Dinda Lisna Amilia
Praktisi Pendidikan

Pengajar di Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya

Pendidikan yang Membebaskan dalam Bingkai Film

Kompas.com - 02/05/2019, 17:31 WIB
Salah satu hasil inovasi siswa Sekolah Pelita Harapan (SPH) Applied Science Academy (ASA), dalam  Pameran Ilmiah SPH (15/4/2019). Dok.SPHSalah satu hasil inovasi siswa Sekolah Pelita Harapan (SPH) Applied Science Academy (ASA), dalam Pameran Ilmiah SPH (15/4/2019).

Di negara kita yang elok ini, anak kecil tak ubahnya seperti mahluk yang didoktrin bahwa matematika adalah pelajaran yang harus mereka kuasai, bahwa jurusan-jurusan saintek adalah jurusan yang harus mereka kejar nantinya.

Padahal, salah satu efek dari paksaan dalam pendidikan adalah bahwa hal itu menghancurkan orisinalitas dan minat intelektual.

Keinginan akan pengetahuan biasanya menjadi kewajaran bagi kaum muda, tetapi umumnya bisa menghancurkan fakta bahwa mereka diberikan lebih dari yang mereka inginkan atau dapat diasimilasi (Bertrand Russel: 1932).

Belajar memang menjadi kewajiban bagi seorang anak. Namun, orangtua atau sekolah sebaiknya tidak perlu menjadikan belajar sebagai beban. Apalagi untuk anak berkebutuhan khusus atau yang punya kepribadian unik.

Di negara-negara berkembang pada umumnya, pendidikan dirancang untuk pribadi ekstrover yang mudah mengungkapkan ekspresinya secara verbal.

Namun, untuk kepribadian introver, sekolah yang memaksa mereka mengeluarkan pendapat dan bersosialisasi malah akan menghancurkan inner peace seorang anak introver itu sendiri. Atau, misalnya, anak berkebutuhan khusus level ringan seperti disleksia.

Cerita tentang seorang anak disleksia yang struggle dalam proses belajar-mengajar dipaparkan dengan apik dalam film India berjudul "Tare Zameen Par" (Like Stars on Earth).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Film yang dibintangi dan disutradarai oleh Aamir Khan ini bercerita tentang seorang anak bernama Ishaan yang menderita disleksia, Ishaan ini juga bersekolah di sekolah umum.

Nahasnya, lingkungan keluarga dan sekolah tidak mengetahui Ishaan mempunyai disleksia.

Yang mereka tahu, Ishaan hanyalah anak bermasalah yang kurang pandai dan tidak bisa menangkap semua instruksi yang diberikan oleh para guru.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.