Pemerintah, Fokuslah ke Pendidikan SD dan Madrasah!

Kompas.com - 12/06/2019, 11:02 WIB
Menghadapi era abad ke-21, manusia Indonesia haruslah berasal dari murid SD/MI yang wajib tuntas dalam kedisiplinan berfikir berlandaskan dengan ketrampilan dasar matematika, sains dan membaca sehingga mampu bersikap rasional dalam kehidupan.KOMPAS.COM/M LATIEF Menghadapi era abad ke-21, manusia Indonesia haruslah berasal dari murid SD/MI yang wajib tuntas dalam kedisiplinan berfikir berlandaskan dengan ketrampilan dasar matematika, sains dan membaca sehingga mampu bersikap rasional dalam kehidupan.

KOMPAS.com - Pemerintah harus memfokuskan pendidikan Indonesia ke arah perbaikan mutu lulusan SD/MI ( Sekolah Dasar/Madrasah Iftidaiyah), jika ingin bangsa Indonesia benar benar menjadi bangsa dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ke-5 (lima) di 2030 dan keempat di 2050 serta menjadi bangsa dengan jutaan sarjana yang sujana.

Keharusan untuk fokus itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, pada masa itulah (2030 dan 2050), murid SD/MI saat ini adalah pewaris langsung negeri ini.

Studi Indonesia National Assement Program (INAP)-SD yang diluncurkan pada 2018 adalah sebuah survei komprehensif Pusat Penilaian Pendidikan ( Puspendik) Balitbang Kemdikbud dengan sasaran uji murid SD/MI kelas 4 (empat) dan hasilnya sangat menyedihkan meski tidak mengejutkan.

Survei itu mencatat, 77.13 persen lebih murid masih kurang dalam penguasaan matematika, sementara 73.61 persennya kurang dalam penguasaan sains, dan 46.83 persen lainnya kurang dalam penguasaan membaca (sumber: puspendik.kemdikbud.go.id/inap- sd/kategori).

Kita tahu, bahwa matematika, sains dan membaca adalah ilmu atau "alat" dasar yang diukur oleh PISA dan diklasifikasi dalam 6 level. Level 0 dan 1 dianggap paling dasar dan oleh Puspendik disebut "kurang".

Adapun level 2 sd 4 adalah level rerata yg umum dikuasai manusia pembelajar dan Puspendik menyebut dengan "cukup". Sedangkan level 5 dan 6 itu yang sekarang populer dengan level Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Sudah sangat jelas, bahwa di abad 21, ketika Indonesia ingin menjadi raksasa PDB ke 4 tersebut, keniscayaan tantangan yang dihadapi adalah Revolusi Industri 4.0, yakni ketika "big data" kawin dengan Internet dan kemajuan Teknologi Informatika. Amazon.com, Bukalapak, Traveloka, OVO adalah sebagian produknya. Membeli tiket KA hingga pesawat dan barang konsumsi untuk sebulan hanya dari depan layar gadget.

Indonesia juga akan niscaya menghadapi produk teknologi "nano" dengan teknologi sel punca, genom (inti sel genetik) di tubuh manusia yang bisa diedit dan hanya ditinggalkan yang baik-baik saja.

Manusia juga niscaya berhadapan dengan Teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang akan menggantikan jutaan jenis pekerjaan manusia dan tidak serewel manusia.

Alangkah naifnya jika semua keniscayaan tersebut otomatis mampu dihadapi hanya dengan kompetensi dasar serendah itu, apalagi akan sangat berat menaikkan kompetensi dasar tersebut ketika murid sudah memasuki jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, karena kompetensi dasar tersebut ibarat "kuda kuda" dan "pukulan dasar" dalam ilmu silat, akan sangat rapuh fondasinya ketika memasuki jenjang lanjut.

Ya, karena selama puluhan tahun pemerintah hanya memperhatikan angka partisipasi atau anak yang bersekolah, bukan mutu hasil belajar (Learning Outcome), maka pemerintah gagal mencapai target mutu lulusan SD/MI yang sedikitnya sesuai kurva normal potensi peserta didik dalam matematika, sains dan membaca.

Guru jenjang SD/MI dianggap berkasta paling rendah sehingga ada anggapan siapapun mampu mengajar jenjang ini, padahal di jenjang dasar inilah fondasi diletakkan, Jika ada yang salah, maka berakibat fatal pada jenjang berikutnya. KOMPAS.COM/M LATIEF Guru jenjang SD/MI dianggap berkasta paling rendah sehingga ada anggapan siapapun mampu mengajar jenjang ini, padahal di jenjang dasar inilah fondasi diletakkan, Jika ada yang salah, maka berakibat fatal pada jenjang berikutnya.
Berkarakter dan bernalar

Menghadapi era abad ke-21, manusia Indonesia haruslah berasal dari murid SD/MI yang wajib tuntas dalam kedisiplinan berfikir berlandaskan dengan ketrampilan dasar matematika, sains dan membaca sehingga mampu bersikap rasional dalam kehidupan.

Murid wajib pula tuntas memahami bahwa kehidupan di semua aspek kehidupan di dunia dan di Indonesia adalah beragam, melalui pembelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan serta sejarah dan ilmu sosial di lingkungan terdekatnya. Kedua fondasi yang oleh Howard Gardner (2011) disebut "Discipline Mind" dan "Respectful Mind" itu wajib dikembangkan sebelum mereka masuk ke jenjang berikutnya.

Halaman:


EditorLatief

Terkini Lainnya

Penembakan di Perayaan Juara Klub NBA Toronto Raptors, 2 Orang Terluka

Penembakan di Perayaan Juara Klub NBA Toronto Raptors, 2 Orang Terluka

Internasional
Bukti Pamungkas Prabowo-Sandi, Akankah Mengubah Hasil Pemilu?

Bukti Pamungkas Prabowo-Sandi, Akankah Mengubah Hasil Pemilu?

Nasional
Ketua DPP PDI-P Sebut Percepatan Kongres V Bukan karena Megawati Ingin Mundur

Ketua DPP PDI-P Sebut Percepatan Kongres V Bukan karena Megawati Ingin Mundur

Nasional
Penetapan Titik Koordinat Rumah Siswa Bikin Lama Verifikasi Berkas PPDB

Penetapan Titik Koordinat Rumah Siswa Bikin Lama Verifikasi Berkas PPDB

Megapolitan
Polisi Tahan Nakhoda dan ABK KM Nusa Kenari 02

Polisi Tahan Nakhoda dan ABK KM Nusa Kenari 02

Regional
Penolakan dan Kepercayaan Diri Tim Hukum 01 Jawab Tuduhan Kecurangan 02 di MK...

Penolakan dan Kepercayaan Diri Tim Hukum 01 Jawab Tuduhan Kecurangan 02 di MK...

Nasional
Sampah di TPA Cipayung Capai 1.000 Ton Per Hari, Pemkot Depok Ingin Percepat Pemindahan ke Lulut Nambo

Sampah di TPA Cipayung Capai 1.000 Ton Per Hari, Pemkot Depok Ingin Percepat Pemindahan ke Lulut Nambo

Megapolitan
Mantan Direktur Umum PD Parkir Makassar Raya Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Dana Parkir

Mantan Direktur Umum PD Parkir Makassar Raya Jadi Tersangka Dugaan Korupsi Dana Parkir

Regional
[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 5 Tahun Tewas Tertimpa Jendela | Mantan Presiden Mesir Meninggal

[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 5 Tahun Tewas Tertimpa Jendela | Mantan Presiden Mesir Meninggal

Internasional
MK Gelar Sidang Kedua Sengketa Hasil Pilpres pada Hari Ini

MK Gelar Sidang Kedua Sengketa Hasil Pilpres pada Hari Ini

Nasional
Jemaah Ahmadiya Lombok Timur Sudah Tak Bisa Kembali ke Kampung Halaman

Jemaah Ahmadiya Lombok Timur Sudah Tak Bisa Kembali ke Kampung Halaman

Regional
Warga di Probolinggo Tolak Pembangunan Gedung Kremasi

Warga di Probolinggo Tolak Pembangunan Gedung Kremasi

Regional
[POPULER MEGAPOLITAN]: Mantan Kapolda Mengaku Tak Tahu Apa Salahnya I Kivlan Akui Terima 4.000 Dollar Singapura untuk Aksi Supersemar I Penumpang Expander Korban Kecelakaan Cipali Satu Keluarga

[POPULER MEGAPOLITAN]: Mantan Kapolda Mengaku Tak Tahu Apa Salahnya I Kivlan Akui Terima 4.000 Dollar Singapura untuk Aksi Supersemar I Penumpang Expander Korban Kecelakaan Cipali Satu Keluarga

Megapolitan
Kejati Jatim Usut Dugaan Penyalahgunaan Aset Negara Triliunan Rupiah di Surabaya

Kejati Jatim Usut Dugaan Penyalahgunaan Aset Negara Triliunan Rupiah di Surabaya

Regional
Progres Pembangunan LRT Jabodebek Capai 62,6 Persen

Progres Pembangunan LRT Jabodebek Capai 62,6 Persen

Megapolitan

Close Ads X