UGM Bangun Sekolah Darurat di Lombok

Kompas.com - 08/09/2018, 22:43 WIB
UGM mendirikan posko peduli bencana untuk korban gempa bumi Lombok di Gumantar, Kayangan, Lombok Utara. Dok. UGM UGM mendirikan posko peduli bencana untuk korban gempa bumi Lombok di Gumantar, Kayangan, Lombok Utara.

KOMPAS.com - Sebanyak 30 mahasiswa UGM mendirikan posko peduli bencana untuk korban gempa bumi Lombok di Gumantar, Kayangan, Lombok Utara. Desa ini memiliki 16 dusun dengan 6.366 jiwa terkena dampak cukup besar sehingga merusak fasilitas umum, seperti sarana sanitasi masyarakat, sekolah, dan rumah ibadah.

Mahasiswa UGM ini melaksanakan berbagai program pengabdian membangun kembali Desa Gumantar dari aspek sosial, medis, dan infrastruktur. Seperti yang disampaikan oleh Adam Chaesar, anggota tim mahasiwa KKN Peduli Bencana, ia bersama mahasiswa KKN lain mendirikan sekolah sementara dengan menggunakan tenda seadanya atau di bawah pohon beralaskan terpal plastik sebagai tempat untuk belajar.

1. Belajar sekaligus pemulihan trauma

Mahasiswa dari Prodi Hubungan Internasional Fisipol ini mengatakan saat ini dua bangunan sekolah dasar di desa tersebut masih rusak sehingga kegiatan belajar mengajar terhenti dan banyak guru yang memilih untuk belum aktif ke sekolah.

“Kita pun mengajak siswa untuk belajar bersama sekaligus melakukan trauma healing,” kata Adam seperti dikutip dari laman resmi UGM (6/9/2018).

Baca juga: UGM: Membumikan Pancasila di Generasi Muda Indonesia

Proses belajar mengajar dibagi menjadi dua sesi yakni sejak pukul 8 hingga 10 pagi. Namun, materi yang diajarkan, menurut Adam, bukanlah materi pelajaran mereka di sekolah melainkan proses belajar mengajar yang bisa menyenangkan siswa untuk menambah pengetahuannya mejadi lebih luas.

2. Mendata tingkat kesehatan masyarakat

Seperti diketahui, gempa berkekuatan 6.4 SR pada 5 Agustus 2018, dan 7.0 SR pada 19 Agustus 2018, serta gempa susulan lainnya menghancurkan infrastruktrur, saluran perairan dan fasilitas lainnya.

Masyarakat yang memilih hidup di bawah tenda saat ini kekurangan air bersih dikarenakan saluran air yang rusak. “Kita melakukan perbaikan pipa saluran air dan MCK darurat,” katanya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Subdirektorat Kuliah Kerja Nyata, Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Ambar Kusumandari, mengatakan selama pelaksanaan KKN yang sudah berlangsung kurang lebih dua minggu ini, para mahasiwsa KKN telah mendata tingkat kesehatan masyarakat. “Yang ditemukan rata-rata penyakit ispa dan scabies,” katanya.

Tidak hanya itu, mahasiswa yang berasal dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan juga melakukan home visit ke rumah warga untuk memeriksa kesehatan mereka secara berkala, “Mahasiswa juga mendirikan klinik 24 jam di posko,” ujarnya.

3. Pengadaan suplai air bersih

Ambar menyebutkan lokasi KKN di Gumantar ini pada Senin pagi (3/9) lalu sempat dikunjungi oleh Ketua Umum Kagama, Ganjar Pranowo, dikarenakan di lokasi tersebut juga berdiri posko Kagamacare.

Ganjar memberi semangat kepada mahasiswa dan relawan untuk terus bekerja bersama masyarakat yang terkena musibah bencana. “Ia mengharapkan agar program ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan karena kita tahu setiap periode KKN ada pergantian personel mahasiswa yang akan dikirim,” kata Ambar.

Untuk kegiatan pengadaan air bersih, kata Ambar, mahasiswa menyiapkan suplai air bersih melalui pipa air sepanjang 9 kilometer. “Sumber airnya sudah ditemukan mahasiswa di daerah taman nasional sehingga nantinya bisa disalurkan ke warga yang saat ini berada di daerah pengungsian,” ujarnya. 

 



Close Ads X