor SDS Kristoforus 2

Kompas.com - 11/06/2018, 21:58 WIB
Pentas Seni SDS Kristoforus 2 Jakarta menampilkan kesenian gamelan (8/6/2018).Dok. SDS Kristoforus 2 Pentas Seni SDS Kristoforus 2 Jakarta menampilkan kesenian gamelan (8/6/2018).

KOMPAS.com - Pagi hari, Jumat 8 Juni 2018, SDS Santo Kristoforus 2 mengadakan acara rutin akhir tahun ajaran: pembagian rapor kenaikan kelas untuk seluruh orang tua/wali siswa kelas 1 hingga kelas 5.

Di halaman depan sekolah orang tua siswa murid disuguhi pemandangan panggung dengan latar bertuliskan "Pentas Seni". Namun ada hal yang menarik perhatian pada panggung pentas seni tersebut; dengan alat musik gamelan yang bersanding dengan alat musik modern.

Kian menarik, Pk. 07.30 beberapa siswa nampak bersimpuh memainkan lagu "Kebo Giro" dengan gamelan sebagai pembuka acara.

Kepada Kompas.com, Margi Pramono Wali Kelas 6 menyampaikan setiap acara penerimaan rapor, SDS Santo Kristoforus 2 memang selalu menampilkan kreativitas siswa yang telah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (eskul).

Beberapa kegiatan eskul kerap ditampilkan dalam pentas seni diantaranya; tari modern, vokal, permainan alat musik, drumband, dan tidak ketinggalan gamelan. Pembawa acara pun dibawakan oleh siswa sendiri. 

Gamelan dan drumband menjadi 'hiburan wajib' di setiap acara pentas seni sekolah yang berlokasi di Perum Citra Garden 2, Kalideres, Jakarta Barat itu, tambah Margi.

 

Mengapa gamelan?

Awalnya gamelan merupakan kegiatan yang hanya dilakukan para guru yang kebetulan sebagian besar berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Para guru sering menyalurkan minat dan bakat berkesenian dengan bermain gamelan bersama.

Lama-kelamaan kegemaran itu ditularkan kepada para siswa yang memiliki ketertarikan pada seni musik tradisional dari Jawa Tengah itu.

V. Sumino, S.Pd. Kepala Sekolah dan Agustinus Paryono, S.Pd. guru ekstra kurikuler seni musik gamelan telah berupaya mengembangkan kesenian ini sejak tahun 2008. Peminat eskul ini cukup besar sehingga guru harus membatasi peserta dari kelas 5 dan 6 saja. 

"Seni budaya tradisional harus diperkenalkan sejak usia dini, agar seni dan budaya tradisional tidak hilang atau bahkan diakui kepemilikannya oleh negara lain," ujar Lucia Indriyanti, S.Pd. guru Bahasa Inggris sambil mengarahkan para MC cilik di sisi panggung.

 


Terkini Lainnya


Close Ads X