UGM: Sate dan Nasi Goreng Menembus Pasar Dunia

Kompas.com - 11/10/2018, 22:37 WIB
Konferensi dan Festival Kuliner Nasi Goreng dan Sate diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) selama dua hari, 9-10 Oktober 2018 di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta. Dok. UGMKonferensi dan Festival Kuliner Nasi Goreng dan Sate diselenggarakan Universitas Gadjah Mada (UGM) selama dua hari, 9-10 Oktober 2018 di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta.

KOMPAS.com - Aneka macam sate dan nasi goreng dapat ditemukan pada acara "Konferensi dan Festival Kuliner Nasi Goreng dan Sate" diselenggarakan Universitas Gadjah Mada ( UGM) selama dua hari, 9-10 Oktober 2018 di Grha Sabha Pramana UGM.

Acara ini digelar UGM bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif ( Bekraf) menawarkan beraneka macam sate mulai dari sate ayam, sate jamur, sate cumi-cumi, sate ikan, sate penthol, sate bunthel, sate klatak, sate maranggi, sate kere dan berbagai olahan sate lainnya.

Dalam festival kuliner tersebut turut disajikan aneka macam nasi goreng yang tak kalah menggugah selera. Beberapa diantaranya nasi goreng seafood, nasi goreng padang, nasi goreng rendang, nasi goreng kambing, hingga nasi goreng beras jagung.

Kuliner sumbang 30% sektor wisata

Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono dalam sambutan yang disampaikan Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof. Irfan Dwi Prijambada menyampaikan bahwa industri kuliner Indonesia memiliki potensi kuat untuk berkembang.

Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri kuliner diperlukan agar kuliner Indonesia semakin berkembang.

“Pelestarian kuliner asli dan unggulan Indonesia wajib dilakukan dan dikembangkan sebagai salah satu upaya mendukung kemajuan pariwisata Indonesia,” katanya saat pembukaan festival kuliner, Selasa (9/10/2018) seperti dilansir dari laman resmi UGM.

Baca juga: 5 Universitas Terbaik Indonesia 2019 versi Times Higher Education

Industri kreatif kuliner, disampaikan Panut, memberikan kontribusi yang cukup besar yakni sekitar 30 persen dari total pendapatan sektor pariwisata.

Kuliner Indonesia yang kaya akan rasa juga telah terpilih sebagai World’s 50 Best Food versi poling CNN 2017 yang menempatkan rendang dan nasi goreng sebagai makanan favorit urutan pertama dan kedua, serta sate di peringkat keempat belas.

“Dengan potensi yang sangat bagus ini kuliner Indonesia diharapkan lebih dapat mendukung pengembangan pariwisata Indonesia,” tuturnya.

Pertumbuhan kuliner tidak signifikan

Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan menyebutkan industri kuliner memang telah memberikan kontribusi besar di sektor ekonomi kreatif. Kendati begitu, pertumbuhannya tidak begitu signifikan dalam lima tahun terakhir.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X