3. Melebihi batas kemampuan anak
Dr. Luthar dan Polly Young-Eisendrath, psikolog klinis sekaligus penulis buku "The Self-Esteem Trap", berpendapat terlalu banyak mengharuskan anak melakukan berbagai kegiatan sepulang sekolah dapat memberikan masalah pada kehidupan anak.
Pasalnya, saat usia anak belum menginjak 11-12 tahun, anak sedang belajar mengembangkan diri. Mengikuti kegiatan terlalu banyak hingga di luar batas kemampuan dapat berisiko mengganggu perkembangan alami anak.
Ibarat sebuah perangkat elektronik terlalu dibebankan dengan pekerjaan berat, lambat laun perangkat itu akan rusak. Begitu pula dengan kondisi anak.
4. Sikap orangtua
Sebenarnya sah-sah saja mendaftarkan anak ikut berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler untuk mengasahnya menjadi pribadi lebih unggul.
Orangtua perlu perhatikan batas wajar hingga tidak sampai merugikan kesehatan anak, juga hubungan anak dan orangtua. Jangan sampai anak terlalu sibuk dan kerepotan ikut les sana-sini sehingga mengurangi interaksi dan komunikasi dengan keluarga.
5. Mendengarkan keinginan anak
Sebelum memutuskan les ini-itu untuk anak, ada baiknya orangtua menanyakan apa yang menjadi keinginan dan minat anak.
Meski orangtua menganggap les piano penting tetapi anak tidak berminat, sebaiknya jangan paksakan. Hal ini untuk menghindari keributan di kemudian hari.
Dr. Michael Thompson, psikolog klinis dan penulis buku "The Pressured Child", menyarankan orangtua untuk ikuti saja kemauan dan minat anak agar ia tidak merasa terpaksa dan terbebani ketika menjalaninya.
Selain itu, usahakan juga untuk selalu meluangkan dan menjadwalkan waktu keluarga berkualitas, setidaknya 2-3 hari sekali.
Jangan sampai anak merasa jauh dari orangtua akibat terlalu sibuk dengan kegiatan yang ia tekuni.