Singapura Banyak Alihkan Penerimaan Siswa dari Basis Prestasi ke Bakat

Kompas.com - 16/11/2018, 10:42 WIB
Ilustrasi anak belajar berenang FS-StockIlustrasi anak belajar berenang

KOMPAS.com - Singapura yang dikenal memiliki standar pendidikan berbasis akademik tinggi kini telah banyak mengubah paradigma pendidikan mereka.

Setelah merubah 'wajah' rapor siswa mereka dengan tidak lagi berbasis pada kompetisi akademik, kini mereka memberikan kesempatan lebih luas penerimaan siswa di sekolah jenjang menengah berbasis pada bakat ketimbang prestasi akademik.

Tahun ini, 3.000 siswa berhasil dalam tes penerimaan jenjang menengah melalui jalur DSA (Direct School Admission ), naik dari 2.500 tahun lalu dengan praktik seleksi berbasis pada bakat/potensi siswa.

Melihat bakat bukan hanya akademik

Kementerian Pendidikan (Ministry Of Education), seperti dilansir dari The Straits Times,  mengatakan bahwa skema penerimaan ini telah dilaksanakan di lebih dari 90 persen sekolah menengah.

MOE mengatakan sekolah saat ini telah menerapkan metode untuk mengidentifikasi bakat dan potensi siswa daripada hanya melihat portofolio dan prestasi akademik saja. 

Baca juga: Singapura Mengubah Paradigma Pendidikan, Belajar Bukan Kompetisi

Mulai tahun depan, siswa dapat mengajukan permohonan untuk DSA secara online terpusat dan tidak lagi mendaftar ke masing-masing individu.

Aplikasi juga akan diberikan secara gratis untuk mendorong lebih banyak murid dari latar belakang kurang mampu untuk mendaftar.

Mengurangi jalur prestasi

Skema ini sempat dikritik karena membuat 'jatah' jalur prestasi akademik, tanpa tes dengan nilai ujian, semakin berkurang.

Tahun lalu jalur prestasi akademik (IP) menyumbang 30 persen dari 3.800 pengajuan dan tahun ini telah dikonfirmasi turun 40 persen dari tahun lalu.

Setiap siswa akan diizinkan mendaftar ke hingga tiga sekolah. Mereka dapat menggunakan dua pilihan untuk diterapkan pada dua bidang bakat yang berbeda dari sekolah yang sama. 

Bahkan beberapa sekolah, seperti Institusi St Joseph, telah menghapus Tes Kemampuan Umum (Akademik) dan berfokus pada bakat lain.

Seorang juru bicara untuk Raffles Institution mengatakan bahwa mereka mencari karakter dan kepemimpinan melalui jalur DSA ini tahun depan.

Tes berbasis seleksi tugas kreatif

"RI menawarkan siswa berbakat kesempatan untuk bergabung dengan sekolah terlepas dari latar belakang mereka," katanya. Ia menambahkan bahwa siswa datang dari berbagai bidang dari mata pelajaran akademik hingga musik dan olahraga.

Pengamat pendidikan dan juga dosen ekonomi Universitas Nasional Singapura, Kelvin Seah mengatakan, "Rintangannya sekarang lebih mudah untuk murid-murid ini karena fokusnya adalah pada mempertunjukkan bakat dan kekuatan mereka melalui tes berbasis seleksi seperti tugas kreatif dan eksperimen bila dibanding tes kemampuan umum."

Institut Nasional Asosiasi Pendidikan, Profesor Jason Tan mengatakan, "Tanggung jawab terletak di pundak guru sekolah dasar dan kepala sekolah untuk menginformasikan hal ini dan membantu orang tua mengidentifikasi potensi dalam diri anak-anak mereka untuk membuat pilihan sekolah."



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X