Universitas dan Menara Gading Ilmu Pengetahuan

Kompas.com - 15/01/2019, 20:49 WIB
Ilustrasi. SHUTTERSTOCKIlustrasi.

Belum lagi bagaimana pemerintah atas nama negara, melakukan evaluasi berdasarkan atas ukuran-ukuran yang kuantitatif. Universitas besar akan diguyur dana penelitian berlebih, sementara universitas (kampus) kecil akan mendapatkan dana penelitian minim. Dana penelitian tak ubahnya proyek yang mendatangkan keuntungan melimpah.

Masyarakat jarang menikmati buah hasil temuan-temuan universitas selain polemik atas kasus-kasus hukum (korupsi, anarkisme) yang mencuat di layar kaca lewat berbagai berita.

Ilmu pengetahuan menjadi statis, menara gading yang tak terbaca oleh publik. Universitas kemudian semakin mengekalkan kasta dalam kehidupan bermasyarakat.

Deretan gelar menjadi ajang pameran sekaligus misi narsistik dan penyombongan diri. Golongan yang demikian dilabeli dengan nama “kaum terdidik”, sementara lainnya adalah “tak terpelajar”.

Saya mengapresiasi kerendahan hati GM di forum itu, dengan kepala tegak menyebut diri sebagai “seorang yang tak terdidik alias berasal dari dunia ilmiah, sebagai seorang yang secara serabutan bersentuhan dengan lingkungan akademis”, namun ia berupaya memberi sumbangan pemikiran sekaligus koreksi dan kritik bagi universitas di negeri ini.

Ilmu pengetahuan serta cakrawala berpikir kritis dan ilmiah dapat tumbuh dari siapapun dan lingkungan manapun tanpa harus memuja-muja sebuah lembaga bernama universitas.

Justru dalam arena ilmu, juga laboratorium maupun di lapangan riset, banyak sekali hal yang menyesatkan. Bukan semata karena lemahnya keterampilan, cerobohnya penggunaan metode, kurangnya supervisi, tak memadainya ruang penelitian, tapi juga karena struktur kekuasaan yang distorsif dalam dunia ilmu, termasuk universitas.

Kekuasaan dan kapitalisme

Dari persoalan yang paling sepele kita dapat melihat kekuasaan dan kapitalisme tumbuh subur dalam tembok universitas. Nama-nama kampus lebih diidentikkan dengan penguasa, raja dan kebesaran suatu kaum.

Bahkan nama Universitas Sebelas Maret (UNS) sendiri, tempat di mana GM menyampaikan ceramahnya itu, adalah sebuah warisan yang kental beraroma Orde Baru.

Nama-nama dan warisan penguasa itu tidak saja mengekalkan ilmajinasi tentang kekuasaan, namun juga mengkonstruksi kebekuan pola pikir dan cara pandang ilmiah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X