Paradigma Peningkatan Kompetensi Guru Berbasis Proses Pembelajaran

Kompas.com - 10/02/2019, 19:27 WIB
Direktur Jenderal (Ditjen) GTK Supriano dalam acara Innovative School Programme yang digelar Jakarta Intercultural School (JIS) di Jakarta (9/2/2019).Dok. Kompas.com Direktur Jenderal (Ditjen) GTK Supriano dalam acara Innovative School Programme yang digelar Jakarta Intercultural School (JIS) di Jakarta (9/2/2019).

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud terus berupaya perbaikan kualitas pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru.

Untuk itu, dibutuhkan terobosan dalam melakukan peningkatan guru termasuk dalam mengubah paradigma peningkatan kompetensi guru dari semula berbasis konten kini menjadi berbasis proses pembelajaran (learning process).

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal (Ditjen) GTK Supriano kepada Kompas.com dalam acara "Innovative School Programme" yang digelar Jakarta Intercultural School (JIS) di Jakarta (9/2/2019).

Berbasis 'learning process'

"Kami telah memetakan masalahnya. Dan ternyata masalahnya bukan terletak pada kompetensi guru dalam menguasai konten pembelajar melainkan pada kompetensi guru untuk menguasai proses pembelajaran atau pedagogi dengan baik," kata Supriano.

Baca juga: RNPK 2019 dan Upaya Menjadikan Guru sebagai Ibu dari Pendidikan

Ia menjelaskan, "Kalau lulusan S1 matematika mengajar matematika untuk SD atau SMP ilmunya pasti sudah lebih. Kalau lulusan S1 biologi atau fisika menjadi guru di SMA mengajar bilologi atau fisika ilmunya sudah lebih. Yang jadi masalah adalah soal pedagogi atau proses mengajar di kelas."

"Kalau pembelajaran bagus maka mutu pendidikan akan meningkat dengan sendirinya," tegas Ditjen GTK.

Terkait hal itu, Supriano menjelaskan akan merubah porsi pelatihan guru. "Kalau dulu porsinya 70 persen pembahasan konten dan 30 persen pedagogi maka nanti ke depan akan diubah menjadi 70 persen untuk peningkatan kompetensi learning process dan 30 persen untuk konten," ujarnya

Merubah porsi pelatihan guru

Menurutnya, saat ini pemerintah sedang mengembangkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan pembelajaran sehingga mendorong siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, memiliki kemampuan komunikasi yan baik dan mampu berkolaborasi.

"Saat ini kita memiliki 3 juta guru. Kita tidak hanya menghadapi tantangan revolusi 4.0 tapi juga bagaimana menyiapkan Bonus demografi. Potensi 48 juta angkatan kerja aktif tahun 2045jika tidak dibekali pendidikan  baik maka akan menjadi beban," ujarnya.

Sebaliknya, jika modal sumber daya manusia yang besar tersebut disiapkan dengan baik akan menjadi asset.

Ditjen GTK menyampaikan, menyiapkan guru profesional dan berkompeten akan menjadi salah satu pokok bahasan dalam Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019 yang diadakan Kemendikbud 1-14 Februari 2019, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pegawai Kemendikbud, Bojongsari, Depok, Jawa Barat.

Guru, "Ibu dari Pendidikan"

Sebelumnya (8/2/2019), Ketua Steering Committee RNPK 2019 Ananto Kusuma Seta menyampaikan RNPK akan mengangkat setidaknya 4 pokok bahasan terkait peningkatan kualitas guru tanah air.

Forum terbesar bidang pendidikan dan kebudayaan akan membahas, yakni: (1) pengangkatan dan redistribusi guru (2) meningkatkan profesionalitas guru dan (3) sistem remunerasi/penghargaan guru.

"Karena itu dalam diskusi ke depan, banyak hal penting harus dselesaikan dalam urusan guru Misalnya, bagaimana proses redistribusi guru, yang saat ini masih menumpuk di satu tempat tetapi kekurangan di tempat lain. Bagaimana meningkatkan profesionalisme guru dan bagaimana system reward atau tunjangan remunerasi guru berbasis pada kinerja bukan pada absen," jelas Ananta.

"Kita ke depan menginginkan ke depan guru dapat menjadi 'Ibu dari Pendidikan'," harapnya.




Close Ads X