Vokasi UI: Menimbang Positif dan Negatif Palangka Raya jadi Ibukota RI

Kompas.com - 19/09/2018, 21:38 WIB
Antony Sihombing, Wakil Direktur Program Pendidikan Vokasi UI dalam acara Seminar Nasional Optimalisasi Penataan Ruang Kota Palangka Raya (18/9/2018) di Jakarta. Dok. Vokasi UIAntony Sihombing, Wakil Direktur Program Pendidikan Vokasi UI dalam acara Seminar Nasional Optimalisasi Penataan Ruang Kota Palangka Raya (18/9/2018) di Jakarta.

KOMPAS.com - Dalam rangka melakukan kajian terhadap wacana Kota Palangka Raya menjadi ibukota negara, Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya dan Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) menggelar Seminar Nasional Optimalisasi Penataan Ruang Kota Palangka Raya bertema “Palangka Raya Kota Harati, Menyambut Wacana Pemindahan Ibukota”, Selasa (18/9/2018) di Jakarta.

"Program Vokasi UI seminar nasional ini bertujuan memperkaya ruang kajian dalam mewujudkan Kota Palangka Raya yang ideal di masa akan datang," ujar Mareta Maulidiyanti – Humas Program Pendidikan Vokasi UI kepada Kompas.com. 

Ia mengharapkan, hal ini juga dapat menjadi solusi pengembangan perkotaan karena dapat memenuhi kebutuhan kota masa kini tanpa mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan generasi mendatang. 

Wacana pemindahan ibukota

“Pemindahan kota harus mampu mengelola penataan kota. Sebuah kota harus mempunyai nilai estetika dan suasana yang baik agar kota tersebut nyaman. Sehingga penataan kota harus optimal," jelas Riban Satia, Walikota Palangka Raya.

Ia menambahkan, Kota Palangka Raya mempunyai cita-cita luhur Bung Karno dalam 3M yaitu Modal, Model dan Modern.

Baca juga: Sinergi Vokasi UI dan Pemkot Palangka Raya Membangun Keadaban Kota

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wakil Direktur Program Pendidikan Vokasi UI sekaligus Ahli Perancangan Perkotaan UI Antony Sihombing mengatakan Pemerintah Kota Palangka Raya telah bekerjasama dengan UI dalam melakukan kajian optimalisasi penataan ruang Kota Palangka Raya. 

”Palangkaraya ini merupakan kota zero gempa dan sudah dibuat perencanaannya untuk Ibukota. Kalimatan secara geografis sangat strategis dan Palangka Raya berada di tengah Kalimantan. Harati City: cerdas, berbudi dan disiplin sangat tepat untuk smart city Kota Palangka Raya” Antony menambahkan. 

Keuntungan dan kerugian pemilihan Palangka Raya

Lebih jauh, kepada Kompas.com Antony Sihombing menyampaikan ada beberapa keuntungan dan juga kerugian wacana pemilihan Palangka Raya sebagai pengganti ibukota negara di masa mendatang.

Keuntungan

  • Aspek historis mewujudkan cita-cita presiden pertama RI, Soekarno menjadikan Palangka Raya sebagai ibukota.
  • Secara geografis Palangka Raya di pusat Indonesia, posisi Kalimantan di tengah kepulauan Indonesia, dan Palangka Raya tepat berada di tengah Pulau Kalimantan.
  • Memiliki area tanah luas hampir mencapai 2.800 km2 atau empat kali luas Jakarta saat ini dengan tingkat kepadatan penduduk rendah 260.000 jiwa/km2.
  • Tidak ada gempa atau nol gempa, sehingga lebih aman untuk struktur bangunan.
  • Dengan pemindahan ibukota ke Palangka Raya akan mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia Tengah dan Timur.

Kekurangan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.