"Coding", Mantra Baru Milenial Masuk Keajaiban Era Industri 4.0

Kompas.com - 27/10/2018, 15:21 WIB
Nicholas Rahardja dan Marco Widodo, siswa British School Jakarta merilis platform BelajarCoding.online (27/10/2018). Dok. Kompas.comNicholas Rahardja dan Marco Widodo, siswa British School Jakarta merilis platform BelajarCoding.online (27/10/2018).

KOMPAS.com - Mantra dalam dunia Harry Potter menjadi bahasa kunci manusia masuk dalam keajaiban dunia sihir. Kini, ada bahasa baru generasi milenial dalam memasuki era teknologi abad 21: coding.

Perkembangan teknologi informasi pada saat ini telah menjadi suatu kekuatan yang mampu menguasai dunia. Negara-negara Asia seperti India, Korea, dan China sudah masuk dalam arus dan mendominasi industri. Banyak start up yang muncul dan tumbuh dari negara-negara tersebut. 

Indonesia negara dengan potensi populasi terbesar ke-4, masih kekurangan developer program berkualitas. Untuk mengisi kekurangan talenta tersebut, banyak startup dan perusahaan kemudian lebih memilih merekrut pekerja asing.

Kendala pembelajaran coding

Banyak lulusan Tehnik Informatika di Indonesia tapi belum tentu semuanya langsung dapat kerja atau mudah dapat kerja. Kendalanya ada pada penggunaan bahasa Inggris dalam belajar atau mengembangkan kemampuan mereka dalam penguasaan bahasa pemograman.

Baca juga: Hati-hati, Indonesia di Gerbong Belakang Kesiapan Era Industri 4.0

Selain kendala bahasa, mahalnya pembelajaran bahasa pemograman juga menjadi salah satu alasan, mengapa coding masih menjadi studi 

Hal inilah yang kemudian mendorong Nicholas Rahardja dan Marco Widodo, siswa British School Jakarta merilis platform BelajarCoding.online.

Ditemui disela-sela seminar "The Importance of Technology for Indonesia's Youth", 27 Oktober 2018 di @America, Jakarta, mereka menyampaikan keinginan untuk membantu meningkatkan jumlah anak muda Indonesia yang ingin belajar dan mengerti apa itu coding.

Coding berbasis bahasa Indonesia

"Kami mengidentifikasi kurangnya minat anak muda Indonesia belajar coding, meskipun permintaan pengembang program terus bertambah. Masalah ini berasal dari fakta bahwa sebagian besar situs belajar coding itu berbahasa Inggris," jelas Nicholas kepada Kompas.com.

Marco menambahkan, hal ini menjadi kendala bagi sebagian besar anak muda Indonesia yang tidak kurang fasih bahasa Inggris untuk belajar online dari situs berbahasa Inggris.

Kehadiran Belajar Coding diharapkan dapat memecahkan masalah dengan mengajarkan pelajaran coding dalam bahasa Indonesia dengan mudah dan menarik bagi orang banyak terutama anak muda. 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X