Ingin Mendeteksi Kebohongan? Gunakan Cara Ini - Kompas.com

Ingin Mendeteksi Kebohongan? Gunakan Cara Ini

Kompas.com - 08/10/2018, 08:15 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Lini masa media sosial minggu lalu ramai membicarakan kebohongan. Di antaranya, kebohongan Ratna Sarumpaet yang telah diakui sendiri oleh yang bersangkutan. Atau tagline “kebohongan 4 tahun” yang diviralkan untuk menyaingi viral kebohongan penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Hampir semua orang sepanjang sejarah, kalau tidak mau mengatakan seluruh umat manusia, pernah berbohong. Bahkan, Nabi Adam pun menurut kitab suci pernah dibohongi. Tidak hanya manusia, binatang juga bisa berbohong dan dibohongi.

Pada saat musim kawin, burung layang-layang (Hirondo Rustica) jantan akan berseru-seru seakan-akan ada musuh datang bila burung betina menjauh dari sarang. “Tipuan” ini akan membuat burung betina kembali ke sarang. Burung jantan khawatir pasangannya direbut pejantan lain.

Intuisi akan kebohongan

Saya sendiri sekilas melihat kejanggalan ketika melihat video beredar ketika Ratna Sarumpaet digandeng oleh Hanum Rais. Ratna Sarumpaet yang biasanya garang dan berani di depan kamera, terlihat diam saja, gerak-geriknya tidak percaya diri.

Saya tidak pun tidak menyimpulkan apa-apa namun rupanya itu reaksi dari intuisi saya. Tidak perlu menunggu lama, Ratna Sarumpaet pun mengadakan konferensi pers dan mengatakan bahwa dia sudah berbohong.

Yang saya maksud intuisi (intuition) ini semacam perasaan sekilas. Ketika perasaan kita tidak langsung percaya pada suatu kejadian. Situasi ini hanya berlangsung dalam hitungan detik. Akurasinya semakin tinggi apabila tidak hanya melihat mendengar suara atau melihat video, tapi ada di depan orang yang berbohong. Mengapa? Karena intuisi ini distimulasi oleh gerak-gerik, intonasi suara, raut wajah, atau postur tubuh.

Intuisi digantikan logika

Contoh yang lain, pernah seorang kawan mengatakan bahwa dia tidak masuk kerja karena sakit. Meski hanya melalui telepon, intonasi suaranya membuat saya ragu dalam waktu sepersekian detik. Tapi kemudian dia menceritakan sebab dia sakit, melampirkan surat dokter, dan lain-lain.

Intuisi (intuition, guts) tadi hilang, digantikan oleh logika (deliberative processing) bahwa kawan saya tadi pasti sakit. Logis. Sakit (sebagai akibat) pasti karena sebab tertentu, plus ada surat dokter. Saya percaya 100%, plus saya doakan pula biar cepat sembuh.

Nyatanya, beberapa hari kemudian dia mengaku kalau dia tidak sakit. Tapi ada jadwal wawancara di perusahaan lain. Logika sudah mengalahkan intuisi saya.

Intuisi yang netral

Tentu saya juga perlu berhati-hati. Tidak semua intuisi bisa saya percayai. Apalagi kalau sebelumnya saya sudah tidak suka sama seseorang. Atau saya sudah memberikan label pada seseorang sebagai pembohong.

Tidak perlu intuisi, logika sekuat apapun saya biasanya tidak langsung percaya. Misalnya saya ditelpon agen asuransi, yang mengatakan pentingnya membeli produknya. Selengkap apapun informasinya, saya sudah tidak bisa percaya.

Intuisi yang bisa saya percayai adalah intuisi yang netral. Tidak dipengaruhi oleh label, emosi dan persepsi saya terhadap seseorang. Bahkan menurut Andrew Stuhlman, profesor psikologi dan penulis buku “Scienceblind: Why Our Intuitive Theories About the World Are So Often Wrong”. Sebagian intuisi manusia salah dalam mempersepsikan segala hal.

Intuisi menipu manusia?

Memang benar pernyataan Stuhlman tersebut. Intuisi manusia sebagian besar menipu manusia sendiri. Kecuali dalam hal mendeteksi kebohongan.

Penelitian dilakukan pada 2014 dan terbit di jurnal Psychological Science menyatakan bahwa intuisi (less-consciuos mental processes) atau “proses ketidaksadaran” lebih akurat dalam mendeteksi kebohongan dibandingkan dengan proses intelektual-logika (more-conscious mental processes) atau “proses berpikir secara sadar”.

Dalam penelitian ini subyek diminta untuk menebak pencuri melalui pengakuannya. Ada pencuri yang berbohong, ada pencuri yang jujur. Hasil tebakan kelompok subyek penelitian yang hanya diberikan waktu lebih pendek untuk berpikir jauh lebih akurat dibandingkan kelompok yang diberikan waktu yang panjang untuk berpikir dan menganalisa.

Identifikasi intuisi

Penelitian 2014 ini sebenarnya mengkonfirmasi kembali penelitian yang sudah dilakukan pada 2009 dan diterbitkan pada Journal of Experimental Psychology berjudul “Can intuition improve deception detection performance?” 

Dalam penelitian ini subyek dibagi menjadi dua kelompok. Keduanya diminta untuk mengidentifikasi serangkaian rekaman pengakuan, mana pengakuan palsu dan mana pengakuan jujur. Waktu yang diberikan pada kedua kelompok sama. Bedanya, kelompok pertama tidak hanya diminta untuk mengidentifikasi, tapi juga diberi penugasan lain yang tidak berhubungan (perhatian terpecah).

Kelompok kedua tidak ada tugas tambahan (perhatian terfokus). Hasilnya, identifikasi kelompok pertama jauh lebih akurat, justru pada kelompok yang tidak fokus menganalisa rekaman yang diberikan.

Satu hal harus dicatat: intuisi ini tidak bisa digunakan mengidentifikasi hoax hanya melalui berita dalam bentuk gambar atau tulisan. Jadi, identifikasi intuisi anda ketika anda melihat, mendengar, merasakan, dan gunakanlah dengan bijak.

Sumber :

http://www.leannetenbrinke.com/uploads/2/1/0/4/21049652/ten_brinke_stimson___carney_2014.pdf

https://www.researchgate.net/publication/247330791_Can_intuition_improve_deception_detection_performance



Close Ads X