Bondhan Kresna W.
Psikolog

Psikolog dan penulis freelance, tertarik pada dunia psikologi pendidikan dan psikologi organisasi. Menjadi Associate Member Centre for Public Mental Health, Universitas Gadjah Mada (2009-2011), konselor psikologi di Panti Sosial Tresna Wredha “Abiyoso” Yogyakarta (2010-2011).Sedang berusaha menyelesaikan kurikulum dan membangun taman anak yang berkualitas dan terjangkau untuk semua anak bangsa. Bisa dihubungi di bondee.wijaya@gmail.com. Buku yang pernah diterbitkan bisa dilihat di goo.gl/bH3nx4 

Cara Meladeni Debat di Media Sosial

Kompas.com - 29/10/2018, 14:40 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Itu benar terjadi sekarang, di sekitar kita. Ketika akun-akun palsu, agak palsu, maupun yang asli di sosial media menebarkan tautan-tautan provokasi. Mereka para buzzer berpesta. Sementara korbannya berkelahi satu sama lain, saling membenci satu sama lain.

Lalu bagaimana menghentikannya? Menegakkan keadilan? Keadilan tidak akan tegak hanya dengan mengkoarkan status. Menurut saya, tidak usah berharap dengan sesuatu di luar diri kita.

Mulai dari diri sendiri

Harus mulai dari diri sendiri, harus mulai dari hal-hal sederhana, yang kecil-kecil kalau kata Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Penulis "Seven Habits of Highly Effective People", Stephen Covey menyarankan mengubah situasi, harus mulai dari hal yang bisa kita pengaruhi, alias mulai dari diri sendiri.

Menurut Michael Mascolo, profesor psikologi dari Merrimack College, Massachusetts, Amerika Serikat. Kebencian tidak dapat dipadamkan dengan kebencian yang lain. Api tidak akan dapat padam dengan mengobarkan api yang lain.

Jadi, bagaimana sebaiknya menanggapi provokasi? Pertama lihat dulu siapa memprovokasi. Tidak ada gunanya menanggapi akun abal-abal, misalnya akun Facebook isinya melulu tautan ujaran kebencian.

Hanya memiliki “friends” sangat minim. Bisa jadi itu akun kloning yang digunakan buzzer politik memviralkan isu. Ketika sudah yakin akun yang kita ajak ngobrol bukan akun palsu, punya pemilik benar-benar ada, baru obrolan bisa dilanjutkan.

Ajang debat kusir

Seperti ilustrasi di bawah ini :
Bona (bukan nama sebenarnya): Sebenarnya sangat disayangkan ada aksi pembakaran bendera itu. Banser salah. Tapi tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka membakar bendera organisasi terlarang yang diacung-acungkan di depan hidung mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tentu kita berharap kasusnya akan segera jelas, pihak berwajib juga sudah mengamankan pelakunya. Hati-hati, ini isu sensitif jangan mau diadu domba.

Rong-Rong (juga bukan nama sebenarnya): Lho, kamu itu gimana? HTI tidak punya bendera. Itu bendera tauhid! Mereka melecehkan Islam! Kemana Banser ketika kami membela ulama? Mereka kebanyakan malah menjaga tempat ibadah agama lain! Update informasi dong, jangan sok netral!

Rong-rong merespon dengan emosional, tidak dalam konteks yang sesuai dengan yang disampaikan Bona. Justru menyerang pendapat Bona yang dengan gegabah dianggap “membela” Banser. Obrolan kemudian menjadi tidak efektif dan berpotensi menjadi ajang debat kusir. Rong-rong menekankan pemikiran “kami versus mereka”.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.