Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita... - Kompas.com

Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita...

Kompas.com - 02/01/2019, 11:27 WIB
Ilustrasi
M LATIEF/KOMPAS.com Ilustrasi

KOMPAS.com - Sudah puluhan tahun, begitu banyak bencana menimpa negeri ini, mulai tsunami sampai tanah longsor, dari terjatuhnya pesawat terbang hingga bis tergelincir masuk ke dalam jurang.

Semuanya memicu terjadinya seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan secara massal dan marak. Bahkan, untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat secara ramai-ramai meminta Tuhan melakukannya.

Salahkah sikap seperti itu?

Tidak! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat bukannya semakin baik, dan bencana tetap antre untuk turun menghantam.

Lalu, kita pun kembali ingat, bahwa kita tak siap menghadapi hantaman itu. Lantas kita kembali lupa ketika bencana usai. Otak yang dianugerahi Tuhan hanya sesekali dipakai untuk menganalisa ketika bencana sudah terjadi.

Seorang ibu, lantaran mendengar cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan peningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika membaca buku yang mampu terjual begitu banyak dan ditanya suami apa isinya, dia tersipu malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan.

Ya, jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak pendosa kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.

Untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual. Maka, sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membeli jalan ke surga. Sebuah harapan terakhir untuk hidup mulia yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa. Dengan uangnya, mereka bisa membayar penyelenggara pelatihan, maka mereka bebas menangis tersedu-sedu sepuasnya.

Pada akhirnya, kelompok manusia seperti itu ikut mendorong kebenaran tesis Marx, bahwa "Agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia."

"Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yang menumbuhkan mereka, juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya…."

Leo Tolstoy mengatakan hal itu dan menyindir masyarakat Rusia pada akhir abad ke-19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh para pemuka agamanya.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi tren dan arus besar, bisa jadi, hanya akan membelah kepribadian manusia.

Semestinya, sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas. Semestinya tak perlu!

Akan tetapi, dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti seragam, tempat ibadah mewah, tur spiritual berulang kali, dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.

Pendidikan yang doktriner?

Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi tampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi kaisar kaya raya.

Mereka ingin menjadi sangat berkuasa seperti halnya Zulkarnaen Agung, tapi melupakan kemuliaan AlMasih As dan Muhammad SAW, yang berdiri sampai mati di sisi kaum tak berpunya.

Suatu saat, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta pada 2008 yang mengatakan bahwa "Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak mendorong perilaku kebinekaan."

Jawaban pertama saya adalah "Tidak mengejutkan, dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis".

Saya lalu menambahkan, "Materi dan cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 tahun lalu, yang masih berkutat dan 99 persen fokus pada urusan pribadi. Meskipun agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100 persen materinya disampaikan pula dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya akan hitam-putih, salah-benar, on-off. Mungkinkah kebinekaan akan tumbuh, jikalaupun ada, tentulah hanya kebinekaan pura pura".

Pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrin pun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yang deterministik. Semuanya, ya memang "sudah begitu", dan kalau tidak begitu ya dianggap "salah".

Pembelajaran tersebut dimulai dengan mencetak pemikiran kaum balita di PAUD dengan cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu-abu atau kecoak tidak dengan hitam, pastilah dikasih nilai "C".

Murid yang mewarnai badan gajah abu-abu dan kecoak hitam mendapat nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti "d united color of benneton"?

Pola deterministik guru semacam itu terus berlanjut. Orang tua juga bersikap sama, bahkan masyarakat pun menguatkan. Yang "beribadah" tidak sesuai dengan cara mereka akan "digebukin". Istilahnya, mengikuti gaya bercanda anak Betawi, "'Yang kagak ikut ane, ente semua musuh ane!"

Sejatinya, jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam kebhinekaan (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun) atau keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan bermental bhineka.

Mungkin, dosa terbesar Soeharto adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (graha) diseragamkan. Bahkan, doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun begitu seragamnya hingga Pancasila yang kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris terbuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi semakin kurang menghargai keberagaman. Salah satunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam dipaksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika, "Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat".

Kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah insan kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah keberagaman akan mustahil terjadi. Ya, karena cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu di mana 99 persen manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam. Gagalkah pendidikan kita?


EditorLatief

Terkini Lainnya


Close Ads X