Kompas.com - 15/06/2018, 17:15 WIB
Umat Islam bersama seorang biarawati berpose bersama saat mengikuti tur gereja untuk menunggu waktu berbuka puasa bersama di Gereja Katedral, Jakarta, Jumat (1/6/2018). Kegiatan buka bersama yang digagas Komunitas Kerja Bhakti Demi Negeri itu bertujuan untuk meningkatkan rasa toleransi antarumat beragama. ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK AUmat Islam bersama seorang biarawati berpose bersama saat mengikuti tur gereja untuk menunggu waktu berbuka puasa bersama di Gereja Katedral, Jakarta, Jumat (1/6/2018). Kegiatan buka bersama yang digagas Komunitas Kerja Bhakti Demi Negeri itu bertujuan untuk meningkatkan rasa toleransi antarumat beragama.

KOMPAS.com - Masa Idul Fitri atau Lebaran merupakan waktu yang tepat bagi orangtua untuk mengajarkan toleransi pada anak.

Hal ini dilakukan sebagai bekal anak untuk berinteraksi di tengah keragaman masyarakat. Perbedaan etnis, agama, serta budaya akan banyak ditemukan di masyarakat termasuk di sekolah nantinya.

Oleh karena itu, pemahaman akan toleransi yang ditanamkan sedari kecil sangat berguna sebagai persiapan anak untuk memahami, belajar, dan bergaul dengan lingkungannya.

Toleransi adalah sikap tentang keterbukaan dan penghormatan terhadap perbedaan yang ada di masyarakat. Konsep toleransi bukan hanya membahas tentang keragaman suku, budaya, dan agama.

Akan tetapi juga perlu diterapkan pada berbagai perbedaan lainnya seperti menghargai penyandang disabilitas.

Toleransi bisa diartikan sebagai sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, dan menciptakan hubungan baik di tengah perbedaan yang ada.

Menurut laman Hello Sehat, ada berbagai cara yang bisa orangtua praktikkan untuk mengajarkan toleransi pada anak:

1. Memberikan teladan

Anak adalah peniru yang baik, jadi cara terbaik untuk mengajarinya toleransi ialah dengan mempraktikkan sikap toleransi tersebut di depan anak. Anak anak belajar dengan mengamati interaksi orangtua dengan orang lain. Jika orangtua menghormati dan menghargai semua orang dalam keseharian maka anak pun akan mengikutinya.

Jangan menjadikan perbedaan sebagai bahan lelucon orangtua, karena dengan demikian anak bisa menirukan. Sikap toleransi yang orangtua lakukan akan memberikan pesan yang kuat pada anak bahwa ia juga perlu memperlakukan orang seperti apa yang orangtuanya lakukan.

Memberikan contoh yang baik juga bisa dilakukan dengan menanggapi komentar negatif seputar toleransi. Misalnya saat salah seorang anggota keluarga atau tetangga sedang membuat lelucon yang menyinggung SARA (Suku, agama, ras, dan antargolongan) di depan anak, maka segera tanggapi lelucon tersebut dengan sikap tegas.

Baca juga: 5 Langkah Mengajarkan Anak Meminta Maaf

Dengan begitu anak akan belajar menggunakan frasa dan pemilihan kata yang orangtua gunakan dan menentang hal tersebut jika suatu saat berada di kondisi tersebut. Sebaliknya, jika orangtua hanya diam tidak menanggapi apapun bahwa hanya tersenyum maka ia akan berpikir orangtua setuju dan tidak memiliki masalah dengan lelucon tersebut.

2. Perkenalkan pada berbagai budaya

Untuk mengajarkan toleransi, orangtua perlu menggunakan berbagai cara agar anak semakin mendalami apa itu toleransi dan bagaimana harus menyikapinya. Oleh karena itu, cobalah untuk mempertimbangkan anak untuk masuk ke sekolah yang berisi anak-anak dengan latar belakang budaya berbeda.

Selain itu orangtua juga bisa memilihkan mainan, buku, serta genre musik yang beragam dan menunjukkan keberagaman. Hal ini dilakukan untuk menambah dan memperkuat ingatannya akan makna toleransi.

Berbagai buku cerita bergambar yang menampilkan toleransi akan dengan mudah menempel pada anak karena karakter dan permainan warna biasanya membuat pesan pada buku cerita semakin menarik dan mudah diingat. Selain itu, mengajak anak ke acara festival budaya juga bisa menjadi cara untuk mengajarkan keberagaman negeri. 

3. Perlakukan anak dengan hormat

Jika orangtua menginginkan si kecil bisa menghormati orang lain maka perlakukan ia dengan hormat. Anak yang merasa dirinya diterima, dihormati, dan dihargai cenderung akan memperlakukan orang lain sebagaimana keluarganya memperlakukannya.

Sebaliknya, anak yang merasa dirinya tidak dihargai dan dihormati cenderung akan melakukan hal yang ia rasakan pada orang lain. Anak yang diperlakukan dengan penuh cinta dan rasa hormat akan memiliki harga diri yang kuat dan penghargaan akan dirinya sendiri. Hal itu cukup menjadi bekal untuk ia memperlakukan orang lain dengan cara yang sama.

Ketika orangtua mendorong sikap toleran pada buah hati dan mempraktikkan apa yang ingin mereka lihat dengan memperlakukan orang lain dengan penuh hormat, maka secara perlahan anak akan mencontoh jejak orangtua dan menerapkannya dalam kesehariannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.