Mendorong Ilmuwan Diaspora Menjadi Agen Perubahan

Kompas.com - 27/03/2019, 10:49 WIB
Acara peluncuran buku Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia diadakan di Jakarta (26/3/2019). Dok. Kompas.comAcara peluncuran buku Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia diadakan di Jakarta (26/3/2019).

KOMPAS.com - Ilmuwan diaspora diharapkan mampu menjadi penghubung dalam transfer keilmuan di pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia dan mengembangkannya agar memberi dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.  

Hal ini menjadi pokok bahasan utama dalam acara peluncuran buku "Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia" yang diadakan di Jakarta (26/3/2019).
 
Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara utama yakni Prof John Hendri (Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti), Prof Deden Rukmana (Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional), Alan Koropitan (Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia) dan Elisabeth Dewi (Kepala Parahyangan Center for International Studies/PACIS).
 
Agen perubahan
 
Dalam paparan awalnya, Prof Deden menyampaikan peran penting ilmuwan diaspora sebagai penghubung keilmuan antara pusat-pusat keilmuan di berbagai negara maju dengan keilmuan yang ada di tanah air.
 
 
"Kita tidak mungkin bermain di 'core' bila tidak memiliki jaringan. Di sinilah peran ilmuwan diaspora menjadi connector transfer pengetahuan," ujar Prof Deden.
 
Lebih jauh ia menjelaskan strategi ini telah dilakukan Korea, India, China dan Vietnam dalam mengembangkan riset dan penelitian. "Korea mengejar ketertinggalan salah satunya dengan mengirim banyak ilmuwan untuk belajar di pusat-pusat teknologi dunia," tambah Prof Deden.
 
"Kita perlu terus meningkatkan riset dan penelitian bekerjasama dengan ilmuwan yang ada di tanah air sehingga ilmuwan diaspora turut mengambil peran sebagai agen perubahan," tegas Prof Deden. 
 
Kolaborasi ilmuwan
 
Hal senada juga disampaikan Alan Koropitan selaku editor buku "Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia".
 
"Saat ini sudah tidak ada lagi dikotomi ilmuwan dalam dan luar negeri. Sudah bukan saatnya lagi kita takut pemikiran-pemikiran yang ada di tanah air 'lari' ke luar negeri," tegas Alan.
 
Menurutnya, saat ini sudah merupakan era 'brain circulation' di mana banyak terjadi pertukaran dan kolaborasi pengetahuan. "Fisik bisa berada di luar negeri namun pemikiran-pemikiran tetap 'kembali' untuk membangun bangsa," jelas Alan.
 
Ia menambahkan, "Saya optimis karena begitu besar SDM yang dimiliki anak bangsa di luar negeri dan apa yang sudah dirintis selama ini buahnya sudah mulai kelihatan."
 

Berdampak masyarakat

Acara peluncuran buku Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia diadakan di Jakarta (26/3/2019).Dok. Kompas.com Acara peluncuran buku Kontribusi Ilmuwan Diaspora Dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia diadakan di Jakarta (26/3/2019).

Dalam kesempatan sama, Kepala Parahyangan Center for International Studies (PACIS) Elisabeth Dewi mendorong agar hasil penelitian dan riset mampu memberi dampak kepada 'akar rumput' atau masyarakat.

Ia mendorong ilmuwan diaspora untuk melakukan kerjasama dengan lembaga riset pendidikan tinggi. "Mengapa lembaga riset pendidikan tinggi? Karena lembaga riset pendidikan tinggi mengemban tanggungjawab tri dharma perguruan tinggi meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat," jelas Elisabeth.

Elisabeth juga menyampaikan pentingnya membangun 'link and match' dengan dunia industri sebagai salah satu pilar penting selain pendidikan tinggi dan riset. "Buku ini menunjukan bahwa ada banyak kearifan lokal yang dapat diolah dalam memunculkan keunggulan komparatif guna  meningkatkan daya saing," lanjutnya.

Mediator dan regulasi

Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti John Henri menyampaikan pihaknya memberi dukungan kepada para ilmuwan diaspora dalam untuk memberikan kontribusi bagi bangsa.

"Kami memberi dukungan sebagai mediator, diantaranya melalui Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) sebagai wadah para diaspora untuk memberikan sumbangsihnya pada tanah air," ujarnya.

Selain sebagai mediator, Kemenristekdikti juga mempermudah dari sisi regulasi bagi ilmuwan diaspora yang ingin mengabdi di tanah air. John Hendri menegaskan pihaknya membuka pintu seluas-luasnya bagi ilmuwan diaspora yang ingin bekerja sebagai dosen maupun peneliti di Indonesia.

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X