Mengagas Ide "Voucher Gotong Royong" Pendidikan Berbasis Teknologi - Kompas.com

Mengagas Ide "Voucher Gotong Royong" Pendidikan Berbasis Teknologi

Kompas.com - 07/08/2018, 19:01 WIB
Ilustrasi Pendidikan berbasis teknologiDok. Zenius Ilustrasi Pendidikan berbasis teknologi

KOMPAS.com - Acara EdTech Asia Summit 2018, perhelatan besar industri edukasi teknologi telah digelar di Hongkong, 26 - 27 Juli 2018 dan juga dihadiri 4 perwakilan Indonesia, yaitu Zenius Education, Quipper, Solve Education dan Kok Bisa.

Tahun ini, Revolusi Industri 4.0 menjadi isu menarik perhatian banyak pihak yang hadir dalam EdTech Asia Summit 2018. Kompetensi para pekerja harus segera ditingkatkan, dan ini tidak lepas dari kualitas pendidikan yang mencetak para pekerja masa depan.

“Dengan dinamisnya perkembangan dunia saat ini, sangat penting bagi kita untuk memiliki sistem pendidikan yang dapat beradaptasi, maka peran EdTech pada ekosistem pendidikan negara-negara di Asia akan bertambah besar.” ujar Sabda kepada Kompas.com saat membagikan pengalaman sebagai perwakilan Indonesia di ajang tersebut.

1. Kurang merata dan sulit terukur

Salah satu isu pendidikan yang dialami oleh banyak negara adalah kurang meratanya kualitas pendidikan. Sebenarnya, dengan bantuan akses internet dan industri EdTech, pendidikan berkualitas dapat disebarkan lebih efektif.

Namun kemudian ukuran efektivitas pun menjadi tanda tanya bagi banyak pemangku kepentingan dunia pendidikan di Asia. Dengan maraknya perkembangan EdTech dalam beberapa tahun terakhir, hasil pembelajaran melalui EdTech cenderung tidak terukur.

Baca juga: Kompak, 3 Edutech Indonesia Serukan Hal Ini di Edtech Asia Summit 2018

“Maka para pemain industri EdTech pun sepakat bahwa para perusahaan yang bergerak dalam EdTech patut berpikir lebih jauh mengenai efektivitas produk mereka dan sudah sepantasnya pemerintah di tiap negara pun lebih memperhatikan mengenai peran dan efektivitas industri EdTech ini dalam membantu menaikkan kualitas pendidikan di negaranya,” ujar Sabda.

2. Belajar sistem voucher Edtech dari India

Adopsi teknologi pendidikan secara meluas pada sekolah-sekolah formal masih menjadi tantangan, dari segi regulasi maupun ketersediaan dana.

Seringkali dana pendidikan sendiri bukan dimiliki para siswa namun pemerintah, orang tua, yayasan, atau perusahaan. Maka aliran dana untuk EdTech menjadi isu yang harus dipertimbangkan.

Salah satu solusi mengatasi hal ini adalah penerapan sistem voucher atau kupon pada pendidikan berbasis teknologi. Pemerintah, perusahaan, maupun individu pribadi dapat menggalang dana yang kemudian hanya dapat digunakan siswa untuk menggunakan produk-produk pendidikan digital.

Mirip dengan Kartu Indonesia Pintar, hanya saja dalam sistem ini berbagai pihak di luar pemerintah dapat berperan secara aktif  di dalamnya.

3. Adopsi Edtech secara meluas

Tiga dari 4 perwakilan Indonesia di ajang EdTech 2018: Gerald Sebastian (Kok Bisa), Talitha Amalia (Solve Education), Sabda PS (Zenius).Dok. Zenius Tiga dari 4 perwakilan Indonesia di ajang EdTech 2018: Gerald Sebastian (Kok Bisa), Talitha Amalia (Solve Education), Sabda PS (Zenius).

Sistem ini sudah mulai berhasil diterapkan di India oleh salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan 100 perusahaan EdTech. Sistem voucher untuk akses pendidikan berbasis teknologi saat ini sudah memiliki pengguna sebanyak satu juta siswa.

Masalah kedua adalah kesiapan akses internet high-bandwidth. Saat ini, banyak produk EdTech memakan data berukuran besar dan pastinya menjadi halangan bagi para pengguna.

Walaupun tingkat penetrasi internet di Asia sudah cukup tinggi, namun akses internet berkecepatan tinggi masih sangat terbatas. Mempertimbangkan hal ini, Zenius Education adalah salah satu penyedia pendidikan berbasisi teknologi yang menyediakan materi video dengan ukuran data sangat minim dengan tetap mempertahankan kualitas.



Close Ads X