Konsistensi Orangtua Tentukan Keberhasilan Pendidikan Anak - Kompas.com

Konsistensi Orangtua Tentukan Keberhasilan Pendidikan Anak

Kompas.com - 27/06/2018, 21:00 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Peran orangtua dalam hal mendidik dan mengasuh dipastikan berubah sesuai tumbuh kembang anak-anaknya. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah konsistensi orangtua. Orangtua akan selalu menjadi model pembelajaran bagi anak-anaknya.

Menurut pakar psikologi perkembangan dari Tuft University Boston, Dalton Miller Jones, ada beberapa hal yang harus konsistensi orangtua jalankan dalam hal mengasuh dan mendidik anak-anaknya:

Teladan untuk belajar

Saat usia dini, orangtua adalah guru pertama anak-anak dalam hal menjelajahi alam, membaca bersama, memasak bersama, dan menghitung bersama. Ketika si anak mulai sekolah, tugas orangtua adalah menunjukkan, bagaimana sekolah dapat memperluas pembelajaran yang diberikan di rumah, dan betapa menarik dan bermakna pembelajaran itu.

Saat anak-anak tumbuh menjadi anak-anak usia sekolah, orangtua menjadi pelatih pembelajaran melalui bimbingan dan pengingat. Orangtua juga membantu anak-anak mengatur waktu dan mendukung keinginan untuk belajar hal-hal baru di dalam dan di luar sekolah.

Perhatikan hal kesukaan anak 

Salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan orangtua adalah memerhatikan anaknya. Apakah dia seorang pembicara atau apakah dia pemalu? “Cari tahu apa yang menarik baginya dan bantu dia menjelajahinya. Biarkan anak menunjukkan cara yang ia sukai untuk belajar,” ujar Dalton.

Sesuaikan cara belajar anak

Beberapa anak belajar secara visual melalui pembuatan dan melihat gambar, yang lain melalui pengalaman sentuhan, seperti membangun menara blok dan bekerja dengan tanah liat. Yang lain lagi adalah pembelajar pendengaran yang paling memperhatikan apa yang mereka dengar.

Mereka mungkin tidak belajar dengan cara yang sama seperti kakak atau adik mereka lakukan. Dengan memperhatikan bagaimana anak belajar, orangtua mungkin dapat mengalihkan minatnya dan menjelaskan topik-topik sulit dengan menggambar bersama, membuat bagan, membuat model, atau bahkan menyanyikan lagu.

Latih apa yang anak pelajari di sekolah.

Banyak guru mendorong orangtua untuk mempelajari apa yang dipelajari anak-anak di sekolah dengan cara yang tidak terlalu menekan dan untuk mempraktekkan apa yang mungkin mereka perlu tambahan bantuan di rumah.

Sisihkan waktu membaca bersama

Bacalah di depan anak-anak, bahkan untuk anak-anak yang lebih tua. Jika anak malas dalam membaca, maka membacakan cerita akan memaparkannya pada struktur dan kosa kata sastra yang baik akan membuatnya tertarik untuk membaca lebih banyak.

Hubungkan yang anak pelajari dalam kehidupan sehari-hari

Jadikan belajar sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari anak, terutama ketika keluar pertanyaan dari si anak. Contohnya, ketika mengendarai mobil, cobalah mengajak anak menghitung pelat nomor dan berbicara tentang suatu daerah yang dilewati.

Contoh lain, saat menyalakan blender, diskusikan cara kerjanya bersama. Ketika anak mempelajari cuaca, bicaralah tentang mengapa cuaca sangat panas di pantai. Lakukan dalam bentuk diskusi dan mendengarkan ide-ide anak daripada "menuangkan informasi" ke dalam kepala mereka.

Jangan terlalu menjadwalkan anak 

Jangan terlalu mendorong anak-anak mengisi waktu dengan melakukan banyak kegiatan ekstra kurikuler atas banyak les tambahan. Pantau anak untuk melihat bahwa ia benar-benar menikmati apa yang dilakukannya. Jika tidak, jangan paksakan anak mengikuti tambahan eskul atau les.

Menonton TV  dan main gawai seminimal mungkin

Menonton TV dan main gawai terlalu sering dan lama tidak memberi anak-anak kesempatan untuk mengembangkan minat mereka sendiri dan mengeksplorasi sendiri. Pergunakan waktu anak untuk juga melakukan kegiatan seperti membaca buku, mainan, kerajinan tangan dan bergaul dengan teman. 



Close Ads X