Kompas.com - 02/10/2018, 20:19 WIB

"Sambal Buranan adalah sambal khas Lamongan yang umumnya dijual di pinggir jalan. Kesannya jorok dan kurang higienis. Lewat Sambal "Sambar" kami ingin mengangkat kearifan lokal agar lebih berkualitas dan berdaya saing," cerita Nali.

Sri menambahkan latar belakangan keilmuan jurusan yang mereka pilih juga membantu banyak dalam memecahkan masalah yang muncul dalam proses berinovasi bidang boga tersebut. "Pelajaran larutan dan senyawa kimia membantu kami dalam meningkatkan masalah daya tahan produk sambal khas Lamongan ini," ujar Sri.

Inovasi berbasis teknologi

Bukan generasi milenial namanya bila tidak menghadirkan teknologi dalam inovasi yang mereka buat. Dalam bidang aplikasi, Bayu dan Ratna dari MAN 1 Samarinda menciptakan aplikasi berbasis website "BARA (Best Application Resolution Anbes) untuk membantu guru Bimbingan Konseling melakukan deteksi awal masalah psikologis siswa.

"Anbes sendiri merupakan istilah di Samarinda artinya anak beserangan (anak tawuran). Tahun lalu tidak kurang ada 80 lebih kelompok Anbes yang saling berkelahi inilah yang mendorong kami menciptakan aplikasi BARA ini," jelas Bayu.

Ratna menambahkan aplikasi ini dapat mendeteksi dini gejala atau permasalahan psikologis lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang harus dijawab siswa. Tidak hanya itu, aplikasi ini dapat sekaligus membantu siswa dalam menemukan konselor atau psikolog terdekat.

Solusi terhadap persoalan keseharian

Peserta FIKSI (Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia) 2018, di Yogyakarta, 1-6 Oktober 2018Dok. FIKSI 2018 Peserta FIKSI (Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia) 2018, di Yogyakarta, 1-6 Oktober 2018

Kreasi para siswa pun banyak berangkat dari persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Clara Intania dan Sherafim Gratia dari SMAK Santo Petrus Pontianak mencoba menemukan solusi kesulitan teman-teman mereka sebagai siswa yang sulit belajar Termokimia.

"Kami telah melakukan survei di sekolah kami dan beberapa sekolah teman, ternyata banyak yang kesulitan mempelajari 'Termokimia'. Dari situ kami membuat inovasi membuat scrapbook yang membantu teman-teman belajar materi ini secara menarik dan mudah lewat desain visual yang menarik," cerita Clara.

Sherafim menambahkan, mereka menggambar sendiri ilustrasi kemudian mencetaknya dalam format cetak menarik dengan penjelasan materi dari kehidupan sehari-hari sehingga mudah dimengerti.

"Selain pendampingan entrepreneurship kami membangun persahabatan melalui ajang FIKSI 2018 ini. Semua saling sharing dan belajar satu sama lain. Tidak ada perbedaan soal suku, agama, ras atau golongan," kata Clara menutup ceritanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.