Kompas.com - 17/10/2018, 16:16 WIB
Ilustrasi ThinsktockIlustrasi

KOMPAS.com - Pada Januari 2018, Alvara Research Center (ARC) mengeluarkan hasil survei mereka terkait generasi milenial. Salah satu hasil survei tersebut menyebutkan generasi milenial cuek terhadap politik.

Bagi generasi ini, politik dianggap milik generasi lebih tua sehingga mereka acuh terhadap berbagai proses politik.

Hal ini tergambar pada gambar segmentasi pemilih di Indonesia yang terbagi menjadi empat, yakni rasional, konservatif, swing (belum menentukan pilihan), dan apatis.

"Diantara keempat segmen tadi, pemilih milenial paling banyak ada di pemilih apatis dan swing," ujar Hasanudin Ali, Management Office ARC. 

Baca juga: Presiden Jokowi: Kita Bangsa Besar, Masak 5 Tahun Sekali Ribut Terus?

Hal ini tergambar pula dalam perbincangan yang dilakukan sehari-hari. Generasi milenial cenderung lebih asik mengobrol tentang musik, film, olahraga, dan teknologi informasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Netralitas sekolah dari kontestasi politik

Hal senada disampaikan Robertus Budi Setiono Direktur Global Sevilla School. "Sangat tergantung dari latar belakang keluarga. Kalau keluarga mereka memiliki concern mengenai hal ini (politik), mereka juga memiliki kepedulian yang sama. Mereka masih dalam tahap belajar berpolitik. Hal wajar bila mereka seolah terlihat cuek terhadap hal ini," ungkap Robertus.

Ia beranggapan, sekolah hingga tingkat SMA sebaiknya menjadi tempat netral dari dunia politik, termasuk kampanye atau kontestasi pemilihan kepala daerah dan presiden. "Saat masuk dalam jenjang universitas mungkin saat tepat untuk mendorong mereka belajar berpolitik," ia menambahkan.

"Pada pemilihan kepala daerah tahun lalu kami bahkan secara tegas mengimbau siswa dan guru untuk menghindari rivalitas di sekolah, kelas dan bahkan sosial media. Jangan sampai proses pembelajaran terganggu, atau teman dan guru satu kelas terpecah karena hal ini," tegas Robertus.

Mendorong milenial bersikap kritis

Robertus menambahkan hal terpenting saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran siswa agar mereka dapat memberikan kontribusi positif dalam proses berbangsa dan bernegara. 

"Generasi milenial ini dekat dengan gawai, jangan sampai mereka mindless, tidak sadar, memposting atau malah ikut menyebarkan hoax. Sikap spontan, atau tidak menyadari apa yang dilakukan ini sangat berbahaya. Itu mengapa mengajak anak menjadi Mindfulness atau 'sadar secara penuh' menjadi nilai yang sangat penting di sekolah ini," katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.