5 Inovasi Pendidikan Tinggi untuk Hasilkan Lulusan di Industri 4.0

Kompas.com - 19/01/2019, 07:00 WIB
Ilustrasi milenialFREEPIK Ilustrasi milenial

KOMPAS.com - Menjelang KTT G7 di Montreal, The Montreal AI Ethics Institute melakukan Survei terhadap 400 orang tentang topik "Peluang Kerja Masa Depan".  

Survei ini berangkat dari hasil laporan "Future of Jobs dari"  World Economic Forum ( WEF) yang memperkirakan 75 juta pekerjaan di seluruh dunia akan diambil alih oleh otomasi pada tahun 2022.

Di saat yang sama 133 juta pekerjaan baru juga akan muncul ke ekonomi global, tetapi dalam banyak kasus, para orang akan kehilangan pekerjaan kerena tidak memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk mengisi posisi baru tersebut.

Oleh karena itu, The Montreal AI Ethics Institute  memberikan 5 rekomendasi untuk mendesain ulang pendidikan tinggi untuk bisa menghasilkan lulusan yang siap kerja menghadapi revolusi industri 4.0.

Kelima inovasi pendidikan tinggi tersebut yakni:

1. Fokuskan waktu kuliah

Standar kelulusan gelar 4 tahun tradisional secara luas masih dianggap sebagai persyaratan standar untuk kesuksesan karir. Namun dalam berbagai bidang, pendidikan tinggi 4 tahun sering memaksa mahasiswa banyak mempelajari subyek kuliah yang tidak berguna.

Baca juga: Kompetisi Kian Sengit, Ini yang Perlu Dilakukan Pendidikan Tinggi

 

The Montreal AI Ethics Institute merekomendasikan agar pendidikan tinggi dapat fokus pada pembelajaran kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja sehingga lulusan dapat lulus dalam 2 atau 3 tahun dan tidak menghabiskan waktu mereka. 

 

2. Pangkas sistem kredit

Sistem kredit akademik di atas kertas dianggap tidak memberikan banyak pengarih kesiapan kerja yang sebenarnya. Oleh karena itu, lembaga ini mendorong untuk meningkatkan kualifikasi lulusan dengan cara lain, seperti melalui pembelajaran online, program sertifikasi , pengajaran mandiri dan kewirausahaan. .

Sekitar 42 pendidikan tinggi di Paris dan San Francisco mendesain ulang pendidikan tinggi mereka tanpa sistem kredit. Bahkan beberapa sekolah teknik mereka tidak memiliki profesor atau kelas. Siswa bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri dan membuat proyek mereka dinilai oleh rekan-rekan mereka.

3. Kerja sama industri

The Montreal AI Ethics Institute meihat ketika lembaga pendidikan tinggi bermitra dengan industri, semua orang mendapat manfaat. Siswa mendapatkan peningkatan akses ke mentor dan magang, sekolah meningkatkan relevansi kurikulum, dan perusahaan mendapatkan tenaga kerja sesuai kebutuhan mereka.

Hyland, sebuah perusahaan perangkat lunak berbasis di Ohio, bermitra dengan lembaga pendidikan tinggi setempat. Dengan mengajar, menjadi dosen tamu, mensponsori proyek tim dan memberikan bimbingan, ini menjadi win-win bagi siswa dan perusahaan.

Hubungan yang lebih kuat berarti hasil yang lebih baik bagi siswa dan jalur perekrutan untuk perusahaan.

4. Pembelajaran berbasis proyek

Karier modern membutuhkan kreativitas, pemikiran kritis, keterampilan interpersonal, keterampilan komunikasi, dan negosiasi. Salah satu cara mengintegrasikan keterampilan dunia nyata ini ke dalam kampus adalah melalui pembelajaran berbasis proyek.

Dengan meminta siswa merencanakan, merancang, dan melaksanakan proyek mereka sendiri, mereka belajar berfungsi sebagaimana adanya di pasar kerja yang terus berkembang.

Berbasis di San Francisco, Make School adalah gelar sarjana dua tahun pertama dalam ilmu komputer terapan. Siswa diperlakukan seperti pengembang junior dan terlibat dalam pembelajaran berbasis proyek dengan kurikulum yang memadukan seni liberal, ilmu komputer, dan pengembangan karakter.




Close Ads X